
.............
Ayah Ahmad menatap Pelangi lekat-lekat. Dari wajah putrinya yang tulus tanpa beban itu, ia pun mulai lega setelah tidak mendapati tanda kebohongan. Justru Pelangi tampak sangat tenang.
“Ayah, Ibu, aku tahu bagaimana suamiku yang sekarang. Ayah sama Ibu jangan terlalu memikirkan. Mas Awan pasti punya alasan kenapa mendatangi tempat seperti itu, dan aku percaya bukan untuk melakukan perbuatan maksiat.”
Ayah Ahmad mengangguk setuju, begitu pun dengan Ibu Humairah. Mereka menghela napas panjang. Sepenuh hati setuju dengan ucapan Pelangi.
"Baiklah, Nak. Semoga memang seperti itu."
........ ...
Sore harinya ....
Semua persiapan pertemuan sudah siap. Ada banyak kotak makanan yang sudah dibawa ke masjid. Di ruang tamu ayah sedang berbincang dengan Guntur yang sore itu menyempatkan diri datang lebih awal sebelum pertemuan dimulai.
Tak lama berselang, Zidan pun hadir di tengah mereka. "Kamu dari mana, Nak? Kenapa baru pulang? Bukannya hari ini tidak kerja, ya?"
"Iya, Ayah. Aku habis urus sesuatu, makanya lama pulang."
Sementara Pelangi masih berdiri di dapur menatap minuman yang baru dibuatnya. Sejak Guntur mendatanginya malam itu untuk menceritakan aib masa lalu Awan, ia merasa enggan untuk bersitatap dengan pria itu. Bukan karena membenci, tetapi hanya untuk menjaga pandangan.
“Kenapa tehnya tidak dibawa keluar?” Sapaan ibu membuyarkan lamunan Pelangi.
“Tidak apa-apa, Bu. Apa bisa Ibu saja yang bawa minumannya keluar?”
Ibu Humairah menatap putrinya heran. “Memang kenapa? Kamu sakit?”
Pelangi menggeleng pelan. “Tidak, Bu. Hanya saja ....” Ucapan Pelangi menggantung.
Melihat raut wajah putrinya, Ibu Humairah pun mengerti bahwa Pelangi mungkin tidak enak dengan Guntur yang pernah gagal untuk melamarnya.
“Ya sudah, biar ibu saja yang bawa. Suami kamu juga barusan datang."
Pelangi yang tadinya murung langsung tersenyum. “Mas Awan sudah datang?”
"Iya, baru saja. Tapi katanya mau ke masjid dulu karena belum shalat ashar.”
Pelangi mengangguk sambil tersenyum.
Ibu pun segera membawa minuman ke ruang tamu. Ayah, Guntur dan Zidan sedang mengobrol santai. Guntur baru saja memberitahu tentang Awan yang merupakan salah satu bawahannya di kantor. Ayah Ahmad cukup terkejut mendengarnya, berbeda dengan Zidan yang terlihat biasa saja.
“Wah, ayah benar-benar tidak menyangka kalau Nak Awan bekerja di perusahaan Nak Guntur,” ucap Ayah Ahmad. “Semoga keberadaan Nak Awan bisa memajukan perusahaan.”
"Kecelakaan itu memang membuat Nak Awan tidak bisa berjalan selama hampir tiga bulan."
"Memangnya kecelakaannya kenapa, Ayah? Soalnya di kantor saya sempat dengar beberapa berita bahwa Awan kecelakaan karena berkendara dalam keadaan mabuk."
Tatapan Zidan langsung tertuju kepada Guntur. Sedangkan Ayah Ahmad menghela napas panjang.
"Astaghfirullahaladzim. Fitnah itu lebih besar bahayanya dari pada pembunuhan. Berita itu tidak benar, Kak Guntur. Sebenarnya Kak Awan kecelakaan karena sedang buru-buru menyusul Kak Pelangi," ucap Zidan seolah sedang membela kakak iparnya.
Guntur terkejut mendengar pembelaan Zidan. "Syukurlah. Semoga memang seperti itu adanya."
“Ayo diminum dulu tehnya, Nak Guntur,” ucap Ayah Ahmad mencoba mengalihkan pembicaraan.
Guntur tersenyum ramah, lalu menyeruput secangkir teh yang baru saja disajikan Ibu Humairah. “Oh ya, Ayah ... sebenarnya ada sesuatu yang mau saya tanyakan tentang pembangunan Rumah Tahfiz.”
“Ada apa, Nak?”
“Saya berniat ikut menyumbang untuk pembebasan lahan itu. Saya sudah siapkan dana sekitar lima ratus juta. Sisanya mungkin bisa didapat dari para warga di sini.”
Ayah Ahmad terlihat cukup bahagia dan lega mendengar niat baik Guntur. “Alhamdulillah, semoga menjadi ladang amal jariyah untuk Nak Guntur. Semoga Allah membalas dengan kebaikan berlipat.”
“Aamiin.”
Zidan ikut tersenyum. “Alhamdulillah, terima kasih, Kak Guntur. Tapi dana untuk pembebasan lahan sudah lebih dari cukup.”
Baik ayah maupun Guntur sangat terkejut mendengar ucapan Zidan. Sebab pagi tadi dana yang terkumpul masih sangat jauh dari kata cukup, bahkan belum mencapai angka seratus juta.
“Bagaimana bisa, Nak?” tanya ayah masih tak percaya.
“Iya, Ayah! Alhamdulillah, sudah cukup. Pagi tadi ada seorang hamba Allah yang sudah menyedekahkan sebagian hartanya. Sisanya juga masih cukup untuk melanjutkan pembangunan.”
Rasa tak percaya masih terlihat dari raut wajah ayah. “Tapi siapa yang menyumbang sebanyak itu?”
Pandangan Zidan lalu berkeliling ke sekitar demi memastikan tidak ada orang lain lagi yang mendengar pembicaraan mereka.
“Kak Awan, Yah. Tapi Kak Awan berpesan, agar namanya tidak diumumkan sebagai salah satu donatur.”
Guntur tersentak dengan mata terbelalak.
...........