Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Jangan Kasih Salam!


Pelangi belum mampu meredam tawa atas kekonyolan yang dilakukan suaminya dalam belajar memasak. Tadi, Pelangi yang tak mendapati sang suami di kamar segera beranjak dan keluar mencari. Allhasil, ia menemukan Awan di dapur sedang kerepotan dengan kegiatan memasaknya. 


Bukannya membantu, Pelangi malah memilih diam dan bersembunyi di balik sebuah lemari. Beberapa kali wanita itu harus membungkam mulutnya dengan tangan, agar tak menyemburkan tawa. Hingga saat Awan menutup sesi memasak dengan memaki-maki buku resep, barulah Pelangi memunculkan dirinya. 


“Puas-puasin!” ujarnya ketus ketika tawa masih terus terdengar di ruangan itu. 


Bibir Pelangi terkatup rapat demi menghentikan tawa. Seumur hidup, inilah moment paling lucu baginya. “Memang tadi mau masak apa?” 


“Opor!” jawabnya singkat dengan ekspresi antara kesal dan malu. 


Perhatian Pelangi pun tertuju pada kondisi dapur. Sepertinya, Awan baru saja menciptakan huru-hara yang membuat dapur sangat berantakan. Peralatan memasak berserakan dan noda minyak di mana-mana. 


“Apanya yang membingungkan?” 


“Pake tanya lagi!” balas Awan dalam hati. “Semua! Tadinya aku mau kasih kamu kejutan. Zidan bilang kamu suka opor, jadi aku coba buat.” 


Pelangi meraih sendok dan mencicipi hasil usaha keras suaminya. Meskipun rasa makanan membuat wajahnya berkerut, namun menciptakan rasa bahagia dalam sukmanya. Setidaknya, Awan telah berusaha menyenangkannya. Bahkan rela melakukan sesuatu yang belum pernan dilakukan sebelumnya. 


“Makasih, Hubby.” Pelangi mendekat pada Awan. Kakinya berjinjit demi menyejajarkan dua tubuh itu, karena puncak kepala Pelangi hanya sebatas dagu suaminya. Lalu, ia benamkan ciuman tanda terima kasih di pipi. 


“Makasih apaan? Makanannya kan tidak enak.” 


“Tapi kamu sudah berusaha memasaknya untuk aku. Itu sudah lebih dari cukup.” 


Segenap rasa kesal yang sempat memenuhi hati Awan pun sirna. Ia tak tahu mengapa Pelangi selalu dapat meluluhkan hatinya dengan mudah. 


“Maaf ya, Sayang.” Sambil melingkarkan tangan di pinggang dan mengecup kening istrinya. 


“Kita masak ulang saja, ya. Bahannya masih ada, kan?” 


“Masih, itu di kulkas masih ada ayam.” Awan menunjuk sebuah lemari pendingin dengan lirikan mata. 


“Kamu nyindir aku?” 


Baru saja Pelangi akan menjauhkan tubuhnya, sudah ditangkap lebih dulu oleh Awan. Tawa Pelangi kembali terdengar ketika merasakan sensasi geli dari jemari Awan yang bermain di perutnya. Hingga keduanya tak menyadari kehadiran seorang pria yang tiba-tiba memasuki dapur. 


“Selamat pagi!” 


Mata Pelangi membulat saat mendengar suara seorang pria menyapa. Secepat cahaya kilat, wanita itu berjongkok di balik meja dapur menyembunyikan tubuhnya. Beruntung, pria yang merupakan penjaga vila tersebut belum sempat melihatnya. 


“Maaf, sepertinya saya sudah menganggu.” Pria itu terlihat sangat sungkan. 


“Tidak apa-apa, Pak. Maaf, istri saya sedang tidak pakai kerudung. Bapak bisa keluar sebentar?” pinta Awan dengan sopan. 


“Oh, maaf. Saya tidak tahu. Saya kemari karena disuruh Bapak tanya, Pak Awan butuh sesuatu atau tidak?” 


Awan masih menunjukkan senyum ramah. “Tidak, Pak. Terima kasih sebelumnya.” 


“Kalau begitu, saya permisi ke  taman sebentar. Kalau Pak Awan nanti butuh sesuatu, rumah saya ada di belakang vila ini.” 


“Baik, Pak! Sekali lagi terima kasih.” 


Pria itu membungkukkan kepala sebelum meninggalkan dapur. Lalu, setelah memastikan semua aman, barulah Pelangi keluar dari persembunyian. Ia tampak bernapas lega. 


“Maaf, Hubby. Aku tidak tahu kalau ada orang lain di sini. Kupikir cuma kita berdua.”  


“Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kamu ke kamar dulu ambil kerudungnya. Jangan berkeliaran lagi kalau tidak pakai kerudung.” 


...........