Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Belajar Shalat


Lantunan merdu yang berkumandang dari pengeras suara di masjid membangunkan Pelangi dari tidur lelapnya. Kesadarannya belumlah berkumpul sepenuhnya ketika merasakan perutnya mendapat beban berat. Tubuhnya menggeliat pelan disusul dengan kelopak matanya yang mulai terbuka. 


Rasa panas terasa menjalar ke seluruh tubuhnya menyadari posisinya sekarang. Ia menjadikan lengan Awan sebagai bantal, sementara bibir suaminya itu menempel di keningnya. Entah sejak kapan, namun yang pasti ia merasa sangat malu mendapati dirinya tengah berpelukan dengan suaminya. 


 Pelangi memandangi wajah suaminya lekat-lekat. Seorang pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya dan kini menjadi seseorang yang paling berhak atas dirinya.


Tangannya terangkat membelai wajah itu, mengagumi setiap bagiannya. Mata, hidung dan bibir menjadi perpaduan sempurna yang menjadikan Awan seorang pria yang sangat tampan. Hal yang mendorong Pelangi untuk membenamkan ciuman lembut di kening. 


“Assalamu’alaikum, Hubby!” bisiknya pelan. 


“Wa’alaikum salam, Hunny!” balas Awan dengan senyum tertahan, juga mata yang masih tertutup rapat. 


Spontan kelopak mata Pelangi melebar menyadari Awan telah terbangun. Rasa malu seketika menjalar yang membuatnya ingin bersembunyi di pusat bumi terdalam. Kala Awan membuka matanya, tubuh Pelangi bereaksi dengan sangat cepat. Ia terjingkat hingga hampir terjatuh dari tempat tidur.


Beruntung Awan segera memeluk pinggangnya.


 "Awas jatuh!"


Pelangi tersipu malu. “Mas Awan bangun sejak kapan?” 


“Sejak kamu melakukan ini.” Awan menuntun tangan Pelangi untuk membelai wajahnya seperti yang tadi dilakukan istrinya itu saat baru terbangun.


Pelangi semakin malu rasanya. Jika tidak segera beranjak, entah akan memerah apa wajahnya. “Emh, aku mau shalat, Mas. Tolong lepasin tangannya.” 


Awan baru tersadar. Refleks ia langsung melepas tangan yang masih melingkar di pinggang istrinya.


"Maaf."


...........


Awan masih duduk bersandar di tempat tidur ketika Pelangi masuk ke kamar dengan jubah mandi.


Pelangi berjalan menuju lemari dan membuka jubah mandi. Menyisakan handuk kecil yang menutupi setengah tubuhnya. Awan yang sedari tadi memperhatikan, begitu terpaku memandang keindahan yang tersaji di hadapannya.


Kulit punggung Pelangi yang putih bersih dan rambut panjang yang masih basah membuat Awan tak kuasa mengalihkan pandangan. Ia bagai terhipnotis.


"Kayaknya gue kena sawan beneran deh."


"Mas mau sarapan di meja makan apa mau aku bawakan ke kamar saja sarapannya?" tanya Pelangi sesaat setelah mengenakan pakaian.


Detik itu juga, Awan tersadar dari lamunan. "Bareng sama ayah ibu saja."


Tak dapat dipungkiri oleh Pelangi, perubahan besar dalam diri Awan menciptakan rasa bahagia tak terkira dalam hatinya. Ia masih ingat ucapan Bik Minah beberapa waktu lalu, yang mengatakan bahwa Awan tidak suka sarapan atau makan bersama keluarga. Kalau pun sempat sarapan di rumah, ia akan meminta Bik Minah membawakan makanan ke kamar.


Tangan Pelangi langsung menopang tubuh besar suaminya yang hampir terjatuh saat berusaha berdiri sendiri. Awan belum sepenuhnya dapat menyeimbangkan tubuh ya sendiri.


"Hati-hati, Mas. Ayo, aku bantu ke depan."


Kala Pelangi menuntun langkahnya keluar dari kamar dengan susah payah, senyum cerah terlukis di bibir Awan. Ia menatap istrinya penuh kasih. Pelangi tak pernah sekalipun mengeluh dengan kondisi sang suami dan tetap setia mendampinginya.


"Pelangi."


"Iya, Mas."


"Sore nanti tolong ajarin aku ngaji, ya." Perkataan tiba-tiba Awan membuat tatapan Pelangi langsung tertuju kepada suaminya. Bola matanya langsung berkaca-kaca, yang kemudian berusaha ia samarkan dengan senyuman.


"Alhamdulillah," ucap Pelangi dalam hati.


............


Suasana rumah terlihat sepi siang itu. Ibu Humairah sedang ikut dengan Ayah Ahmad untuk menghadiri acara keluarga, sedangkan Zidan sedang berangkat kuliah.


Hanya Awan dan Pelangi yang tinggal di rumah.


Pelangi sedang di dapur menyiapkan makan siang untuk suaminya. Karena mereka hanya berdua di rumah, maka Pelangi dan Awan akan makan di kamar saja, agar Awan tak perlu repot berjalan dengan tongkatnya keluar.


Saat memasuki kamar, terlihat Awan sedang duduk di atas sajadah dengan sarung dan peci. Tampak semakin tampan.


Ia sedang belajar shalat dari buku panduan pemberian Zidan. Karena belum dapat berdiri tanpa menggunakan tongkat, maka ia menjalankan shalat dengan posisi duduk.


"Astaghfirullahalazim," ucap Pelangi ketika melihat suaminya.


Wanita itu meletakkan nampan berisi menu makan siang ke meja dan duduk di tempat tidur. Ia menunggu suaminya dengan sabar hingga selesai.


"Kamu kenapa lihatinnya begitu?" tanya Awan setelah menyadari Pelangi menatapnya dengan cara yang berbeda. "Aku baru belajar shalat sendiri. Biasanya kan dituntun Ayah dan Zidan."


Pelangi terlihat ragu untuk berucap. Hingga akhirnya memberanikan diri.


"Arah kiblat ke sana, Mas, bukan ke situ." Ia menunjuk ke arah yang berlawanan dengan posisi Awan saat ini.


Membuat raut wajah Awan seketika berubah. Pria itu menarik napas dalam.


"Elaah kenapa nggak bilang dari tadi sih? Terus barusan gue nyembah siapa?"


............