Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Dia Pernah Apa?


"Ada apa ke sini, Zidan?" tanya Guntur seraya menepuk bahu pemuda itu.


"Mau ketemu Kak Awan, Kak. Maaf kalau ganggu di waktu kerja."


Sekilas Guntur melirik Awan dan Zidan bergantian, kemudian tersenyum. "Ah, tidak kok! Tempat ini akan selalu terbuka untuk kamu. Santai saja!"


"Terima kasih, Kak Guntur."


Guntur lalu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia menggeleng pelan seolah sedang frustrasi akibat dikejar oleh waktu. "Ya sudah, saya tinggal dulu, ya. Ada urusan penting di luar."


Awan dan Zidan mengangguk diiringi senyuman ramah. Menatap pria jangkung yang kemudian menjauh dari mereka.


Setelah kepergian Guntur, mereka beranjak menuju lift yang akan membawanya ke lantai tujuh tempat ruangan Awan berada. Sepanjang jalan, Awan terus menggerutu dalam hati dengan tingkah Guntur yang mendadak berubah dengan kehadiran Zidan.


"Kamu lihat kejadian tadi kan, Dek?" tanya Awan dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Lihat, Kak," jawab Zidan dengan pembawaannya yang tenang. Melalui mimik wajah Awan, ia tahu bahwa kakak iparnya itu sedang kesal.


"Menurut kamu bagaimana?"


"Ya tidak bagaimana-bagaimana, Kak. Yang merasa waras harus mengalah. Memang begitu, kan?"


Awan melirik Zidan dengan sudut mata yang berkerut. "Apa tidak salah teorinya, Dek? Kalau yang waras terus-terusan ngalah, lama-lama dunia bisa dikuasai orang gila!"


Untuk pertama kali, Awan menunjukkan sikap kesal secara nyata di hadapan Zidan, membuat pemuda itu terkekeh geli.


Kalau seperti ini, Kak Pelangi pasti berasa sedang menghadapi anak kecil.


“Oh ya, Kak Awan ada apa minta ketemu di sini?” tanya Zidan sesaat setelah memasuki ruangan kerja kakak iparnya. 


"Sebenarnya ada yang kakak mau tanyakan ke kamu."


Mereka duduk saling berhadapan di kursi. Awan lalu meraih pesawat telepon dan menghubungi seorang office boy kantor untuk meminta teh hangat.


“Soal apa?” 


“Kakak kamu itu sukanya apa, ya?” 


Zidan menyembunyikan seringainya mendengar pertanyaan itu. Ia hampir tak percaya, sang kakak ipar yang sebenarnya adalah orang sibuk di kantor sengaja memintanya datang hanya untuk bertanya apa yang disukai kakaknya. 


"Ya malu lah." Apalagi setelah insiden kalung semalam, tambahnya dalam hati.


Zidan kembali mengulas senyum. “Kak Pelangi mah sukanya sama Kak Awan doang.” 


Kalau itu juga gue tahu, Dan! 


"Kak Pelangi itu suka tanaman hias, suka mawar putih, dan suka puncak. Kalau Kak Awan ada waktu, bisa ajak Kak Pelangi ke puncak berdua. Pasti Kak Pelangi senang."


Senyum senang terlihat di wajah Awan. Tiba-tiba terbesit ide di benaknya untuk membawa Pelangi bepergian berdua. Sejak menikah, mereka memang belum sempat berbulan madu.


"Makasih, Dek!"


"Jadi Kak Awan minta aku ke sini cuma buat tanya Kak Pelangi suka apa?"


"Bukan juga sih." Raut wajah Awan pun berubah serius setelahnya. "Kamu sudah bicara sama ayah tentang insiden kemarin?"


"Sudah, Kak. Ayah sudah bicara dengan orang tua Kak Guntur. Dalam waktu dekat, mereka akan kemari." Zidan melirik Awan yang tampak sedang terbebani sesuatu. "Memang kenapa, Kak? Apa Kak Guntur melakukan sesuatu lagi?"


"Tidak sih," jawabnya.


"Sabar ya, Kak. Insyaa Allah ada jalan keluar. Menghadapi Kak Guntur tidak boleh dengan kekerasan."


Awan mengangguk mengerti. "Memang sejak kapan dia jadi penderita OCD?"


"Sudah lama sih, Kak. Sebelum pindah ke Malaysia. Baru ketahuan setelah Kak Guntur pernah ...." Ucapan Zidan menggantung. Ia tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Dia pernah apa?"


Zidan tak segera menjawab. Ia terdiam seraya menarik napas dalam-dalam. Wajahnya yang mendadak merah dapat dibaca Awan bahwa adik iparnya itu sedang menahan amarah.


Tapi apa? Awan sama sekali tak dapat menebaknya.


"Kamu kenapa, Dek? Memang si Bandar Korma pernah ngapain?"


Sambil menahan kemarahan, Zidan menjawab, "Dia pernah berusaha melecehkan Kak Pelangi."


............