Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Buat Di Tempat Lain


Arah jarum jam menunjuk angka sepuluh saat mobil yang dikemudikan Awan memasuki gerbang rumah. Meskipun pria itu tampak letih, namun usahanya terbayar lunas dengan berhasil membahagiakan sang istri. 


Perjuangan mengantri satu jam lebih pun tak sia-sia, karena setibanya di rumah, Pelangi langsung melahap sate daging ayam yang membuat Awan sempat menggerutu dalam hati. 


“Ternyata benar-benar enak. Tidak percuma ngantrinya lama,” ucap Pelangi yang begitu menikmati makannya.


“Ngantrinya berasa lagi ngantri minyak goreng tahu.” 


 Pelangi terkekeh seraya menatap Awan. “Memang Hubby pernah ikut mengantri minyak goreng?” Sebuah pertanyaan yang membuat Awan mendengus kesal.


“Tidak mau!” jawabnya secepat cahaya kilat. 


“Kenapa?” 


“Kamu tahu tidak, Karena ngantri minyak goreng ada sepasang suami istri yang tidak saling mengakui dan pura-pura tidak kenal di swalayan.”  


Pelangi tertawa lepas mendengar candaan sang suami yang terasa menggelitik perut.


"Jadi aku dikasih apa karena rela ngantri sate buat kamu?"


Pelangi tersipu malu setelah otaknya mampu menangkap maksud suaminya.


"Nanti saja di kamar," jawab Pelangi membuat Awan tersenyum senang.


Gue ngantri sate aja cuma sejam dikasih yang enak-enak, apa kabar bapak-bapak yang rela ngantri minyak seharian?


Dan, malam itu, sebagai wujud terima kasih atas perjuangan Awan untuk menyenangkannya, Pelangi memberi imbalan dengan memanjakan suaminya di ranjang. 


Keduanya terhanyut dalam arus kenikmatan dunia. Hanya kesunyian malam dan bulan yang bersinar terang menjadi saksi bisu dari kisah indah yang dilukiskan pasangan halal itu menuju pintu nirwana. 


“Hubby!” bisik Pelangi sesaat setelah  pergumulan panas mereka. 


“Hmm ...” Awan yang merasa tenaganya terkuras habis hanya menyahut dengan deheman. Ia terbaring dengan posisi membelakangi Pelangi selepas membersihkan tubuhnya.


“Besok aku mau ke butik, setelah itu ke pengajian. Apa boleh?” Jemari Pelangi bermain di atas permukaan kulit punggung suaminya yang dihiasi tato. 


Sejak menikah beberapa bulan lalu, Pelangi memang belum pernah lagi ikut pengajian. Ditambah kondisi Awan setelah mengalami kecelakaan, membuat Pelangi memilih fokus untuk merawatnya. Awan tahu Pelangi mungkin sangat merindukan kegiatan pengajian yang dulu rutin ia ikuti. 


“Tidak, kok. Pengajiannya cuma sampai sore. Aku akan pulang sebelum kamu ada di rumah.” 


“Oh, ya sudah,” ucapnya. “Tidur, yuk! Tenagaku sudah dikuras habis sama kamu.” 


Awan membalikkan tubuhnya. Menutup pembicaraan singkat itu dengan mengurung Pelangi dalam dekapannya. Melepas rasa lelah dan memasuki alam mimpi. 


..........


Pagi  harinya .... 


Awan yang tampak sudah rapi dengan kemeja dan celana bahan duduk di tepi pembaringan. Beberapa kali ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Hampir lima belas menit menunggu, namun Pelangi masih betah duduk di depan meja rias. 


“Berangkat sekarang, yuk! Aku ada rapat pagi ini.”  


Pelangi menoleh sejenak, lalu kembali menatap cermin sambil mengusap lehernya dengan spons bedak. “Sebentar, Hubby! Ini di leherku masih kelihatan merah-merahnya.” 


“Masa sih?” 


Awan melangkah mendekat dan meneliti bagian yang ditunjuk Pelangi. Bibirnya melengkung membentuk senyuman mendapati jejak-jejak cinta yang dia tinggalkan pada leher istrinya. Tidak pernah sebelumnya Awan membuat tanda seperti itu dalam bercinta, namun Pelangi yang semalam begitu menggoda membuatnya hilang kendali. 


“Tidak apa-apa. Lagian tidak kelihatan, kamu kan pakai kerudung panjang.” 


“Iya, sih.” 


Pelangi meletakkan kembali spons bedak ke tempatnya. Sementara Awan mendekatkan bibir pada daun telinga dan berbisik, “Lain kali aku akan buat di tempat yang tidak kelihatan.” 


Di saat pipi Pelangi bersemu merah, tanpa rasa bersalah Awan malah cekikikan sendiri sambil berjalan keluar kamar. Kepuasan terlihat jelas di balik senyum menawannya. 


...........