
Mobil memasuki kawasan bandara. Awan memarkir mobil, lalu menghubungi nomor telepon adik sepupunya. Namun, setelah beberapa kali mencoba, tidak juga tersambung.
"Ini bocah ke mana sih? Minta dijemput tapi nomornya tidak aktif," gerutunya dalam hati.
"Ada apa, Kak?" tanya Zidan setelah mendapati raut wajah sang kakak ipar yang sedikit frustrasi.
"Nomornya si Tania tidak aktif, Dan." Awan berdecak sembari melirik ke arah lautan manusia yang baru saja keluar dari gedung besar itu. Ada yang menyeret koper, dan ada pula yang mendorong troli dengan setumpukan barang.
"Kita cari ke sana aja, yuk!" ucapnya kemudian.
Awan dan Zidan segera turun dari mobil, lalu bergegas menuju lobi dan menerobos lautan manusia untuk mencari sosok Tania.
Selama beberapa saat Awan dan Zidan menunggu. Beberapa kali pula Awan mencoba menghubungi nomor telepon gadis itu, namun tetap tidak tersambung.
"Jangan-jangan si Tania ngerjain ini," ucap Awan mengingat betapa pecicilan dan iseng sepupunya itu.
"Tunggu aja dulu, Kak. Siapa tahu masih di dalam."
Zidan pun hanya dapat berdiri menemani Awan, ingin membantu mencari, namun tidak tahu seperti apa wujud sosok gadis bernama Tania itu.
"Kak Awan!" Suara panggilan penuh semangat itu membuat Awan terjingkat.
Keterkejutannya kian bertambah ketika sesosok gadis tiba-tiba menabrak tubuhnya dengan melingkarkan tangan. Awan sempat meneliti untuk meyakinkan bahwa gadis di hadapannya adalah benar saudara sepupunya, karena terakhir kali bertemu dua tahun lalu, ketika Tania masih berusia 16 tahun.
Sementara Zidan langsung beristighfar seraya membuang pandangan ke arah lain. Betapa tidak, sosok gadis yang baru saja datang tiba-tiba dan langsung memeluk Awan itu hanya menggunakan celana pendek dengan hoodie sebagai atasan. Dengan sebuah tas ransel berukuran kecil yang diyakini Zidan hanya muat ponsel, dompet dan kosmetik.
"Eh, Tania! Lepas! Bukan mahram!" pekik Awan sambil berusaha mendorong tangan gadis yang kira-kira berusia tak jauh dari Zidan itu.
Tania mundur beberapa langkah ketika Awan mendorongnya dengan cepat. Tetapi bukannya meminta maaf, gadis itu malah cengengesan.
"Mentang-mentang udah nikah, sekarang kalau ketemu nggak boleh pegang. Jahat amat!" protesnya dengan bibir mengerucut.
"Dosa tahu! Jauh-jauh sana!" ucap Awan yang mendadak tidak enak hati dengan Zidan yang memilih membuang pandangannya.
"Ya maaf, khilaf." Gadis yang terbilang masih sangat muda itu lantas melirik seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari Awan. Ia menatap penuh tanya. "Ini siapa, Kak Awan?"
"Adek ipar!" sambar Awan.
Tangan Tania terpaksa harus menggantung di udara, karena Zidan memilih mengatupkan tangan di depan dada sebagai bentuk salam. Zidan bahkan enggan menatap gadis itu.
"Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Wa'alaikumsalam," balas Tania dengan segera menarik tangannya. Tetapi tatapannya tak lepas dari wajah tampan bercahaya di hadapannya.
Membuat Zidan merasa tak nyaman.
...........
"Kamu ngapain kabur dari rumah segala?" tanya Awan mulai melajukan mobil meninggalkan bandara.
Tania yang duduk di kursi belakang menyandarkan punggung sambil memeluk sebuah boneka bantal milik Pelangi. "Mama mau jodohin aku sama orang yang nggak ku suka, Kak."
"Terima aja kenapa? Jodoh pilihan orang tua itu kadang yang terbaik loh."
"Nggak mau! Mau cari jodoh yang baik."
"Kamu mau dapat jodoh yang baik tapi kamu sendiri kelakuannya begitu. Masa keluar rumah pakai celana pendek, ngumbar aurat ke mana-mana." Ucapan Awan pun membuat gadis belia itu menunduk malu.
Dulu Awan tidak pernah mempermasalahkan penampilannya, namun kini seakan kakak sepupunya itu tak begitu menyukai penampilan terbukanya.
"Ya mau gimana lagi, dari sononya begini."
"Tania ... Kalau kelakuan kamu begini, semua cowok baik-baik bakalan nyingkir," ujarnya panjang lebar. "Memang laki-laki yang dijodohkan sama kamu seperti apa sih?"
"Kelakuannya minus. Suka balapan liar, suka memberontak sama orang tua. Udah gitu sering mabuk-mabukan lagi."
Kala Zidan mengatupkan bibir setelah membaca reaksi sang kakak ipar, Awan pun bereaksi cepat dengan mendengus kesal.
"Lo nyindirnya pas bener, Tan!" sambarnya dengan cepat.
...........