
Sebelum baca aku coba upload visual dulu ya. Semoga bisa tembus.
Awan
Pelangi
Zidan
Selamat membaca. Terima kasih untuk semua bentuk dukungan. Maafkan keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam cerita ini.
Semoga terhibur. 🥰
.
.
.
Pandangan Pelangi meneliti setiap bagian rumah saat mobil memasuki halaman. Kerutan tipis tercipta pada kedua sudut matanya melihat rumah itu dalam keadaan terang.Â
“Siapa yang menyalakan lampu? Bukannya rumah ini lama kosong, ya?” tanyanya heran.Â
“Aku minta orang menyalakan lampu. Yuk turun, Sayang.” Awan membuka sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, lalu segera turun. Pelangi mengikuti di belakang punggungnya.Â
Begitu pintu terbuka, Awan mengucapkan salam sebelum masuk. Pelangi kembali meneliti bagian dalam rumah. Meskipun selama tiga bulan rumah itu dalam keadaan kosong, namun tampak sangat bersih dan rapi. Bahkan tak terlihat debu sedikit pun.
“Rumahnya bersih, Mas. Sama seperti saat pertama kali aku datang ke rumah ini.”Â
“Iya, aku minta orang membersihkan rumah ini setiap dua hari sekali. Supaya saat kita pulang, tidak perlu membersihkan lagi.”Â
“Oh.” Kaki Pelangi melangkah masuk dengan pandangan masih berkeliling. Tiba-tiba ia terpaku di tempatnya berdiri.
Sebuah pigura besar yang menggantung di dinding ruang tamu membuat bola matanya seketika tergenang cairan bening, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh haru.
Foto pernikahannya menjadi sambutan paling membahagiakan bagi Pelangi. “Siapa yang pajang foto ini, Mas?”Â
“Aku minta tolong orang pajang foto ini. Kamu suka?”Â
Pelangi mengangguk penuh semangat. Tak seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu, di mana foto mesra Awan dan Priska menyambutnya dengan menyakitkan. Malam ini, Awan memberinya rasa bahagia yang tak terkira.Â
“Suka sekali. Terima kasih, Hubby.”Â
Awan mendekati Pelangi. Mengusap sudut matanya yang berair dan merangkul pinggang wanita itu, lalu kemudian ikut menatap poto pernikahan mereka dengan decakan lidah. “Sayang sekali di foto ini aku tidak senyum. Maaf, ya.”Â
“Tidak apa-apa. Fotonya bagus, kok,” jawab Pelangi.
Awan bernapas lega. Tangannya bergerak ke atas memeluk bahu sang istri. “Ya sudah, kita ke atas, yuk.”Â
“Iya, Mas. Aku juga mau shalat maghrib.”Â
...........
Cukup lama Pelangi mematung di ambang pintu kamar. Ia hampir tak percaya dengan apa yang kini didapatkannya. Tiga bulan lalu dirinya dan seorang pria bernama Awan Wisnu Dewanto hanyalah orang asing yang terikat dalam tali pernikahan. Awan menolaknya mentah-mentah dan membangun sebuah benteng kokoh yang memisahkan mereka. Namun, mulai malam ini segalanya akan berubah. Tidak ada lagi penghalang antara Awan dan Pelangi.
"Selamat datang di kamar kita," ucap Awan dengan senyuman lembut. Ia menyambut istrinya dengan pelukan dan ciuman mesra. "Kalau ada yang kamu tidak suka dari kamarnya, atau ada yang perlu dirubah, kamu bilang saja. Nanti aku suruh orang untuk merubahnya sesuai selera kamu."
"Alhamdulillah," ucapnya. "Oh ya, semua pakaian kamu ada di lemari itu. Aku minta tolong Bik Minah memindahkan semua pakaian kamu ke sana." Awan menunjuk sebuah lemari besar di sudut kamar.
Setidaknya Pelangi tidak perlu repot lagi membereskan pakaian-pakaiannya dan memindahkan ke kamar suaminya.
"Terima kasih, Mas."
