
Guntur merasakan lemas pada seluruh bagian tubuhnya. Punggung tegapnya bersandar pada dinding di sudut ruangan. Menatap nanar tubuh lemah sang istri dengan menggantungkan harapan pada dokter yang sedang berusaha menyelamatkan nyawanya.
Perasaan frustrasi semakin membekuk pikiran pria itu kala menatap garis pada alat pendeteksi detak jantung yang masih terlihat lurus.
“Kita coba sekali lagi!” ucap salah satu dokter, yang kemudian menempelkan alat kejut jantung ke bagian dada sang pasien.
Mata Guntur terpejam rapat, bersamaan dengan cairan bening yang mengalir di sudut matanya. Ia hampir menyerah, namun garis lurus pada layar monitor yang tiba-tiba menunjukkan gelombang menumbuhkan secercah harapan dalam hatinya.
“Alhamdulillah.” Semua orang terdengar menyerukan kata itu. Di sudut sana, Guntur menghela napas napas panjang.
Setelah memastikan kondisi Maryam cukup stabil setelah penanganan dokter, Guntur keluar dari ruangan dan memilih duduk bersandar di kursi ruang tunggu. Hatinya dipenuhi rasa syukur.
Tak lama, tepukan yang mendarat di punggungnya membuyarkan lamunan pria itu. Guntur mendongak untuk menatap sosok yang menghampirinya. Umi ..."
“Bagaimana Maryam?” tanya umi yang kemudian duduk di sisi putranya.
“Alhamdulillah, sudah stabil, Umi.” Guntur menghela napas panjang. Baru saja mereka melewati saat-saat paling mengkhawatirkan.
Umi turut mengucap syukur dengan mengatupkan tangannya di depan dada.
“Alhamdulillah. Semoga Maryam cepat pulih. Umi juga sudah bicara dengan Pelangi dan suaminya."
Guntur melirik uminya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Maaf, Umi. Saya sudah membuat Umi dan Abah malu."
"Umi mengerti keadaan kamu. Syukurlah, demi Maryam, Pelangi akan membatalkan niatnya untuk melaporkan kamu.”
Guntur terkesiap dan tak menyangka Awan mau berbaik hati setelah semua perbuatan jahatnya. “Tidak apa-apa kalau mereka mau melapor. Semua memang salah saya.”
“Karena itulah, setelah Maryam membaik, kita ke rumah Pelangi untuk meminta maaf sama-sama.”
“Soal marah atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting kamu ikhlas dan berjanji tidak akan mengulangi.” Umi kembali mengusap bahu putranya itu. “Sekarang tinggal kamu yang harus memperbaiki semuanya. Setelah Maryam pulih, mari kita kembali ke Malaysia. Kamu berobat yang benar sampai sembuh dan memulai semuanya dengan Maryam.”
“Insyaa Allah, Umi. Semoga Maryam mau memaafkan.”
...........
Pagi harinya ....
Belum ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Maryam setelah tersadar semalam. Tidak pula terlihat genangan air mata setelah mengetahui kenyataan menyakitkan, bahwa calon buah hatinya tak dapat diselamatkan.
“Kamu mau makan sesuatu?” tawar Guntur.
Maryam hanya menyahut dengan gelengan kepala, tanpa suara. Hal yang membuat Guntur memilih menarik kursi untuk duduk di samping wanita itu dan menggenggam tangannya.
“Aku minta maaf, aku sadar banyak salah. Apa kamu masih mau memberiku kesempatan?”
Senyap! Tak ada sahutan pun dari Maryam. Wanita itu bahkan tak memandang suaminya sedetik pun. Hingga pintu ruangan terbuka, memunculkan umi dan abah.
Umi yang semalam mendapat kabar dari Guntur bahwa menantunya telah siuman tak sabar menunggu pagi untuk memastikan keadaan Maryam. Wanita paruh baya itu langsung memeluk Maryam dengan lelehan air mata.
“Kamu sabar ya, Nak. Allah akan menganti setiap kehilangan dengan rencana yang lebih baik,” bujuk umi mengusap punggung Maryam.
“Iya, Umi.” Jawaban singkat itu menjadi suara pertama yang keluar dari mulut Maryam sejak tersadar. Guntur menatapnya nanar.
Ia sadar, Maryam mungkin butuh waktu untuk memaafkan.
...........