Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Cemburu dan Posesif


Maaf ya, untuk kemarin-kemarin aku jarang update. Aku ibu satu anak dan beberapa hari belakangan anakku sedang sakit. Jadi aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau beberapa hari belakangan jarang up.


Sehat selalu teman-teman.


......


*


*


"Ya tidak begitu juga konsepnya, Mas. Kalau lupa baca doa sebelum makan, bisa membaca bismillaahi fii awwalahu wa aakhirohu."


"Artinya apa?"


"Dengan menyebut nama Allah pada permulaan dan akhirnya." Bagai mengajari seorang anak kecil, Pelangi menjelaskan secara perlahan, agar tidak membuat Awan merasa bingung.


Awan meraih buku catatan kecil miliknya. Sebuah buku yang ia gunakan untuk mencatat setiap hal baru yang dipelajarinya agar tidak terlupa. Ia lalu mencatat bacaan yang baru saja diberitahu Pelangi.


"Boleh tanya sesuatu?"


"Boleh."


"Kalau manusia yang banyak dosa seperti aku, apakah akan ada pengampunan?"


"Al Ghafur. Sesuai namanya dalam Asmaul Husna, Allah Maha Pengampun akan memaafkan dosa hambanya yang bersungguh-sungguh, meskipun dosa itu sebanyak buih di lautan. Allah lebih menyukai taubatnya pendosa dari pada orang sholeh yang selalu merasa dirinya paling benar."


"Tapi aku kan kebanyakan dosa. Aku rasa aku akan dimasukkan ke neraka."


"Naudzubillah min zalik. Jangan berkata seperti itu, Mas. Pertolongan Allah hanya antara kening dan sajadah. Sedekat itulah, maka berdoalah meminta perlindungan dari panasnya api neraka."


"Tapi kadang aku malu dan merasa tidak layak."


"Dikisahkan sayap Malaikat Mikail terbuat dari zabarjad hijau, di setiap helai bulunya ada satu juta wajah dengan satu juta mata dan satu juta mulut. Pada setiap matanya menangis menitikkan 70.000 tetes air mata, dan pada setiap mulutnya selalu bertasbih dan memohon pengampunan bagi mukminin yang melakukan dosa."


Awan terhenyak.


"Malaikat saja yang suci dari dosa begitu takut pada api neraka sampai setiap saat menangis memohon pengampunan untuk kita, lalu kenapa kita manusia merasa bangga berbuat dosa?"


Napas Awan seperti tertahan. Ia teringat akan semua perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya. Mengabaikan shalat, merasa keren memasukkan minuman haram ke dalam perutnya dan banyak perbuatan maksiat lain yang bahkan Awan sendiri tak sanggup menghitungnya.


Dalam diam ia termenung.


...........


Seperti biasa, Ayah Ahmad akan menunggu waktu shalat maghrib dengan duduk di ruang keluarga. Awan datang dengan menggunakan sarung dan peci. Berjalan dengan tongkatnya dan duduk di kursi.


"Nak Awan bagaimana kakinya?" tanya Ayah Ahmad, menatap pergelangan kaki Awan.


"Alhamdulillah, jauh lebih baik, Ayah. Rabu besok mau kontrol ke rumah sakit lagi."


"Alhamdulillah. Semoga secepatnya bisa sembuh seperti sedia kala."


"Belum. Katanya setelah kuliah dan bekerja mau ke bandara dulu."


"Ke bandara, ngapain?"


Baru saja bibir Ayah Ahmad terbuka untuk menjawab, sudah muncul Zidan dari balik pintu. Kelopak mata Awan pun mengerut ketika melihat sosok pria yang masuk bersama Zidan. Meskipun baru pernah bertemu satu kali, namun ia masih dapat mengingat dengan jelas pemilik wajah yang pernah berniat melamar Pelangi.


Ngapain dia ke sini lagi? gerutunya dalam hati.


"Assalamu'alaikum, Ayah."


"Wa'alaikumsalam, Nak Guntur." Ayah Ahmad langsung bangkit dari tempat duduknya menyambut kedatangan Guntur.


"Ayah apa kabar?" Ramah pria itu menyapa.


"Alhamdulillah, sehat. Ayo duduk dulu." Ayah Ahmad mempersilahkan Guntur untuk duduk.


Namun sebelumnya, pria itu menyapa Awan terlebih dahulu. Ia menunjukkan senyum ramah, begitu pun dengan Awan. Meskipun dengan senyum seadanya.


"Ayah, Kak Guntur sengaja datang dari Malaysia. Kak Guntur menjadi donatur untuk Rumah Tahfiz yang sedang dalam pembangunan di samping masjid kita," ucap Zidan.


Senyum cerah terlihat di wajah Ayah Ahmad mengetahui niat baik Guntur. Pembangunan Rumah Tahfiz tersebut memang sedang terkendala karena terbatasnya dana. "Alhamdulillah. Semoga menjadi ladang amal jariyah untuk Nak Guntur."


"Aamiin, Ayah. Saya senang bisa membantu."


Obrolan ringan pun mewarnai ruang keluarga sore itu. Awan sempat merasa kalah jauh dari Guntur dalam hal pengetahuan agama. Apalah dirinya yang hanya seorang pendosa? Begitu pikirnya.


Tak lama berselang Pelangi datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi teh. Dengan pandangan menunduk, ia menggeser ke hadapan Guntur. Satu hal yang disadari oleh Awan, sesekali Guntur memandangi Pelangi. Kemudian kembali menundukkan pandangan setelahnya.


Melihat itu, rasa panas terasa merambat ke seluruh tubuhnya. Sangat tidak rela jika ada yang memandangi istrinya.


Gue colok juga itu mata!


Ia menarik napas panjang dan menatap Pelangi. "Hunny, bisa bantu aku ke kamar?"


Wajah Pelangi mendadak merah mendengar Awan yang menyematkan panggilan sayang di hadapan semua orang.


"Bisa, Mas." Dengan cepat Pelangi menyambut uluran tangan suaminya. Menopang tubuh berat itu menuju kamar. Sebenarnya Awan tidak benar-benar membebani Pelangi dengan tubuh besarnya. Segala sikapnya hanya untuk menunjukkan kepada pria berwajah Timur Tengah itu, siapa pemilik wanita yang dipandanginya.


Enak aja lo liatin istri orang! Dosa tahu!


Sementara Zidan mengatupkan bibirnya rapat, menatap Awan dan Pelangi yang meninggalkan mereka menuju kamar.


Yang dulu katanya Kak Pelangi kolot dalam berpakaian dan cara berpikir, sekarang jadi posesif dan cemburuan.


...........


...........