Pelangi beranjak menuju lemari. Selain pakaian lamanya, di dalam lemari itu ada banyak pakaian baru. Sepertinya Awan benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya di waktu lalu.
"Kenapa pakaian barunya banyak sekali?"
"Aku tidak begitu tahu tentang pakaian wanita. Jadi aku minta saja ibu membeli banyak dengan model berbeda."
Pelangi tertawa kecil. Padahal ia punya butik pakaian muslimah. Namun, Awan masih membelikannya dari sebuah butik ternama.
Pria itu pun menarik Pelangi ke dalam pelukannya sambil membenamkan ciuman yang dalam di kening. "Hunny, terima kasih hari ini sudah membela kehormatanku di hadapan orang lain yang berusaha mengungkit masa laluku."
"Itu sudah kewajibanku dalam menjaga marwahku sebagai istri, Mas."
Awan menatap ke dalam mata Pelangi. "Kamu tahu, tadinya aku sudah down. Dia memang benar, aku tidak layak untukmu."
Mendengar nada sedih yang terucap dari bibir suaminya, Pelangi menangkup kedua sisi pipi sang suami. "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan berkata, bahwa mereka telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji?"
"Artinya apa?"
"Jalan menuju Ridha Allah itu penuh dengan ujian. Anggap saja itu sebagai ujian bagi kita."
Awan mengangguk mengerti. "Sekali lagi terima kasih, Hunny."
Awan larut dalam rasa bahagia. Ia memeluk Pelangi erat seolah enggan melepasnya. Hingga beberapa saat berlalu.
"Kamu sudah siap? Tadi kan aku bilang mau ajak kamu ibadah bersama."
Pelangi menundukkan pandangannya dengan wajah merona. Tentunya ia tahu ibadah seperti apa yang dimaksud Awan.
"Aku siap, Hubby."
............
Pelangi baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya. Tatapannya mengarah kepada Awan yang tampak sudah siap dengan baju Koko dan sarung, lengkap dengan peci.
Untuk beberapa saat, ia seperti terhipnotis menatap Pelangi yang malam itu tampak lebih cantik memesona. Ia duduk di hadapan meja rias memunggungi suaminya sambil menyisir rambut panjangnya. Awan menunggu dengan sabar.
“Pakai mukenahnya,” pintanya setelah Pelangi selesai berhias.
Sajadah membentang di tempat kosong di sisi tempat tidur. Menghadap kiblat, keduanya larut dalam ibadah. Pelangi merasakan betul nikmat yang ia dapat dari ibadah bersama sang suami.
Jantungnya berdebar saat bibirnya menyentuh punggung tangan Awan setelah menjalankan shalat sunnah dua rakaat itu. Hangat, tentram dan damai. Kini keduanya duduk saling berhadapan di atas sajadah.
"Hunny, terima kasih sudah mau menerimaku dengan segala kekuranganku. Setiap hari, aku akan berusaha menjadi imam yang amanah untukmu, supaya kita bisa membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah."
"Sama-sama, Hubby. Aku juga masih punya kekurangan. Kita akan sama-sama belajar."
"Suatu hari nanti kalau aku menyakitimu lagi, tolong ingatkan aku. Aku belajar memantaskan diri agar layak bersentuhan denganmu untuk cinta yang bernilai ibadah, bukan sebatas nafsu saja.”
Pelangi membeku. Sepasang bola matanya digenangi cairan bening. Betapa Awan sangat lembut memperlakukannya. Ia bahkan telah lupa dengan segala rasa sakit akibat penolakan Awan terhadapnya.
Ia menyandarkan kepalanya di dada sang sang suami, dan disambut Awan dengan pelukan hangat.
Awan pun berbisik, "Ana uhibbuki Fillah. Semoga hijrahku mengantarkanmu pada cinta Allah."
Pelangi tak sanggup lagi membendung air mata bahagianya. "Ahabbakallazii ahbabtani lahu." (Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah membuatmu mencintaiku karena-Nya)
............