Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Guntur Diselimuti Awan


Pelangi membersihkan tempat tidur yang berantakan dan mengganti seprai juga selimut, sementara Awan mengenakan pakaian.


"Sayang, kamu kenapa lemas begitu?" tanya Awan melihat Pelangi beberapa kali memijat tengkuk lehernya. Ia mendekat dan membelai puncak kepala sang istri dengan lembut. "Kamu sakit?"


"Tidak apa-apa. Badannya agak sakit."


"Aku pijat ya," tawarnya.


"Tidak usah. Hubby kan mau berangkat kerja, nanti kesiangan."


"Tidak apa-apa sekali-sekali. Ayo sini!" Awan membawa Pelangi untuk berbaring di tempat tidur dan mulai memijat beberapa bagian tubuhnya. "Begini sudah enak?"


Pelangi mengangguk. Beberapa bagian tubuhnya memang terasa sangat pegal, terutama bagian paha dan betis. Meski begitu, hatinya sedang berbunga-bunga karena telah menjadi seorang istri yang seutuhnya.


Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benaknya. Pandangan Pelangi pun berkeliling ke setiap sudut kamar seolah sedang mencari sesuatu.


"Kenapa?" tanya Awan dengan tangan masih bergerak naik turun di betis dan paha.


"Hubby, bukannya di kamar ini ada CCTV ya? Berarti kegiatan kita semalam terekam?"


Ingin rasanya Awan menyemburkan tawa menatap wajah polos Pelangi saat bertanya. "Iya, benar. Habis ini aku mau lihat rekamannya, ah. Kamu pasti kelihatan sangat seksi."


Tanpa dapat dikendalikan, semburat merah mulai menjalar di wajah Pelangi.


Bibir Awan pun terkatup rapat demi menahan tawa. "Aku juga mau lihat bagaimana kamu berubah menjadi kucing dan mencakar punggungku."


"Jangan, aku malu! Kenapa CCTVnya tidak dimatikan dulu? Atau sekalian dilepas saja."


"Tidak apa-apa, kan cuma kita yang lihat. Rekamannya juga tidak akan bocor ke orang lain."


Semakin merah saja pipi Pelangi. Jika ia pikir cubitan keras yang dilayangkan ke pinggang Awan akan menghentikan kejahilan suaminya itu, maka salah besar. Karena reaksi malu-malu Pelangi justru sangat lucu bagi Awan dan membuatnya terus ingin menggoda.


Pelangi menutup wajah merahnya dengan kedua telapak tangan. Tawa Awan pun pecah saat itu juga. "CCTV yang di kamar sudah dilepas, Sayang! Tidak ada lagi."


"Masa sih?" Pelang kembali meneliti setiap sudut kamar. Ia memang tak mendapati adanya kamera di sana.


"Iya, aku sudah minta orang melepas CCTV di kamar sebelum kita pulang."


Akhirnya Pelangi bernapas lega. Rona merah di pipinya berangsung-angsur mulai menghilang. "Memang kenapa dulu CCTV nya sampai dipasang di kamar?"


"Rumah ini pernah kemalingan, makanya aku sekalian pasang di kamar."


...........


Awan tiba di kantor bersamaan dengan Guntur yang juga baru saja memasuki lobi. Beberapa orang terlihat menyambut kedatangan sang bos dengan membungkukkan kepala tanda hormat.


Namun, tidak begitu dengan Awan. Hawa panas terasa merambat ketika dua tatapan saling bertemu. Aroma persaingan terasa begitu kental. Entah benar atau tidak, tetapi Awan merasa tatapan Guntur seperti ingin ******* habis dirinya.


Awan membuang pandangan ketika melihat Guntur berjalan ke arahnya dengan senyum kepalsuan. "Apa kabar Pak Awan, bagaimana kondisinya hari ini?"


"Sudah lebih baik, Pak, terima kasih," sahutnya berusaha ramah.


Awan menatapnya dingin.


Gue tendang juga ke habitatnya. Pulang sono tanam korma!


Awan membuang napas kasar. Tak ingin menanggapi sindiran pedas Guntur, ia memilih diam.


...........


Awan bergegas menuju ruang rapat. Siang ini akan ada rapat yang akan membahas tentang perencanaan pembangunan sebuah perumahan untuk rakyat kecil dan Awan lagi-lagi ditunjuk sebagai pimpinan proyek.


Begitu memasuki ruangan, semua anggota rapat sudah duduk di tempat masing-masing. Beberapa saat kemudian, Guntur memasuki ruangan. Mereka langsung berdiri begitu menyambutnya.


“Selamat pagi semua,” sapa Guntur dengan suaranya yang menggelegar. Tampak sangat berkuasa.


“Selamat pagi, Pak,” jawab mereka bersamaan.


Rapat pun dimulai, Guntur membuka rapat dengan sambutan yang mengagumkan.


Sebagai pimpinan proyek, Awan pun membuka presentasi dengan menjelaskan perencanaan desain bangunan dan juga perencanaan anggaran.


Guntur cukup terkesan dengan Awan. Benar kata Pak Muis bahwa Awan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan dan kinerjanya tidak perlu diragukan lagi, terlepas dari kepribadiannya yang kurang baik.


Guntur membuka suara setelahnya.


"Saya cukup terkesan dengan perencanaan yang dibuat Pak Awan. Tapi saya rasa anggarannya terlalu tinggi. Dan ini sangat tidak sebanding dengan harga penjualan per-unitnya."


Awan tersenyum. "Pak Guntur, kembali kepada visi dan misi perusahaan, yaitu membangun kebahagiaan untuk keluarga," ucap Awan menekan. "Yang kita jual adalah hunian, di mana mereka berharap mendapat perlindungan dan kenyamanan. Menekan harga bukan berarti kita rugi, kita tetap untung tanpa harus mencekik."


Pak Muis, asisten Guntur, mengangguk tanda mengerti, begitupun dengan beberapa orang lainnya.


"Saya tahu, tapi dengan keuntungan sekecil itu, apa bisa perusahaan ini menjadi perusahaan yang berkembang?"


Lo ngeremehin kinerja gue? gerutu Awan dalam batin.


Meskipun kesal, namun Awan berusaha menahan diri. "Seperti yang Pak Guntur lihat pada grafik perusahaan beberapa tahun belakangan, kita berkembang pesat di antara ketatnya persaingan."


Tak terima dengan ucapan Awan yang seperti pukulan telak, Guntur menarik napas dalam. "Saya tetap ragu dengan anggaran. Ada banyak penyedia bahan dengan harga di bawah, bukan?"


Pelit amat lo, nggak takut apa kuburannya sempit?


"Kita memang bisa menggunakan bahan dengan harga rendah, Pak. Tapi bagaimana dengan kualitasnya?" tanya Awan.


Guntur seketika membungkam.


"Kalau misal Pak Guntur yang jadi pembeli, apa Bapak mau tinggal di rumah ini?"


...........