Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Bisa Makin Tidak Benar


Kita makan dulu sebelum pulang, yuk!" ajak Awan sesaat setelah meninggalkan toko pakaian. Di kedua tangannya sudah ada beberapa paper bag berisi belanjaan Pelangi tadi.


"Mau makan di mana?"


"Itu di depan ada restoran seafood. Kita makan di sana saja. Kamu suka seafood tidak?"


"Apa saja, Hubby."


"Ya sudah, makannya di sana saja."


Pelangi melingkarkan tangan di lengan suaminya, berjalan beriringan menuju restoran.


Pintu kaca otomatis itu pun terbuka lebar ketika Awan dan Pelangi mendekat. Seperti biasa, Awan akan memilih meja di sudut yang berdekatan dengan jendela. Karena dari sana, mereka dapat melihat pemandangan kota di sore itu.


"Selamat sore, mau pesan apa?" Seorang pramusaji menyambut dengan sapaan ramah, lalu meletakkan buku menu ke atas meja. Sebuah buku catatan kecil dan bolpoint di tangannya untuk mencatat pesanan.


"Hubby mau pesan apa?" tanya Pelangi.


"Samain sama kamu saja."


Setelah memesan makanan, sepasang suami istri itu mengobrol beberapa hal. Menikmati waktu layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan.


"Loh, Pelangi, Awan? Kalian di sini?" Suara panggilan itu membuat Awan dan Pelangi menoleh. Tepat di sebelah meja mereka ternyata ada Bu Sofie yang sedang duduk bersama beberapa wanita seusianya.


"Ibu?" Pelangi mengulas senyum, langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang mertua dengan mencium punggung tangannya. "Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikumsalam, Nak!" balasnya.


"Kebetulan sekali ketemu di sini. Ibu habis belanja?"


"Tidak, ibu lagi ada arisan sama teman-teman." Wanita paruh baya itu menerbitkan senyum sumringah. "Kalian sudah lama?"


"Belum begitu lama, Bu. Ini sedang menunggu pesanan."


"Oh ... kalau gitu gabung sini aja, yuk!" ajaknya.


Pelangi melirik beberapa orang di meja itu. Ia tahu bahwa Awan tidak akan mau bergabung dengan teman-teman ibunya, apa lagi ada beberapa gadis berpakaian cukup terbuka di sana.


"Tidak usah, Bu. Terima kasih, saya sama Mas Awan di meja sebelah saja."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau begitu ibu kenalkan dulu dengan teman-teman ibu." Ia menatap teman-teman sosialitanya yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Pelangi. "Jeng, ini loh mantuku, istrinya Awan!" ucap Bu Sofie memperkenalkan menantunya.


"Jadi ini toh istrinya Awan?" tanya seorang wanita menatap Pelangi dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Eh, ini bukannya yang waktu itu heboh karena ditinggal di pelaminan, ya?" tambah wanita lainnya.


Bu Sofie merasakan tubuhnya meremang mendengar ucapan salah satu temannya. Ia baru menyadari bahwa beberapa di antaranya adalah ibu dari gadis-gadis yang pernah sempat dipilihnya untuk dijadikan bakal calon menantu.


Pernikahan Awan memang sempat menjadi bahan pembicaraan geng sosialita Bu Sofie. Terlebih, di awal pernikahan putranya, ia pernah menceritakan ketidaksukaannya terhadap menantu pilihan Ayah Fery.


"Nak, jangan diambil hati, ya. Maafin ibu," bisik Bu Sofie.


"Tidak apa-apa, Bu."


Awan yang tadinya asyik memainkan ponsel pun ikut tersita perhatiannya. Apalagi setelah melihat senyum di bibir Pelangi yang langsung meredup.


Laki-laki itu segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri Pelangi, merangkul pinggangnya dengan posesif. "Sayang, pesanannya sudah datang. Makan yuk, terus kita pulang."


"Iya, Hubby."


Sikap Awan yang sangat lembut terhadap Pelangi berhasil menarik perhatian semua orang yang duduk di meja itu.


"Maaf, Bu. Saya ke meja sebelah dulu," ucap Pelangi.


"Iya, Nak. Kamu kan sedang hamil, makan yang banyak biar kandungannya sehat," balas Bu Sofie sambil mengusap punggung sang menantu.


"Iya, Bu." Pelangi masih melempar senyum ke arah teman-teman mertuanya, berbeda dengan Awan yang menunjukkan sikap dingin.


Saat Awan sudah membawa Pelangi kembali ke meja sebelah, beberapa teman Bu Sofie tampak saling berbisik satu sama lain. "Sudah baikan sekarang, Jeng? Dulu Jeng Sofie bilang si Awan itu tidak suka sama istri pilihan ayahnya."


"Dulunya memang sih, tapi sekarang mereka sudah bahagia," sambarnya dengan cepat.


"Oh begitu. Kirain ...."


"Alhamdulillah, suami saya tidak salah pilih mantu. Pelangi sudah cantik, shalihah lagi," pujinya dengan penuh kebanggaan sambil melirik anak gadis temannya itu. "Coba deh kalau Awan nikahnya sama salah satu gadis yang kemarin saya pilih, bisa makin nggak bener anak saya."


Dan, ucapan tajam Bu Sofie berhasil membungkam teman-temannya.


...........