Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Extra Part - Dijodohkan Dengan Pria Brutal


Tania belum dapat menyembunyikan rona merah di pipinya setelah kedapatan membicarakan Zidan. Sekarang ia memilih membenamkan wajahnya di punggung Pelangi.


"Sejak kapan dia di situ? Kan malu."


"Ini pesanan Kak Pelangi." Zidan membawa masuk kantongan belanjaan yang tadi dipesan Pelangi. Swalayan tempat Zidan bekerja memang menyediakan layanan belanja dari rumah, agar memudahkan para konsumen yang tidak sempat keluar rumah untuk berbelanja.


"Terima kasih, Dek. Maaf, kakak merepotkan kamu," ujar Pelangi dengan senyum. Sambil meraih kantongan belanjaan dari tangan Zidan.


"Tidak apa-apa, Kak."


Tania yang masih berada di balik punggung Pelangi menatap kagum kakak beradik itu. Tak hanya lembut, keduanya tampak akur dan saling menyayangi.


Wah keren banget Kak Pelangi sama adeknya. Aku sama Kak Awan boro-boro akur gitu.


.


.


Setelah berbincang hangat dengan Tania, Pelangi bergegas menuju ke dapur. Rencananya ia akan belajar memasak dengan ibu mertuanya lagi.


Saat Bu Sofie dan Pelangi sedang memasak, Tania melirik Awan yang sedang menatap layar laptop. Ia dekati sepupunya itu lalu duduk tepat di sebelah.


"Kenapa, Tan?"


"Sibuk nggak?"


"Kelihatanya gimana?"


"Ish, Kak Awan mah sok sibuk."


Awan berdecak. "Kenapa sih deket-deket? Mau bilang apa?"


Tania mencebik. Sambil memeluk erat bantal sofa. "Tadi aku bertemu Kak Zidan. Dia kerja di swalayan ternyata."


"Terus?" Awan sama sekali tidak melihat Tania dan tetap menatap layar laptop mengecek beberapa email.


"Dia nyebelin, masa aku dicuekin. Lebih parahnya kayak ilfil nggak mau liat. Heran, padahal aku ini kan cantik."


Awan hanya terkekeh mendengar ucapan Tania. Membuat Tania menyerangnya dengan bantalan kursi.


"Jangan ketawa nggak lucu!"


"Kamu kepedean." Pelan, Awan hentikan tawa lalu menatap Tania yang cemberut. "Zidan kalau lihat kamu pasti takut, Tania."


Refleks Tania memindai diri sendiri, dan rasanya tidak ada yang aneh. "Perasaan nggak ada yang aneh."


"Memang nggak aneh buat sebagian orang. Tapi pandangan semua orang kan nggak sama."


"Bisa jelasin nggak?"


Awan kembali tertawa sambil menatap layar laptop..


"Ketawa sekali lagi aku tabok," ancam gadis itu dengan bibir mengerucut.


Tak ayal tawa Awan sirna. Tatapannya sekarang serius. Setelah itu tatapannya mengarah kepada Pelangi yang sedang sibuk berlalu lalang dari kitchen set ke meja makan.


"Tania ... kamu itu anak perempuan. Harus bisa menjaga pandangan dari lawan jenis."


"Bukannya harus menarik pandangan lawan jenis ya?"


Tania merenggut kesal. "Maksudnya gimana sih?"


"Zidan tidak mau menatap kamu karena menghormati. Laki-laki di luar sana pasti senang melihat kamu berpakaian terbuka, tapi laki-laki yang baik akan menjaga untuk tidak menatap kamu."


"Gitu ya?"


"Coba lihat Pelangi. Dia menjaga hartanya dengan baik."


"Kak Pelangi?" Dahi Tania makin mengerut. Cukup lama ia menatap Pelangi. Cantik memang dengan balutan gamis. Hanya saja ....


Tania menelan ludah, Menatap Awan dan Pelangi bergantian.


"Berat, Kak," oceh Tania sembari menepuk jidat. "Apa nggak gerah berpakaian seperti itu?"


"Gerahnya dunia itu belum ada apa-apanya dibanding di neraka, Tan."


Penjelasan Awan malah membuat Tania merinding bukan main.


"Siapa juga yang mau masuk neraka." Sambil melangkah pergi meninggalkan Awan.


.


.


.


Malam ini Awan dan Pelangi menginap di rumah orang tuanya.


Pelangi terbangun di malam hari. Tenggorokannya terasa kering. Ia melirik nakas, sayangnya Pelangi lupa membawa air sebelum ke kamar.


Tak ingin mengganggu Awan, ia pun berjalan sendiri menuju dapur. Langkahnya terhenti saat melewati ruang tengah. Samar-samar ia dapat mendengar suara sesegukan. Pelangi yang penasaran pun mendekati sumber suara dan mendapati Tania sedang menangis pilu.


"Kamu kenapa, Dek?" Pelangi mendekati Tania yang meringkuk di sudut ruangan. Membujuknya duduk di sofa. Keduanya saling tatap dalam remang-remang lampu yang beberapa telah dimatikan.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Sambil membelai rambut panjang yang terurai acak-acakan.


Tania menggeleng perlahan. Lalu mengusap jejak air matanya dan menatap lekat Pelangi.


"Aku kesal sama orang tuaku."


"Kesal kenapa?"


"Mereka maksa buat jodohin aku sama cowok yang brutal dan suka mabuk-mabukan. Apa bagusnya laki-laki seperti itu? Aku gak sanggup kalau harus nikah sama orang kayak begitu."


Isak tangis Tania makin terdengar memilukan dan itu buat Pelangi ikut merasakan. Ia yakin Tania sedang frustrasi saat ini. Direngkuhnya pundak Tania lantas merebahkan ke dada, lalu mengusap pelan berkali-kali.


Melihat Tania yang nelangsa begini membuatnya mengingat masa lalu. Dulu, Awan juga begitu saat pertama menikah suaminya itu sering pulang dengan kondisi mabuk.


"Kak Pelangi boleh aku tanya sesuatu?" lirih Tania.


"Mau tanya apa, Dek?"


"Kak Pelangi kenapa mau nikah sama Kak Awan? Kak Awan kan dulu brutal juga. Suka mabuk-mabukan, suka berantem, punggungnya penuh tato. Kok Kak Pelangi mau?"


Pelangi mengatupkan bibir rapat. Entah harus menjawab apa.


****