
Belum ada pembicaraan antara Pelangi dan Awan selama perjalanan pulang ke rumah. Pelangi masih asyik membaca sebuah buku di tangannya, sementara Awan terfokus dengan padatnya jalan sore itu. Sesekali, Awan melirik sang istri yang duduk di sisinya. Diamnya Pelangi membuat Awan bertanya-tanya dalam hati.
Kurang dari tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan Awan sudah memasuki gerbang rumah.
Awan menurunkan semua belanjaan Pelangi yang tadi ia letakkan di bagasi belakang mobil, lalu membawanya masuk.
Setibanya di kamar, Pelangi langsung berganti pakaian dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aktivitas hari ini cukup menguras tenaga. Sejak hamil, ia menjadi mudah lelah.
Sementara Awan memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Hingga beberapa menit berlalu, Pelangi keluar dari kamar mandi dengan piyama berenda sepanjang lutut.
Awan menatapnya tanpa berkedip. Pelangi tampak sangat manis dan sempurna.
"Sayang, maafin aku, ya." Awan tiba-tiba memeluk sebelum Pelangi menjatuhkan tubuhnya di meja rias. Pelukan Awan yang erat membuat tubuhnya seperti terkunci.
"Kenapa minta maaf, Hubby?"
"Aku tidak enak sama kamu karena kejadian di restoran tadi. Karena kelakuanku dulu, kamu jadi kena imbasnya sekarang," ucapnya penuh sesal.
Sejenak Pelangi tampak memikirkan ucapan sang suami, lalu beberapa detik kemudian langsung tersenyum seraya membelai wajah sang suami. "Aku tidak apa-apa, Hubby."
"Tapi teman-teman ibu keterlaluan. Kamu pasti sakit hati." Jika saja tadi tidak menghormati ibunya, Awan pasti langsung membawa Pelangi pulang. Tentunya, setelah memberi pelajaran berharga kepada teman-teman sosialita sang ibu.
"Jangan berprasangka buruk, Hubby. Mungkin teman-teman ibu juga tidak ada niat untuk menyakiti aku."
"Tetap saja aku juga merasa salah sama kamu."
Melihat sedih wajah suaminya, Pelangi pun memeluk dan mencium pipinya. "Jangan diingat lagi. Kita sudah bahagia sekarang. Jangan rusak kebahagiaan kita dengan hal-hal sepele seperti itu."
"Kamu memang wanita yang luar biasa, Sayang. Aku sangat beruntung memiliki kamu." Awan menangkup ke dua sisi wajah sang istri.
Baginya, Pelangi lebih cantik alami tanpa riasan di wajahnya. Kulitnya yang putih mulus semakin bercahaya ketika rambut panjangnya yang hitam berkilau tergerai.
Baru saja Awan akan membawa sang istri menuju pembaringan, sudah terdengar deringan ponsel.
Siapa lagi sih? Banyak amat gangguan. Baru juga mau mulai.
Setengah kesal, Awan meraih benda pipih berwarna hitam miliknya yang tergeletak di meja nakas. Namun, segenap kekesalan itu sirna ketika membaca nama yang tertera pada layar.
"Wa'alaikum salam. Awan, kamu lagi sibuk?" Suara Bu Sofie terdengar panik di ujung telepon.
Sibuk, Bu. Baru aja mau tanam aset negara, ibu sudah ganggu.
Namun, kalimat panjang hanya terucap dalam hati.
"Tidak, Bu. Lagi temenin Pelangi di kamar." Sebuah jawaban bermuatan kode rahasia itu sepertinya tak dapat dicerna oleh Bu Sofie.
"Gini, Wan. Tania kabur dari rumah. Dia sekarang ada di bandara. Kamu bisa jemput?"
Ingatan Awan langsung tertuju pada salah seorang sepupunya yang tinggal di kota Makassar itu. "Jemput di bandara Makassar?"
"Bukanlah, ya bandara sini, Awan."
"Oh, maaf, Bu. Lagi nggak konsentrasi. Memang sekarang ya, jemputnya?"
"Ya sekarang, Awan. Di rumah tidak ada sopir. Pak Marno lagi antar ayah ke hotel, ada pertemuan."
"Kan ada taksi online, Bu. Suruh aja si Tania naik ojek online."
"Kalau Tania kabur lagi, bagaimana?" lirih Bu Sofie. Hanya dengan mendengar suaranya, Awan sudah meyakini jika Bu Sofie sudah menangis di sana. Ia memang sangat menyayangi keponakan satu-satunya itu.
Awan memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut. "Ya sudah, Bu. Aku jemput sekarang."
Gagal deh!
Panggilan terputus setelah Awan berhasil menenangkan ibu yang terdengar panik dan menangis. Kemudian melirik Pelangi yang sudah pasang badan dengan cantik di tempat tidur.
Duh godaan halalnya bikin salfok gini lagi.
"Hunny, aku diminta tolong ibu jemput saudara di bandara. Kamu tidak apa-apa aku tinggal sebentar?"
............