
Mobil milik Awan memasuki parkiran ruko butik milik Pelangi. Setelah mematikan mesin mobil, ia bersandar sejenak. Pekerjaan kantor hari ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Terlebih, Guntur menyerahkan urusan proyek sepenuhnya ke tangannya. Yang berarti tanggungjawab Awan semakin besar.
Begitu memasuki butik, ia terdiam di ambang pintu. Pelangi tampak sedang bercengkrama bersama seorang wanita yang sangat ia kenali.
Maryam?
Mendengar salam yang diucapkan suaminya, Pelangi pun menoleh ke arah pintu. Ia langsung menyambut kedatangan sang suami dengan mencium tangan.
"Maryam ada di sini?" tanyanya.
"Iya, Hubby. Kebetulan Maryam mampir untuk bertemu denganku."
Awan tersenyum. Tak lupa ia menyapa sahabat istrinya itu. "Apa kabar? Sudah baikan?"
Maryam mengangguk. "Alhamdulillah, Kak. Terima kasih," jawabnya. "Apa Mas Guntur masih di kantor?"
"Tadi sih sudah pulang. Dia tahu kamu di sini, kan?"
"Pagi tadi Mas Guntur yang antar ke sini kok."
Awan mengangguk mengerti.
Tak berselang lama, mobil milik Guntur pun tiba. Tetapi tak lekas turun dan tetap di mobil. Dan Maryam tahu apa yang terjadi pada suaminya. Guntur masih sangat malu untuk bertatap muka dengan Pelangi.
"Mau pulang sekarang?" tanya Awan kepada Pelangi.
"Hubby, apa boleh aku menemani Maryam?" tanya Pelangi. "Resepsi pernikahan Maryam dan Kak Guntur tinggal beberapa hari. Maryam meminta aku menemaninya ke bridal, setelah itu belanja beberapa keperluan."
"Boleh. Kita jalan berempat saja sekalian."
Sepertinya bukan ide buruk. Kebetulan Guntur pun membutuhkan saran dari seorang teman pria.
.
.
Sore ini dihabiskan mereka berempat. Pelangi menemani Maryam untuk fitting gaun pengantin yang akan digunakan pada resepsi nanti.
Sambil menunggu Guntur dan Maryam yang sedang memilih perhiasan, Pelangi melirik sebuah toko perlengkapan bayi yang berada tak jauh dari toko perhiasan.
"Kaos kakinya lucu, ya," ujar Pelangi dengan wajah berbinar dengan kaos kaki berwarna biru yang cukup unik.
"Kamu mau anak laki-laki, ya?"
"Sedikasihnya saja. Laki-laki atau perempuan kan sama saja. Yang penting lahir sehat dan sempurna."
"Aamiin." Awan turut menggenggam kaos kaki bayi berwarna pink. "Tapi aku suka yang pink ini. Lebih lucu. Kayaknya aku mau anak perempuan. Biar cantik kayak ibunya."
Pelangi tersipu malu.
"Beli ini aja yuk." Awan meraih keduanya. Meskipun belum tahu anaknya nanti laki-laki atau perempuan.
Keduanya pun antusias melihat-lihat perlengkapan bayi di toko tersebut. Tanpa mereka sadari, raut wajah Maryam berubah murung.
Maryam mengusap perutnya sendiri. Lalu mengembuskan napas panjang dan berat. Guntur yang mengerti dan paham pun menggenggam tangan itu. Lalu menatap mata Maryam yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Aku minta maaf. Kamu kehilangan satu kesempatan menjadi seorang ibu karena keegoisanku."
Maryam menyahut dengan anggukan. "Aku ikhlas. Hanya saja kadang masih sedih."
Tangan Guntur terangkat demi mengusap ujung mata Maryam yang basah. "Kita masih bisa usaha. Semoga kita masih punya kesempatan yang sama untuk menjadi orang tua."
Maryam kembali mengangguk.
"Kamu siapkan tenaga saja. Sisanya biar aku yang urus."
Maryam yang tadinya sedih jadi mengernyit heran karena merasa ada yang sumbang dengan perkataan Guntur barusan. Ia pun melepas genggaman dan menatap mata Guntur yang menyipit.
.
.