
“Assalamu’alaikum, Hunny!” Bisikan lembut itu menjadi sambutan pertama Pelangi.
Jika biasanya Pelangi yang membangunkan Awan, pagi ini Awanlah yang membangunkan Pelangi dari tidurnya dengan cara yang sama ketika Pelangi membangunkannya.
“Wa’alaikumsalam, Hubby!” balasnya dengan suara serak.
Awan duduk di tepi pembaringan dan membelai rambut istrinya. Ia kecup kening sang istri. “Ayah sama Zidan shalat di masjid. Kita shalatnya di kamar saja, ya.”
"Iya, Hubby." Awan tertawa kecil. Pelangi menjawab dengan mata yang masih tertutup rapat.
Awan beranjak keluar kamar untuk mensucikan diri. Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar dan mendapati Pelangi masih betah dalam balutan selimut.
"Pelangi ...."
Tangan Pelangi terangkat mengusap wajah sambil menguap kecil. Kelopak matanya terbuka secara perlahan. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah tampan suaminya. Tubuh kokoh itu sudah terbalut baju koko berwarna putih lengkap dengan sarung dan peci.
“Alhamdulillah.” Berulang-ulang kata itu terucap dalam hati Pelangi. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis kala menatap suaminya sedang menggelar sajadah di antara ruang kosong di kamar sempit mereka.
“Bangun, yuk! Wudhu dulu, Sayang.”
"Iya, tunggu sebentar." Pelangi langsung bangkit penuh semangat. Ini adalah awal hari yang sangat baik baginya. Semakin hari, Awan semakin menunjukkan kemajuan positif.
Berdiri di belakang Awan sebagai makmum, Pelangi merasakan damai yang tak terkira, hingga rasanya tak ingin saat ini berlalu dengan begitu cepat.
...........
Pagi harinya ....
Senyum bahagia mengembang dengan sempurna di wajah Ayah Ahmad setelah mendengar ucapan Awan yang meminta izin membawa Pelangi kembali ke rumah pribadi mereka. Begitu pun dengan Ibu Humairah, merupakan hal berat baginya melepas putri kesayangannya. Namun sebagai orang tua mereka hanya dapat mendukung keputusan anak-anaknya.
Ayah Ahmad bahkan juga dikejutkan dengan keinginan Awan yang akan kembali bekerja setelah tiga bulan cuti.
“Nak Awan sudah mau kembali bekerja? Tapi bagaimana dengan kakinya? Apa sudah membaik?” tanya Ayah Ahmad di sela-sela sarapan pagi.
“Insyaa Allah, Ayah. Saya merasa jauh lebih baik hari ini. Lagi pula kata dokter kakinya harus sering-sering dilatih berjalan.”
Ayah Ahmad mengangguk masih dengan senyum yang tak pernah memudar. “Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan Nak Awan, yang penting harus tetap hati-hati dan jangan dipaksakan.”
“Iya, Ayah.”
“Nak Awan, Pelangi, nanti harus sering-sering ke mari jenguk ayah sama ibu. Ibu sering kesepian kalau tidak ada Pelangi di rumah,” tambah Ibu Humairah.
“Insyaa Allah, Bu.” Pelangi tersenyum menatap sang ibu. Dirinya pun berat terpisah dengan kedua orang tuanya. Tetapi, kini yang menjadi prioritas utamanya adalah sang suami.
"Kenapa wajah kamu pucat, kamu sakit?" Bu Humairah menatap wajah Pelangi yang pagi itu terlihat sedikit memucat.
"Tidak apa-apa, Bu. Sepertinya hanya karena belakangan lagi banyak pekerjaan saja." Beberapa hari belakangan, Pelangi banyak menghabiskan waktu di butik miliknya. Pesanan sedang banyak, sedangkan jumlah karyawan terbatas. Alhasil, ia harus ikut turun tangan.
Jawaban Pelangi pun tidak serta merta memuaskan Ibu Humairah. Ia meneliti wajah putrinya yang tampak letih.
"Sudah periksa belum, Nak? Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanyanya dengan raut penuh harap.
Pelangi seketika menunduk malu, sedangkan Awan dan Zidan saling melempar lirikan.
Gimana mau hamil, Bu. Dicolek aja belum. batin Awan.
..........
Mobil milik Awan sudah terparkir dengan gagah di depan rumah dengan seorang sopir yang sudah menunggu. Pelangi menatap heran, sebab setahunya mobil tersebut masih dalam perbaikan setelah kerusakan berat akibat kecelakaan yang menimpa Awan tiga bulan lalu.
Mobil melaju membelah keramaian jalan, Awan memijat lengan Pelangi demi mengurangi rasa letih yang membelenggu tubuh wanita itu.
"Habis ini jangan terima banyak pesanan lagi, ya. Lihat kan, kamu jadi capek sendiri."
"Anggap saja ini berkah untuk anak-anak. Kalau banyak pesanan, penghasilan mereka lebih banyak juga."
"Memang pesanan dari mana sih sebanyak itu?"
"Aku juga tidak tahu. April bilang orang dari Malaysia."
Awan memutar bola mata dengan malas.
Kenapa gue malah ingatnya si Bandar Korma, ya?
Kesal setiap kali teringat Guntur, tanpa sadar Awan menekan lengan istrinya kuat-kuat, seolah sedang meremas tubuh rivalnya.
"Ah, sakit!" pekik Pelangi langsung mengusap lengannya.
Tersadar, Awan pun gelagapan. Ikut mengusap-usap lengan Pelangi dengan lembut. "Maaf, tidak sengaja. Sakit, ya?"
Pelangi mengangguk pasrah sebagai jawaban. Hingga beberapa saat kemudian, mobil terhenti di depan sebuah kawasan pertokoan.
“Habis ashar aku jemput, ya.”
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.” Pelangi mencium punggung tangan suaminya, sebelum akhirnya turun dari mobil dan memasuki sebuah ruko kecil berlantai dua. Sebuah ruko yang disewanya beberapa tahun belakangan untuk membuka butik pakaian muslimahnya.
...........
Awan disambut beberapa rekan kerjanya begitu tiba di kantor. Layaknya seorang karyawan baru, segalanya begitu asing baginya. Ada banyak perubahan di kantor, salah satunya ruang kerja pria dan wanita yang kini dipisahkan.
"Ger, tiga bulan tidak masuk kerja banyak perubahan, ya."
"Iya, sejak Dirut diganti minggu lalu," jawab Gery, salah seorang rekannya. "Ada banyak perubahan."
"Tidak apa-apa, selama perubahan masih mengarah ke hal positif."
"Kakimu bagaimana, Wan? Sudah mendingan?"
Awan mengulas senyum tipis. "Alhamdulillah, bisa jalan tanpa tongkat. Tapi masih sering kram kalau kelamaan berdiri."
"Selamat pagi, Semua." Suara tak asing yang menyapa itu membuat Awan menoleh.
Mendadak senyum di bibirnya meredup menatap pria berwajah Timur Tengah yang baru saja bergabung bersama mereka. Awan melirik Gery, dengan raut wajah penuh tanya.
"Itu Pak Guntur, bos baru kita. Baru kembali dari luar negeri."
Awan terkesiap, namun tak menunjukkan reaksi terkejut yang berlebihan. Begitu pun dengan Guntur saat menyadari keberadaan Awan di antara beberapa bawahannya.
Keduanya terdiam selama beberapa detik dengan saling tatap.
...........