
Pelangi terduduk lemas di kursi depan meja rias. Pengakuan Awan beberapa detik lalu memaksa bola matanya berair. Layaknya dihimpit bongkahan batu besar, dadanya terasa penuh dengan sesak. Kejutan yang disangka adalah untuknya, nyatanya adalah milik cinta masa lalu suaminya.
Kecewa, sedih dan malu bercampur menjadi satu.
Menyadari reaksi sang istri, Awan segera berjongkok di hadapannya. Tak lagi memerdulikan perhiasan mahal yang kini tergeletak begitu saja di lantai. Tangannya terulur mengangkup kedua sisi wajah istrinya.
“Maafkan aku, Hunny!” ucapnya penuh sesal.
Seperti sayatan benda tajam, Awan ikut merasakan sakit tatkala kristal bening itu meleleh di pipi Pelangi, yang kemudian diusap Awan dengan ibu jarinya.
Sementara Pelangi terdiam bagai kehilangan kata-kata. Tatapannya kosong dan tangannya gemetar. Sehingga Awan segera menggenggam tangan sang istri dan menciumnya sebagai bentuk rasa bersalah.
“Aku benar-benar minta maaf. Kamu tahu kan, ini pertama kalinya kita berada di kamar ini lagi. Terakhir kali meninggalkan rumah, hubungan kita belum seperti sekarang.”
"Aku tahu. lirih Pelangi menahan air mata. "Apa boleh aku tanya sesuatu?"
“Boleh.”
“Apa benda itu masih ada artinya bagi kamu?”
Tatapan penuh luka dari bola mata Pelangi membuat Awan seakan tenggelam ke dalam lautan rasa bersalah. Secara tak langsung ia telah menyakiti Pelangi dengan hadirnya kenangan tentang wanita dari masa lalunya.
“Sama sekali tidak ada artinya lagi bagiku!” jawabnya penuh keyakinan.
Gerakan cepat Awan yang secara tiba-tiba memeluknya dengan sedikit paksaan, membuat Pelangi tak memiliki waktu untuk menghindar. Bahkan saat ia ingin membebaskan tubuhnya, Awan tak memberi celah sedikit pun. Belenggu tangannya yang kuat dan posesif membuat Pelangi tak berdaya.
“Jangan marah, Hunny! Please,” bisiknya tanpa melepas pelukan. Malah semakin lama semakin erat.
“Bisa lepas dulu? Aku susah napas.”
Tersadar, Awan langsung merenggangkan pelukannya, tapi tentu saja tak akan melepas begitu saja sebelum mendapat maaf.
“Janji dulu jangan marah. Kalau tidak, aku peluk sampai pagi nih.” Sebuah ancaman yang membuat hati Pelangi tiba-tiba menghangat.
“Aku tidak marah, Hubby.”
“Apa aku tidak boleh sedih dan kecewa?”
Mendengar jawaban itu, perlahan Awan mulai melepaskan tangannya yang melingkar pada tubuh Pelangi. Dengan rasa bersalah yang semakin menggunung, ia memberanikan diri menatap istrinya.
“Aku hanya merasa malu. Kupikir itu kejutan untuk aku karena ada inisial namaku.”
Awan pun seketika tersadar.
Astaghfirullah, Priska Frastika, Pelangi Faranisa ... Kenapa sih inisial mereka harus sama? gumam Awan dalam batin setelah tersadar dengan kebetulan tersebut.
“Maafin aku.” Entah sudah berapa kali kalimat itu terucap.
"Boleh aku tanya satu hal lagi?"
Awan mengangguk dengan cepat.
"Kenapa kamu tidak bohong saja? Kamu kan bisa bilang perhiasan itu memang untuk aku."
"Kalau hari ini aku bohong untuk sebuah kesalahan besar, kedepannya aku bisa saja berbohong untuk menutupi kesalahan-kesalahan lain."
Pelangi menarik napas dalam demi menetralkan perasaannya. Meskipun rasa sakit itu terasa nyata, namun ia sepenuhnya sadar, bahwa setidaknya Awan sama sekali tidak membohonginya, meskipun beresiko dirinya akan marah.
Pelangi menerbitkan senyum, meskipun bola matanya masih berkaca-kaca. “Tidak apa-apa, Hubby. Aku hanya syok dan terkejut.”
“Kamu boleh hukum aku apa saja. Aku akan terima,” ucap Awan memelas.
“Tidak apa-apa. Setidaknya kamu berusaha jujur. Kamu bisa saja berbohong dan bilang itu memang untuk aku. Tapi apa yang akan kudapat? Aku akan bahagia di atas kebohongan.”
Bukannya lega, ucapan Pelangi malah membuat rasa bersalah Awan semakin besar.
...........