
Perlahan kelopak mata Pelangi terbuka ketika meraba pembaringan di sebelahnya. Biasanya ia akan tidur dengan memeluk suaminya. Namun, kini Awan tak berbaring di sisinya, padahal waktu masih menunjukkan pukul dua pagi.
Pandangan Pelangi mengelilingi kamar dengan pencahayaan temaram. Awan tampak berdiri menghadap jendela, sehingga posisinya membelakangi ranjang dan hanya menggunakan celana piyama. Meskipun cahaya kamar seadanya, namun lukisan naga di punggungnya masih terlihat jelas.
"Hubby!"
Lamunan Awan membuyar kala merasakan tangan halus melingkar erat di perutnya. Juga kepala Pelangi yang bersandar di punggungnya.
"Kamu terbangun?"
"Iya. Hubby kenapa tidak tidur?" tanyanya dengan masih bersandar di punggung.
Awan menarik napas dalam, kemudian membalikkan tubuhnya. Ia menarik Pelangi ke dalam pelukan dan menciumi ubun-ubunnya. "Aku belum bisa tidur."
"Apa ada masalah?" Pelangi mendongak menatap mata sang suami.
Iya, Hunny. Masalah besar, ada yang tidak bisa move on dari kamu!
"Sedikit, tapi tidak apa-apa." Awan mengeratkan pelukan. Rasa nyaman saat memeluk Pelangi membuatnya seperti tak ingin melepas. Begitu pun dengan Pelangi yang merasa begitu damai saat bersandar di dada sang suami.
"Terus kenapa sampai tidak bisa tidur?"
Awan tersenyum. Bukannya ingin menyembunyikan sesuatu dari Pelangi, tetapi ia tidak ingin masalah penyerangan tadi membuat istrinya khawatir berlebihan.
"Sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiranku."
"Apa itu?"
"Ngobrol sambil baring, yuk!"
Awan membawa Pelangi ke tempat tidur. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu, sementara tangannya ia letakkan di kepalanya, meminta Pelangi mengelus rambutnya.
"Hunny, kenapa dikatakan dalam sebuah ayat bahwa Allah akan menguji umatnya?"
Pelangi membelai rambut suaminya sambil tersenyum. "Ada tiga sebab kita diuji. Yang pertama, untuk menghapuskan dosa yang telah berlalu. Ke dua, Allah ingin memberi pahala kepada kita, dan yang ke tiga, Allah ingin menaikkan derajat kita."
"Bentuk ujiannya seperti apa?"
"Ujian itu bukan hanya tentang cobaan, Hubby. Kenikmatan dunia pun adalah bentuk ujian. Tergantung keimanan seseorang, apakah dia terlena atau bersyukur."
"Paling berat yang mana?"
"Ujian terberat bagi seorang perempuan adalah harta. Dia bisa khilaf dan berbuat apa saja demi mendapatkan harta. Ada yang mampu meninggalkan suami atau bahkan berusaha merebut pasangan orang lain demi harta."
Ingatan Awan lantas tertuju kepada sang mantan kekasih, Priska.
"Terus ujian terberat laki-laki apa?"
"Wanita."
"Kenapa wanita? Kan banyak ujian lain?"
Awan tersentak, dan langsung menatap Pelangi. Sepenuh hatinya pun mengakui pernah khilaf karena wanita.
Lo nggak lagi nyindir gue kan, Hunny!
"Karena itulah kesetiaan seorang istri diuji saat suaminya tidak memiliki harta, dan sebaliknya kesetiaan seorang suami diuji ketika dia berkelimpahan harta. Wanita yang sudah terbuai oleh ujian harta dan laki-laki yang sudah terbuai godaan kecantikan, sudah pasti akan mati hati nuraninya."
"Hunny, kalau seseorang berniat jahat, kita harus apa? Kalau dibalas dikit nggak dosa, kan ya?"
Gue mau minta izin bogem raja setannya kalau ketemu nanti. Satu bogeman aja, Hunny! Please!
Awan mendongakkan kepala dan menatap Pelangi penuh harap. Rasanya kedua kepalan tinjunya sangat tidak sabar untuk menghujam ke wajah menyebalkan dalang yang telah mencoba mencelakainya tadi.
"Tidak usah dibalas!"
Awan menatap tak percaya. Bagaimana mungkin diam saja saat ada orang yang berusaha berbuat jahat terhadapnya?
Jadi gue harus diam aja gitu?
"Terus gimana?"
Dengan penuh kesabaran, Pelangi terus menjelaskan. "Seperti buah busuk pada pohon yang akan jatuh sendiri, begitu pula dengan orang yang hatinya busuk, akan jatuh karena perbuatannya sendiri."
Pelangi membungkukkan kepala dan mencium kening suaminya, membuat mata Awan terpejam menikmati kelembutan sentuhan istrinya.
"La takhaf wa la tahzan, Hubby! Innallaha ma'ana."
(Jangan takut dan jangan bersedih, Hubby! Sesungguhnya Allah bersama kita)
........ ...
Mobil milik Awan berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri mengantar Pelangi.
Ayah Ahmad dan Ibu Humairah menyambut dengan ramah. Saat ini juga ada beberapa tetangga yang sedang membantu Ibu Humairah untuk persiapan pertemuan sore nanti. Awan terus menundukkan pandangan setelah menyadari beberapa gadis terus menatapnya.
Sedangkan Zidan tampak sudah rapi dengan jaket dan tas ransel di punggungnya, sedang mendorong sepeda motornya keluar. Awan pun segera menghampirinya.
"Dek, kamu buru-buru berangkatnya?" tanya Awan.
"Tidak juga, Kak. Kenapa?"
"Ada mau kakak tanyakan ke kamu. Tapi ini rahasia."
Senyum sumringah di wajah Awan membuat Zidan menatapnya dengan curiga.
Jangan-jangan Kak Awan mau tanya tentang urusan rumah tangga lagi.
...........