
Guntur merasakan getaran hebat yang tiba-tiba membekuk seluruh tubuhnya hingga begitu sulit untuk digerakkan. Keberadaan wanita yang diam-diam dihalalkannya beberapa waktu lalu itu membuatnya seperti tersambar petir di siang bolong.
Hanya dalam hitungan detik, seluruh kesadarannya telah kembali. Tangannya refleks menjauhkan sosok yang tengah membelenggu tubuhnya dengan erat, mendorong hingga mundur beberapa langkah.
Maryam menghunus tatapan penuh luka dari reaksi penolakan suaminya. “Mas, aku sengaja datang ke mari untuk membicarakan pernikahan kita,” lirihnya dengan tangis tertahan.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!"
"Ta-tapi aku sedang mengan ...." Belum selesai Maryam memberitahu tentang dirinya yang tengah berbadan dua, sudah dipotong terlebih dahulu oleh Guntur.
"Aku bilang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, semua sudah berakhir!" teriak Guntur penuh amarah.
Sepasang mata zambud milik Guntur kemudian mengarah pada satu titik yang berada tak jauh darinya. Pelangi mengeratkan genggamannya pada lengan sang suami sebagai sikap waspada.
“Pelangi, ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Tolong dengarkan aku dulu,” elaknya dengan cepat. Kakinya terayun mendekat, namun seketika terhenti saat Awan menyembunyikan Pelangi di balik punggungnya.
“Mau ngapain lo?” Awan mencoba memberi peringatan, menyorot Guntur dengan tatapan tajam.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu, Pelangi!” Seolah tak peduli, Guntur kembali berusaha mengingkari kenyataan. Pria itu semakin mendekat, namun Awan tidak memberinya celah sedikit pun.
BUGH!
Satu kepalan tinju dari Awan pun mendarat sempurna di wajah mulus Guntur, hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah seraya memegangi pipinya yang terasa kebas.
Melihat itu, Maryam pun menjerit dan menghampiri suaminya, akan tetapi Guntur mendorongnya hingga terjatuh. Sementara Pelangi yang masih bersembunyi di balik punggung Awan segera berlari menghampiri Maryam. Wanita itu tampak sedang berusaha mencerna sikap suaminya.
"Kamu tidak apa-apa, Maryam?" tanya Pelangi.
Maryam tidak segera menjawab. Otaknya susah payah mengurai benang kusut di otaknya. Semua ucapan dan perilaku Guntur coba ia bedah dalam hati hingga membentuk sebuah kesimpulan.
"Maryam?" panggil Pelangi sekali lagi, membuat Maryam tersadar dari lamunan.
"Pe-Pelangi, boleh aku tanya sesuatu?" Suara Maryam terdengar gemetar ketika mengajukan pertanyaan itu. "Apakah wanita yang dimaksud suamiku selama ini adalah kamu?"
Pelangi terdiam. Tetapi diamnya seolah menjadi jawaban atas semua tanda tanya di dalam benak Maryam. Tanpa dapat ditahan, kristal bening yang sedari tadi menggenang di bola matanya meleleh membasahi pipi.
Napas Maryam seperti tertahan. Tak ada kata yang dapat mewakili rasa sakit yang dirasakannya sekarang. Namun, ia sadar semua bukanlah salah sahabatnya itu.
"Jangan minta maaf, kamu tidak salah. Suamiku lah yang salah dalam mencintai." Isak tangis pun kembali terdengar. Dua wanita itu saling memeluk satu sama lain.
“Apa maksud kamu menyusul aku ke mari? Kamu mau menghancurkan aku, kan?” Teriakan Guntur yang menggelegar membuat Pelangi mengeratkan pelukannya pada tubuh Maryam.
Guntur bergerak maju untuk menghampiri istri sirinya itu, namun segera dihalangi oleh Awan yang berdiri tepat di depan dua wanita di belakangnya.
“Jangan kasar sama perempuan!” ucapnya seraya mendorong dada Guntur.
“Jangan ikut campur! Ini bukan urusan kamu!” Guntur menunjuk Awan dengan murka. Sikap arogannya membuat Awan terkekeh sinis.
“Jadi laki-laki jangan mau enaknya saja, berani berbuat harus berani bertanggungjawab,” sindir Awan dengan telak.
Bukannya redam, ucapan Awan yang seolah sedang menuntut membuat Guntur semakin murka. Tangannya terkepal geram, ia bergerak maju untuk menyerang.
“Guntur!” Suara berat yang berasal dari lokasi yang sama membuat Guntur terhenyak. Pria itu menoleh dengan penuh keraguan. Sepasang pria dan wanita paruh baya yang menatap penuh tanya membuatnya menunduk.
Keterkejutan akibat kedatangan Maryam yang tiba-tiba membuat Guntur melupakan segalanya, termasuk kedua orang tuanya yang tadi datang ke klinik bersamanya untuk berkonsultasi.
“Abah, Umi!”
Guntur terpaku di tempat, waktu seolah terhenti selama beberapa saat baginya.
Apa lagi ketika pria bertubuh tinggi gemuk dengan wajah khas Timur Tengah itu mendekat. “Apa maksud semua ini, Guntur? Jelaskan kepada abah!”
Layaknya seorang terdakwa dalam persidangan yang terbukti bersalah, tak ada sepatah kata pembelaan pun yang mampu terucap dari mulut Guntur.
Detik itu juga, dua tamparan keras mendarat di wajahnya.
............