Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Extra Part - Dia Yang Aneh


Semenjak belajar memasak dari Pelangi, Ibu Sofie jadi lebih rajin berbelanja bahan makanan. Tak hanya berbelanja sebenarnya, wanita baya itu juga kerajinan memasak. Berbagai menu yang dikiranya sedap pasti akan dieksekusi. Tania yang merasa bosan di rumah pun menawarkan diri menemani Ibu Sofie berbelanja di swalayan.


"Bu, aku boleh beli cemilan, 'kan?" tanya Tania yang diberi anggukan oleh Ibu Sofie. Keduanya sudah ada di depan swalayan langganan.


"Pilih saja, asal dimakan. Jangan mubazir."


"Ahsiap!" Ibu jari Tania teracung. Gadis dengan baju kaus pas bodi dan celana di atas lutut itu juga tersenyum senang, setelah itu berlari menuju rak camilan. Tidak sabar dia memborong makanan yang rencananya akan menemaninya maraton drama Korea.


Namun kehadiran sosok karyawan yang sedang mengatur barang buat Tania terdiam, sedetik kemudian senyumnya makin mengembang. Ia kenal sosok itu.


"Hai, lo kerja di sini?" sapa Tania pada laki-laki muda berambut klimis yang dikenalnya bernama Zidan.


Zidan yang tadinya fokus menyusun spontan mendongak, tapi sedetik kemudian istighfar berkali-kali. Ia bangkit, tetapi enggan menatap Tania.


"Assalamu'alaikum," sapanya tanpa melirik Tania sedikitpun.


"Wa'alaikum salam, lo Zidan kan?"


"Iya," jawabnya, lantas bergegas menghindar. Tania mendengus sebal karena pemuda itu menghindarinya seolah ia adalah setan.


"Ish, itu cowok nyebelin amat. Gue cantik gini dihindari. Sombong, songong, belagu." Tania tak henti mengumpat. Tangannya bahkan mengepal geram. Kendati demikian ia tetap memilih beberapa camilan untuk dibawa pulang.


"Awas aja, gue aduin ke ibu nanti!" Tania meraih keranjang yang sudah dipenuhi camilan.


Begitu tiba di bagian depan langkahnya terhenti. Ia melihat Zidan lagi. Anehnya, pemuda itu terlihat sangat ramah pada Ibu Sofie. Bahkan, tersenyum begitu lebar. Otak Tania pun mulai bertanya, apa ada yang salah sama Zidan? Mengapa begitu ramah pada ibu-ibu, sedang pada dirinya yang sebaya dianggap tidak ada? Atau dirinya yang salah?


Sekilas, Tania melihat dirinya sendiri. Ia juga sempat berkaca lewat layar ponsel, tapi tetap tidak mendapatkan sesuatu yang aneh di wajah. Justru ia merasa cantik dengan make up seadanya.


"Masalahnya ini gak mungkin di gue. Itu pasti dianya aja yang buta. Masa cewek secantik gue nggak dilirik? Nyebelin," gerutu Tania lagi.


Dengan langkah lebar Tania dekati Ibu Sofie yang sibuk memilih bahan kue, setelah itu mencoba menyapa Zidan yang terlihat membantu mencari bahan yang Ibu Sofie butuhkan.


"Lo pulang jam berapa?" tanya Tania berusaha ramah.


"Pulang nya malam," jawab Zidan singkat. Sambil terus mencari bahan belanjanya Bu Sofie.


Tak ayal sikap cuek Zidan itu membuat Tania terbelalak shock. Zidan kembali mengabaikan dan itu melukai harga dirinya.


Sombong beneran! Kak Awan mimpi apa punya adek ipar ginian.


Setelah mendapatkan bahan yang dicari Bu Sofie, Zidan memasukkan ke dalam keranjang belanjaan.


"Sudah semuanya, Bu."


"Alhamdulillah." Zidan mengulas senyum. "Kalau begitu saya permisi, Bu. Mau lanjut kerja lagi."


"Ya sudah, Ibu juga sudah selesai belanja. Nanti kapan-kapan main ke rumah, ya."


"Insyaa Allah, Bu."


Zidan mengatupkan tangan di depan dada sebelum melangkah pergi. Tentu saja tanpa mau menatap Tania. Tania yang sudah kadung gondok mengentak kaki, lalu pergi melewati Zidan yang kebetulan berdiri di meja kasir.


Kantongan penuh belanjaan ia lempar secara sembarang ke bagasi mobil.


"Bu, itu si Zidan belagu banget. Aku nyapa sama sekali nggak dilihat. Kan nyebelin," gerutu Tania yang sesekali menikmati es krim rasa cokelat. Ia gondok pada Zidan dan makin gondok saat mengingat perlakuan laki-laki itu. Terlalu menurutnya.


"Memang dia kayak gitu, Tan."


"Kayak gitu gimana?" Tania menatap lekat Ibu Sofie yang ada di sebelahnya.


"Dia nggak suka dengan perempuan yang penampilannya terbuka."


Mata Tania menyipit seketika. "Dia punya kelainan?"


"Ya bukan. Dia memang begitu. Menjaga mata dari zina."


"Astaga, omongan Ibu buat aku merinding. Kami nggak ngapa-ngapain dibilang zina."


"Dih, kamu ini dikasih tau malah gitu. Memandang yang bukan mahram itu sama dengan zina mata."


"Masa sih, Bu? Perasaan aku lihat dia nggak pake napsu!"


Bu Sofie yang kini sudah mengenakan hijab itu menipiskan bibirnya. Tadi, sebelum keluar rumah, ia sudah menyarankan Tania agar menggunakan pakaian tertutup. Alih-alih peduli, Tania malah beralasan kepanasan.


"Bukan seperti itu, Tania! Sudah ah, ibu pusing. Nanti biar Pelangi yang jelasin ke kamu."


Ibu Sofie lantas memilih menyibukkan diri dengan ponsel, sedang Tania merebah setelah menghabiskan sisa es krim, pandangan matanya terarah keluar jendela. Gadis berbaju serba pendek itu menghela napas panjang berulang-ulang. Otaknya berpikir keras, laki-laki seperti apa Zidan itu? Kenapa mempermasalahkan penampilannya? Sedang laki-laki lain bisa saja malah cenderung senang.


Gue cantik! Dia aja yang aneh! batin Tania setelah itu memejamkan mata.


.


.