
“Assalamu’alaikum,” ucap Pelangi dengan pandangan menunduk, ia berdiri di tempatnya, seolah benar-benar menjaga jarak dari pria itu.
Guntur pun segera menoleh ke sumber suara. Saat melihat Pelangi berdiri tak begitu jauh darinya, ia menundukkan pandangan. "Wa’alaikumsalam."
"Maaf, Kak. Saya baru tahu kalau ternyata yang pesan mukenah dan baju koko ternyata Kakak."
"Iya. Sebagian untuk dibagikan ke karyawan muslim di Malaysia dan sebagian lagi untuk karyawan di sini."
"Alhamdulillah. Semoga berkah."
Pelangi memilih duduk di sofa ujung demi menjaga jarak dari Guntur. "April, boleh minta tolong dibuatkan minum?"
"Iya, Kak." April segera berjalan menuju dapur meninggalkan Guntur dan Pelangi di ruang tamu.
"Maaf, kalau kedatanganku mengganggu. Sebenarnya ada hal penting yang harus kubicarakan dengan kamu.”
“Kalau itu tentang urusan pekerjaan, silahkan.”
"Bukan, sebenarnya ini agak pribadi." Guntur menjeda ucapannya dengan helaan napas. "Ini tentang suami kamu."
Pelangi masih menunduk. Pertanyaan seketika memenuhi pikirannya. Ada apakah antara pria itu dengan suaminya?
“Ada apa dengan Mas Awan, Kak?”
Guntur menarik napas dalam. Terdiam beberapa saat sebelum berbicara.
“Pelangi, aku tahu tidak seharusnya aku ikut campur dalam urusan rumah tanggamu. Tapi apa kamu tahu siapa suami kamu?"
"Maksud Kak Guntur?"
"Ternyata suami kamu bekerja di perusahaanku. Dan aku mendapat informasi tentangnya dari beberapa orang terpercaya. Apa kamu tahu kalau dia seorang pemabuk?"
Pelangi tampak terkejut. Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.
"Selain itu dia juga sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi terus terang aku tidak rela kamu disakiti oleh siapapun, meskipun itu suami kamu sendiri.”
Rasanya seluruh tubuh Pelangi meremang mendengar ucapan Guntur. Aib suaminya yang ia sembunyikan dari semua orang ternyata telah diketahui oleh Guntur.
“Maaf, tapi apa maksud Kak Guntur menceritakan aib Mas Awan kepada saya? Apakah pantas bagi orang lain menceritakan aib seorang suami kepada istrinya?”
Napas Guntur seperti tertahan. Ia sadar tidak sepantasnya ikut campur dalam masalah rumah tangga Pelangi.
“Aku hanya tidak mau kamu sampai disakiti olehnya. Aku juga dengar dari anak-anak kantor kalau suami kamu itu pernah beberapa kali terlihat berdua dengan wanita lain."
Mata Pelangi terpejam demi menahan agar cairan bening yang terasa memenuhi bola matanya tidak sampai meleleh di pipi.
Tanpa mereka sadari, Awan sudah berdiri di balik dinding sejak beberapa menit lalu mendengarkan pembicaraan itu. Ingin langsung masuk, namun ditahannya. Ia memilih mendengarkan pembicaraan itu.
“Kak, Mas Awan hanyalah manusia biasa yang pernah khilaf.”
“Tapi dia sama sekali jauh dari kriteria seorang imam yang baik. Dia tidak pantas untuk kamu, Pelangi.”
“Lalu laki-laki seperti apa yang pantas?"
Guntur seketika terdiam.
"Yang tidak pantas di mata manusia, belum tentu tidak pantas di mata Allah. Saat ini suamiku sedang dalam perjalanan hijrahnya menuju cinta Allah, dan Insyaa Allah dia istiqamah.”
Seketika Guntur menundukkan pandangan. Segenap hatinya masih belum rela melepas Pelangi. Sementara Awan yang masih bersandar di dinding menarik napas dalam.
Ya Allah, betapa bersihnya hati istriku. Aku hampir saja membuang keberuntunganku dengan menolaknya.
“Tapi Pelangi ...” Baru saja mulut Guntur terbuka untuk mengucapkan sesuatu, sudah dipotong terlebih dahulu oleh Pelangi.
“Kalau urusan Kak Guntur sudah selesai, silahkan pulang dulu. Di sini hanya ada wanita, saya takut keberadaan Kak Guntur di sini akan menimbulkan fitnah.”
Senyum bahagia terukir di bibir Awan yang masih bersembunyi di balik dinding. Ia lantas memasuki ruang tamu. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Pelangi langsung menoleh ke arah pintu kaca. Senyumnya merekah saat bersitatap dengan suaminya. “Hubby!”
Bangkit dari duduknya, Pelangi menyambut kedatangan sang suami dengan mencium punggung tangannya, dan disambut Awan dengan kecupan lembut di kening.
Awan melirik Guntur sekilas. “Kamu ada tamu, Sayang?”
“Kak Guntur kemari untuk melihat pesanannya. Aku baru tahu ternyata orang yang pesan Mukenah dan baju koko untuk dibagikan ke karyawan kantornya itu Kak Guntur.”
Awan menganggukkan kepala, sama sekali tak terlihat terkejut. "Oh ...."
"Hubby sudah makan?"
"Sudah, Sayang. Kan tadi kamu buatin bekal."
“Ya sudah. Aku mau ke atas dulu. Mau shalat ashar. Hubby sudah shalat?”
“Sudah tadi di kantor.”
Sesak terasa menghimpit dada Guntur melihat Awan dan Pelangi yang begitu mesra. Terlebih mendengar panggilan manis yang disematkan Pelangi untuk suaminya.
Dasi yang melilit kerah kemejanya ia tarik dengan kasar.
...........