Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Tentang Foto Yang Mengejutkan


Ibu Humairah tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya melihat Pelangi sudah kembali ceria seperti dulu. Tidak lagi terlihat seperti seorang wanita yang menyembunyikan duka di balik senyumnya. Wanita berusia setengah abad itu mendekati putrinya yang sedang sibuk memotong sayuran di dapur. 


“Bagaimana suami kamu, Nak? Dia memperlakukan kamu dengan baik, kan?” 


Bagaimana pun juga, Ibu Humairah masih sedikit khawatir karena sekarang Pelangi hanya tinggal berdua dengan Awan di rumah mereka, tanpa pengawasan dari orang tua. 


“Alhamdulillah, Bu. Semoga Mas Awan tetap istiqamah.” 


“Alhamdulillah, ibu ikut senang. Semoga kamu cepat hamil. Ibu sudah tidak sabar mau menimang cucu.” 


Sebuah permintaan yang membuat Pelangi menampakkan rona merah di wajahnya. Semalam Awan juga mengungkapkan keinginannya untuk segera memiliki anak.


“Kalau ibu mertua kamu bagaimana?” tanyanya lagi. Mengingat pertemuannya dengan Bu Sofie hanya dapat dihitung dengan jari. Dan saat Awan tinggal di rumah, Kedua orang tuanya hanya berkunjung di akhir pekan saja. 


“Ibu juga baik dan sering telepon untuk menanyakan kabar.” 


Lega rasanya hati Ibu Humairah. Pelangi sudah diterima dengan baik di keluarga suaminya. “Alhamdulillah, Nak. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kamu.” 


“Aamiin.” 


Ibu Humairah melirik ke arah taman kecil di belakang rumah yang dapat terlihat dari dapur. Beberapa menit lalu Awan dan Zidan masih mengobrol berdua di sana. Namun, kini keduanya sudah tidak terlihat lagi. 


“Suami kamu sudah pergi, Nak?” 


“Sudah, Bu. Tadi mau pamit sama Ibu, tapi Ibu sedang ngobrol sama ibu-ibu lain. Jadi cuma titip salam.” 


“Wa alaika wa alaihis salam,” jawabnya. "Memang tadi Awan ada perlu apa sama Zidan? Kelihatannya cukup penting."


Pelangi menatap ibunya dengan senyuman. "Tidak tahu, Bu. Akhir-akhir ini Mas Awan memang cukup dekat dengan adek. Kadang pergi berdua. Mungkin Mas Awan hanya mau menanyakan sesuatu."


"Oh, ya sudah." Ia mengusap puncak kepala putrinya sebelum kembali bergabung dengan ibu-ibu lainnya untuk mempersiapkan konsumsi untuk pertemuan sore nanti. 


"Bu Mai, aku suka loh sama menantumu itu. Anaknya ternyata sangat sopan dan ramah, ganteng lagi," ucap salah seorang wanita berbadan gemuk yang sedang memotong-motong sayuran. "Pelangi beruntung sekali, ya."


"Alhamdulillah, Bu."


"Siapa tahu Awan punya saudara laki-laki, aku mau deh menjodohkan anakku sama saudaranya."


Beberapa ibu-ibu lain lantas ikut tertawa. Begitu pun dengan Ibu Humairah. "Ah, Bu Rina bisa aja."


"Aku tidak menyangka loh, kalau dia dulu kabur di malam resepsi pernikahan sampai bikin berita heboh di kompleks sini," celetuk Bu Rina sambil tertawa gemas dengan tingkah Awan.


Mendadak senyum di bibir Ibu Humairah meredup mendengar ucapan wanita itu. Pernikahan Pelangi dan Awan awalnya memang sempat menjadi bahan pembicaraan tetangga sekitar bahkan sampai sekarang.


Karena di malam pernikahan, Awan pergi meninggalkan Pelangi tanpa kabar dan mengacaukan pernikahannya sendiri.


Tak ingin tetangganya merasa tidak enak hati, Bu Humairah pun tersenyum.


"Tidak apa-apa, Bu. Kejadian itu memang mengejutkan. Tapi Insyaa Allah, semua baik-baik saja."


"Alhamdulillah," ucap ibu-ibu serentak.


......... ...


Ayah Ahmad sedang mengobrol dengan beberapa tetangga saat seorang pria datang dengan membawa kotak berwarna coklat. Ia sempat terheran, sebab tidak merasa menunggu kiriman dari siapapun. Kotak kecil yang kini digenggamnya hanya tertera ‘ditujukan untuk Ahmad Firdaus’ tanpa keterangan sama sekali. Bahkan tidak ada nama atau alamat pengirim. 


Baru saja Ayah Ahmad akan bertanya, pria yang tiba-tiba datang dengan mengendarai sepeda motor itu sudah melaju melinggalkan rumah. 


“Sebentar Bapak-Bapak, saya mau masuk dulu,” ucapnya dengan sopan kepada beberapa tetangga yang duduk.


"Silahkan Pak Ahmad."


Ayah Ahmad lalu membawa benda di tangannya ke dalam rumah. Dipikirnya, mungkin paket itu milik Ibu Humairah atau Zidan. 


Saat memasuki rumah, Pelangi dan Ibu Humairah sedang menggelar karpet di ruang tengah agar para tetangga dapat duduk. Karena rumah semakin ramai.


“Ada apa, Ayah?” tanya Pelangi sambil memperhatikan kotak kecil di tangan sang ayah. 


“Ini ada paket, tapi tidak ada nama pengirimnya,” jawabnya. “Apa mungkin ini untuk Ibu atau Zidan? Soalnya ayah tidak pernah pesan paket.” 


Ibu Humairah turut melirik kotak di tangan Ayah Ahmad. "Ibu tidak pernah pesan apa-apa. Mungkin paket itu untuk Zidan. Tapi kenapa tertulis ditujukan untuk Ayah?"


"Iya, Bu. Tidak ada keterangan lain di sini."


“Buka saja, Ayah. Mungkin paketnya memang untuk Ayah,” ucap Pelangi santai.  


“Ya sudah, ayah saja yang buka. Siapa tahu memang untuk ayah.” 


Ayah Ahmad kemudian duduk di kursi dan melepas bungkusan paket dengan hati-hati. Begitu membuka penutupnya, tampak beberapa lembar foto tersusun di sana. Seketika kelopak mata Ayah Ahmad melebar menyadari foto apa yang dikirim untuknya.


Karena terkejutnya, kotak digenggamannya pun terjatuh ke lantai hingga isinya terburai. Sebuah kejutan yang sangat tidak menyenangkan. 


Betapa tidak, foto-foto Awan sedang duduk di sebuah tempat hiburan malam, berikut beberapa foto perkelahian dengan beberapa pria ada di sana. Dan satu yang benar-benar membuat dada mereka penuh sesak, foto kebersamaan Awan dengan Priska turut menjadi pelengkap.


“Astaghfirullahaladzim.” 


Ayah Ahmad menatap Pelangi penuh tanya. 


............