Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Beritahu Teman Kamu Itu!


...Doain cepat lolos setiap bab nya ya, aku mau kreji up sebagai bonus malam Minggu....


...🤗🤗🤗...


.............


Pelangi merasa serba salah karena kehadiran Maryam di rumah. Apa lagi setelah wanita itu menyusul ke lantai atas untuk menanyakan letak kamar mandi, meskipun ia yakin sepenuhnya bahwa Maryam tidak ada niat lain. 


“Pelangi, kenapa tidak panggil suamimu untuk makan malam?” Maryam menjatuhkan tubuhnya di kursi setelah menata menu di atas meja. 


Pelangi yang sedang membersihkan peralatan memasak, menoleh sejenak lalu tersenyum. “Sepertinya suamiku akan makan di kamar.” 


“Kenapa? Apa dia sakit?” Maryam mulai mengisi piring dengan lauk. Sementara Pelangi menyiapkan makan malam untuk suaminya. 


“Tidak. Hanya saja dia sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kadang lupa makan kalau sudah bekerja.”


 Padahal, Pelangi tahu betul bahwa Awan tidak nyaman dengan keberadaan Maryam di rumah mereka, dan sudah pasti suaminya itu akan memilih makan di kamar. 


“Memangnya suamimu bekerja di mana?” tanyanya lagi, sambil mengunyah makanan. 


“Di PT. Genta Karya. Suamiku seorang arsitek.” Kedua alis Maryam terangkat mendengar sebuah nama yang terdengar tak asing baginya. “Kamu makan ya, jangan sungkan-sungkan. Aku akan ke atas dulu.“ 


“Iya,” jawab Maryam dengan ekspresi seperti menahan sesuatu. 


Dengan membawa makan malam untuk suaminya, Pelangi meninggalkan temannya itu. Benar saja, saat memasuki kamar, Awan masih betah duduk berselonjor di sofa panjang dengan sebuah laptop di pangkuannya. 


“Hubby, aku bawakan makan malam.” Pelangi meletakkan nampan di meja. 


Awan meliriknya sejenak dan tersenyum. Pelangi selalu mengerti apa yang diinginkan suaminya. Ia memang sengaja tidak turun lagi sejak kembali dari masjid. Padahal biasanya selepas makan malam, Awan akan menghabiskan quality timenya bersama Pelangi di ruang televisi, bersenda gurau dan membicarakan apa saja. 


 


“Kamu tidak ada rencana menyuapi aku sekalian?” 


Tawa kecil terdengar dari mulut Pelangi. Tidak pernah sebelumnya Awan minta disuapi, selain saat sedang sakit. Karena ingin menyenangkan suaminya, Pelangi akhirnya menyuapi makan. 


“Makan dari tangan kamu memang lebih enak,” puji Awan menikmati setiap suapan istrinya.


“Ini Maryam yang memasak, Hubby.” 


“Oh, pantas rasanya beda. Tapi aku lebih suka rasa masakan kamu.” Awan meraih segelas air putih dan meneguknya. “Ngomong-ngomong, apa kamu sudah bicara dengan dia?” 


“Belum. Besok pagi saja sekalian kalau mau berangkat ke butik.” 


“Aku mengerti, aku yang minta maaf karena membawa orang lain ke rumah kita.”  


...........


Perlahan sang mentari mulai terbit di ujung timur, membalut semesta dengan sinar hangatnya. Seperti hari-hari sebelumnya, Awan akan berolahraga ringan di taman belakang rumah. Melatih otot-otot kakinya dengan berlari kecil sesuai anjuran dokter. 


Biasanya, akan ada sang istri yang menemani. Namun, beberapa hari belakangan, Pelangi memilih rebahan di kamar setelah menjalankan ibadah shalat subuh. 


Sambil menyeka keringat yang mengucur di leher, Awan melangkah menuju dapur untuk mengambil air mineral. Namun, langkah kakinya seketika terhenti. Ia membuang pandangan dengan mimik kesal. 


Maryam ada di dapur dengan mengenakan pakaian tidur tanpa hijab. Wanita itu menoleh saat menyadari kehadiran seseorang tak jauh darinya. 


“Selamat pagi, Kak! Pelangi belum bangun, ya?” tanya Maryam santai. 


“Belum,” sahut Awan dingin. Lalu buru-buru meraih gelas kosong dan menuang air putih. Setelahnya, berlalu meninggalkan dapur begitu saja. 


Sementara Maryam mematung menatap tubuh kokoh terbalut celana training dan baju kaus yang berjalan menjauh. 


"Kamu sudah bangun?" tanya Awan saat mendapati Pelangi sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan memainkan ponselnya.


"Iya."


Melihat Pelangi yang tampak pucat, Awan mendekat dan duduk di sisinya. "Apa kamu sakit? Kok mukanya pucat?"


"Tidak apa-apa. Hanya lemas sedikit."


"Jangan biasakan tidur setelah shalat. Lemas kan jadinya." Ia membelai wajah lelah itu. "Mau aku pijat?"


"Tidak usah, aku baik-baik saja," jawabnya seraya mengulas senyum. Namun, wajah Awan yang terlihat datar membuat senyum itu ikut meredup. "Kenapa, Hubby?"


Awan menghela napas panjang, lalu menatap Pelangi serius. "Sayang, tolong kasih tahu teman kamu itu."


"Soal apa?" tanya Pelangi yang belum mampu menebak arah pembicaraan suaminya.


“Beritahu dia, supaya tidak berkeliaran di rumah ini kalau hanya menggunakan pakaian tidur, apalagi tanpa hijab.” 


Mulut Pelangi seperti terkunci menyadari ekspresi kesal yang tergambar jelas di wajah suaminya.


...........


Â