
Hari itu Awan menghabiskan waktunya untuk memanjakan Pelangi. Mereka mengunjungi beberapa tempat yang indah layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan.
"Apa dulu Hubby sering ke mari?" tanya Pelangi di sela-sela perjalanan mereka melewati perkebunan teh. Keduanya berjalan beriringan dengan saling bergandengan tangan.
Roman-romannya pertanyaan jebakan nih!
"Tidak sering. Cuma sesekali kalau kebetulan diajak teman-teman," jawab Awan santai.
"Cuma sama teman-teman?"
Tatapan Awan langsung tertuju kepada sang istri. Alis tebalnya terangkat hingga menciptakan kerutan di kening. Intuisinya dengan mudah mengartikan maksud pertanyaan itu.
Nah kan. Salah jawab, pasti habis gue!
"Pernah juga sama mantan." Ia masih berusaha menjawab santai. Seolah bepergian bersama mantan di masa lalu bukan lagi menjadi sebuah kenangan yang berarti baginya.
Pelangi menarik napas dalam, membuat Awan mengeratkan genggamannya.
"Tapi demi Allah, aku tidak pernah pergi berdua. Selalu ada teman-teman. Ini pertama kali aku ke Puncak berdua dengan perempuan. Itu pun sama kamu, Sayang." Kalimat rayuan itu berhasil mengukir senyum di bibir Pelangi.
Untung gue masih pintar jawabnya.
Awan bernapas lega, akhir-akhir ini ia merasa Pelangi lebih sensitif dan kadang cemburuan. Walaupun diakuinya, bahwa sikap cemburu yang ditunjukkan Pelangi masih dalam batas wajar.
Siang pun bergerak menuju sore.
Sebelum pulang, mereka menyempatkan diri mampir ke sebuah gerobak sate di pinggir jalan. Karena Pelangi mendadak menginginkannya saat melihat kerumunan orang yang sedang mengantri. Terlebih, saat menyesap aroma sedap yang menguar saat membuka kaca jendela mobil.
"Yakin mau yang ini? Antriannya panjang loh, Sayang," ucap Awan sesaat setelah menepikan mobil.
Pelangi melirik beberapa orang yang sedang menunggu antrian. Ada yang duduk manis, ada pula yang berdiri karena meja sudah penuh. Di depan gerobak terlihat pula pria dan wanita yang tengah kerepotan melayani pembeli. Jika mereka tetap menunggu, mungkin akan mengantri lama.
"Cari gerobak sate yang lain saja, yuk!" tawar Awan kemudian.
"Tapi aku mau yang ini," lirih Pelangi. Wanita itu lantas menatap suaminya dengan memelas. "Yang ini saja ya, Hubby. Kalau yang antri sebanyak ini, pasti rasanya memang enak."
"Tidak apa-apa," jawabnya dengan yakin.
Meskipun harus menunggu lama, Awan akhirnya memenuhi keinginan sang istri. Pria itu mengantri dengan sabar di antara puluhan orang lainnya. Memainkan ponsel sambil sesekali melirik Pelangi yang menunggu di mobil.
Ini ngantri sate apa ngantri minyak goreng sih?
Satu jam lebih dihabiskan Awan untuk menunggu. Saat kembali ke mobil, Pelangi sedang duduk bersandar dengan mata terpejam.
"Sayang ..." Awan membelai puncak kepala sang istri untuk membangunkan. "Hey, Sayang! Bangun!"
Tubuh Pelangi menggeliat kala merasakan belaian lembut dari tangan suaminya. Sepasang mata lelahnya perlahan terbuka.
"Sudah jadi ya? Maaf, aku ketiduran." Pelangi merentangkan tangan ke samping demi merenggangkan otot-ototnya.
"Kamu capek banget, ya?" Awan naik ke mobil dengan membawa dua porsi sate. "Kita makan di sini saja, ya. Mejanya masih penuh."
"Iya, Hubby."
Sepertinya tidak percuma Awan rela mengantri panjang. Sate buatan orang Madura tersebut memang sangat enak.
"Kalau rasanya begini, tidak rugi ngantri lama."
Jika Awan menyantap dengan lahap, sebaliknya Pelangi malah terdiam menatap suaminya yang begitu menikmati makannya.
"Kenapa tidak dimakan, katanya tadi mau sate?" tanya Awan ketika menyadari Pelangi belum menyentuh makanannya.
"Dibungkus saja, ya. Sepertinya aku masih kenyang."
Awan menatapnya heran. Pelangi bahkan belum mencicipi sedikitpun. Padahal butuh perjuangan bagi Awan untuk memenuhi keinginannya.
Astaghfirullah, gue belum pernah loh ngantri panjang begini cuma buat nyenengin perempuan.
............