
"Malu bertanya sesat di kamar!" Satu kalimat itu menjadi gerutuan dalam hati setelah menyadari salah arah kiblat.
Ia menatap Pelangi dengan wajah memerah.
"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau salah arah?" Malu kan jadinya! tambahnya lagi dalam hati.
"Tidak apa-apa kalau dalam keadaan tidak tahu, yang penting niatnya mustaqbilal kiblati. Lain kali Mas bisa menggunakan aplikasi kompas digital untuk melihat arah kiblat. Biar tidak keliru lagi."
Kening Awan berkerut bingung. Di zaman secanggih sekarang, ia bahkan tidak tahu ada aplikasi seperti itu. "Memang ada?"
"Ya banyak, Mas. Aku downloadkan, ya." Pelangi meraih ponsel milik Awan yang terletak di atas meja. Baru saja akan menekan tombol on, Awan sudah mencegahnya terlebih dahulu.
"Jangan diaktifkan dulu hapenya!"
Sorot mata penuh tanya dari Pelangi langsung tertuju kepada suaminya yang masih duduk di atas sajadah. "Memangnya kenapa, Mas?"
Awan tampak ragu menjawab. Sepenuh hati ia tak ingin lagi menyakiti Pelangi. Dan menyebut nama Priska di saat sedang berdua mungkin akan mengukir luka yang pernah ada. Tetapi bukankah menyembunyikan sesuatu dari Pelangi akan lebih menyakitinya? Mungkin jujur akan lebih baik.
Awan mendesahkan napas kasar sebelum berkata, "Priska terus menghubungi aku dengan menggunakan nomor baru. Kupikir lebih baik kalau aku ganti nomor dulu. Jadi aku matikan saja hapenya."
Benar tebakan Awan. Menyebut nama Priska seketika merubah raut wajah Pelangi. Wajah yang tadinya penuh semangat itu berubah murung. Pelangi bergerak turun, memilih memposisikan dirinya duduk di sisi sang suami dan menatap wajahnya dalam.
"Boleh aku tanya sesuatu? Tapi mungkin ini agak pribadi."
Anggukan kepala dipilih Awan sebagai jawaban.
"Mas pernah lama menjalin hubungan dengannya. Apa Mas masih ada perasaan lebih terhadapnya?" Pertanyaan Pelangi menciptakan keheningan selama beberapa saat.
Sangat wajar jika hatinya masih diselimuti keraguan. Dalam waktu yang terbilang sangat singkat sejak mengatakan hanya bisa mencintai Priska, Awan merubah segalanya dan memilih Pelangi.
Awan terdiam memikirkan kalimat yang tepat untuk diutarakan. "Tadinya aku pikir juga begitu. Tapi tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja aku merasa risih dengannya. Setiap bertemu dia, yang kuingat hanya kamu."
"Kenapa bisa begitu?"
Bahu Awan terangkat sebagai jawaban. Dirinya pun tak mengerti apa yang terjadi dengan hatinya, tetapi setiap kata yang terucap dari bibir Pelangi selalu menusuk ke lubuk hati terdalam. "Kamu pernah bilang besi ditusukkan ke kepala lebih baik dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram. Aku terus memikirkan kalimat itu."
Secepat cahaya kilat, Awan meraih jemari istrinya. "Demi Allah tidak terjadi apapun malam itu. Aku hanya mengantarnya pulang."
Pelangi meneliti wajah suaminya, seperti mencari tanda kebohongan di sana. Tetapi dengan menyebut nama Allah, sudah dapat meyakinkan hatinya akan kejujuran suaminya. "Aku percaya, Mas."
Awan tersenyum lega. "Oh, ya. Ada sesuatu yang membuatku penasaran. Saat memeriksa rekaman CCTV di rumah, aku menemukan sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Kamu selalu diam-diam masuk ke kamarku di malam hari dengan masih memakai mukenah. Duduk di tepi tempat tidur sambil mengelus kepalaku dan seperti membisikkan sesuatu saat aku tidur. Kamu bisikin apa?"
Semburat merah pun tak dapat disembunyikan oleh Pelangi. Dia yang selepas menjalankan ibadah shalat malam menyelinap masuk ke kamar saat suaminya tertidur lalu membisikkan sebuah doa. Dan doa adalah salah satu senjata yang digunakan Pelangi untuk meluluhkan kerasnya hati Awan.
"Aku hanya berdoa semoga Allah melembutkan hatimu," jawab Pelangi. Sebagaimana Allah melembutkan besi atas Nabi Daud," tambahnya dalam hati.
Dan Allah mengabulkannya. Kalau dulu aku melihatmu seperti sebuah batu sandungan, sekarang di mataku kamu seperti permata yang berharga. gumam Awan dalam batin.
Untuk beberapa saat, kebisuan kembali terjadi di antara mereka. Keduanya larut dalam saling tatapan yang menyiratkan perasaan masing-masing.
"Aku masih penasaran, Mas. Apa yang membuatmu akhirnya memilih aku?" Sebuah pertanyaan yang membuat Awan mengelus puncak kepala istrinya dan kemudian membenamkan kecupan di kening.
"Zidan pernah mengatakan sesuatu kepadaku. Dan dari perkataannya itu aku jadi memikirkan banyak hal, termasuk kamu."
"Memangnya Zidan pernah bilang apa?" tanya Pelangi penasaran. Adiknya itu memang selalu penuh dengan kejutan. Ia sangat bijak di usianya yang terbilang masih remaja, dan selalu dapat membuat orang merasa damai dengan ucapannya.
"Zidan bilang, sampai kapan pun pelangi tidak akan indah di mata orang yang buta warna. Sama seperti aku. Selama aku membutakan hatiku, maka aku tidak akan pernah bisa melihat bagaimana kamu."
Pelangi larut dalam rasa bahagia. Yang ia lakukan hanya menatap suaminya dengan senyuman.
"Ma fii qalbi ghairullah. Seseorang bisa berubah karena Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Seburuk-buruknya kemarin, bisa menjadi sebaik-baik hari ini."
****