
Awan melajukan mobil menuju kantor setelah mengantar Pelangi pulang ke rumah terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan Pelangi yang lebih banyak diam setelah sarapan. Bahkan saat akan turun dari mobil, Pelangi hanya mencium tangan sang suami, memberi salam dan masuk ke rumah.
Benar-benar tidak seperti Pelangi yang biasanya bersikap sangat lembut, yang membuat Awan jatuh hati di setiap harinya.
Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit, Awan sudah tiba di parkiran kantor. Sebelum turun dari mobil, ia meraih ponsel dan mengetikkan sebuah pesan.
“Sayang, aku minta maaf, ya.”
Ia duduk bersandar beberapa saat menunggu balasan. Namun, alih-alih membalas, Pelangi bahkan belum membuka pesan itu. Akhirnya, Awan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana dan kemudian meninggalkan parkiran memasuki gedung kantor.
Awan menekan tombol pada panel dan menunggu beberapa saat hingga pintu lift terbuka. Baru saja masuk, telinganya sudah disuguhkan oleh suara menggelegar yang cukup akrab di telinganya. Sontak ia menoleh, tampak Guntur sedang menegur seorang petugas kebersihan wanita dengan kasar.
“Ngapain tuh Bandar Korma marah-marah pagi-pagi?” tanya Awan dalam batin.
“Kamu kalau tidak bisa kerja silahkan mengundurkan diri sekarang juga! Perusahaan saya tidak butuh orang yang tidak bisa kerja seperti kamu!” Suara keras Guntur dapat didengar Awan dengan jelas.
Sebenarnya, Awan tak begitu peduli dengan hal-hal yang bukan urusannya. Namun, melihat wanita berseragam orange itu mulai terisak, rasa kemanusiaannya muncul. Akhirnya, ia mendekat.
“Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?”
Guntur menoleh dengan raut wajah bertambah kesal. Mulutnya yang sudah siap memaki seketika mengatup rapat saat menyadari siapa yang tengah berdiri di hadapannya. “Saya sedang menegur seorang pekerja yang tidak beres cara kerjanya.”
.
“Dengan berteriak?” Ucapan Awan yang terdengar seperti sindiran membuat Guntur kehilangan kata-kata.
Sudut mata Awan melirik wanita kira-kira berusia 30 tahunan itu. Ia tampak ketakutan.
Sebuah ember dengan posisi terbalik di lantai, berikut genangan air di bawah kaki Guntur, sudah cukup bagi Awan untuk menebak apa yang terjadi. Sepertinya, petugas kebersihan tersebut tak sengaja menumpahkan air yang membuat sang bos naik pitam.
“Maaf, Pak! Saya benar-benar tidak sengaja menumpahkan air. Saya akan bersihkan sekarang,” ucap wanita itu dengan suara gemetar.
“Enak saja kamu minta maaf dengan gampangnya.”
Ribet amat ini bos, kepleset aja kagak!
Segala ucapan Awan layaknya angin berhembus, sama sekali tak diindahkan oleh Guntur.
“Saya tetap akan memberi kamu sanksi untuk keteledoran ini. Bagaimana kalau tadi saya jatuh di sini? Kamu mau tanggung jawab?”
“Allah Yang Maha Kuasa saja pemaaf, siapalah kita yang hanya manusia biasa sampai tidak mau memaafkan?” Ucapan Awan membuat Guntur tersentak.
Sorot matanya yang penuh kebencian seperti menikam Awan.
“Assalamu’alaikum.” Tiba-tiba suara tak asing muncul di tengah-tengah mereka.
Awan dan Guntur menoleh bersamaan.
“Wa’alaikumsalam, Dek!” jawab Awan.
Guntur terperangah saat menyadari keberadaan Zidan di sana sampai lupa untuk menjawab salam.
Tadi, Awan menghubungi Zidan dan meminta untuk bertemu guna membicarakan sesuatu yang penting. Karena pagi ini Zidan tak ada kegiatan lain, maka ia memutuskan untuk datang lebih awal ke kantor suami kakaknya.
Di sisi lain, layaknya kerupuk yang disiram air, semua sikap keras, galak dan berkuasa yang tadi ditunjukkan Guntur di hadapan Awan menghilang entah ke mana. Ia melirik wanita di hadapannya, lalu mengulas senyum tipis.
“Silahkan kamu kembali bekerja. Tapi lain kali hati-hati, ya,” ucap Guntur dengan senyuman ramah.
Meskipun terlihat bingung, namun petugas kebersihan tersebut segera mengangguk. Setidaknya, ia terlepas dari sanksi berat yang mungkin dijatuhkan sang bos.
“Terima kasih, Pak.”
Sementara Awan hanya melirik Guntur dengan ekspresi datar. Kesal, tentu saja!
Tingkah lo ngingetin gue sama uang receh gopekan, Bro. Bermuka dua!
..........