
Selepas meninggalkan rumah Ayah Ahmad, sepasang suami istri itu bertolak menuju rumah Ayah Fery. Sejak pindah kembali ke rumah sendiri, mereka memang belum pernah bertemu lagi. Terakhir adalah ketika Awan dan Pelangi masih tinggal di rumah Ayah Ahmad.
Bu Sofie menyambut Pelangi dengan sangat ramah. Melepas rindu dengan sebuah pelukan hangat. Kini mereka sedang mengobrol di ruang keluarga dengan minuman dan makanan ringan di meja.
"Jadi kapan kamu mau bergabung di perusahaan kita?" tanya Ayah, meskipun ia yakin putranya itu tidak begitu tertarik dengan kedudukan tinggi di perusahaannya.
"Aku kan masih ada proyek yang belum selesai, Yah."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Ayah akan tunggu kapan pun kamu mau bergabung."
Ayah Fery menyeruput secangkir teh hangat, lalu setelahnya melirik Pelangi yang sedang mengobrol dengan ibu mertuanya.
“Oh ya Pelangi, apa Awan benar-benar sudah berubah dan tidak pernah mabuk-mabukan lagi?” Pertanyaan itu membuat Awan menekuk wajahnya.
"Astaghfirullah, suudzon itu dosa, Ayah," balas Awan.
Pelangi merespon perdebatan kecil antara ayah dan anak itu dengan senyuman. “Alhamdulillah, Yah. Sudah tidak lagi. Setiap hari Mas Awan semakin banyak kemajuan.”
“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Nanti kalau dia berulah lagi, kamu beritahu ayah.”
"Baik, Ayah."
"Malam ini kalian nginap di sini kan?" tanya Bu Sofie setelahnya. "Ibu mau belajar memasak sama Pelangi besok."
Hampir setiap hari Bu Sofie berkirim pesan dengan Pelangi hanya untuk menanyakan resep masakan. Kadang ia bingung membedakan berbagai jenis bumbu dapur.
Sepasang manik hitam Awan pun membulat mendengar ucapan sang ibu. Seumur hidup ia belum pernah sekali pun melihat ibunya itu menyentuh barang di dapur.
"Ibu serius lagi belajar masak?" tanyanya.
"Memang kenapa?" Bu Sofie melotot menatap putranya.
"Berarti ayah harus siap-siap jadi food taster ini," celetuk Awan sembari tertawa kecil. "Yah, masakan ibu enak nggak?"
Sudut mata ibu mengerut mendengar ledekan Awan. Pagi tadi, ia belajar memasak dan salah memasukkan gula ke dalam sup buatannya, yang membuat rasa masakanya menjadi manis.
"Kualat kamu sama ibu, Wan!" pekik Bu Sofie.
Ruangan itu pun seketika riuh oleh tawa Awan dan Ayah.
...........
Pelangi menuruti permintaan mertuanya untuk menginap malam ini. Pagi besok, mereka janjian untuk belajar memasak bersama.
Pandangan Pelangi berkeliling saat memasuki kamar suaminya. Tidak banyak perubahan sejak pertama kali memasuki kamar itu beberapa bulan lalu. Masih lekat pula dalam ingatannya malam pertama pernikahannya, ketika ia mendapati sang suami yang masih lengkap dengan jas pengantin, tertidur di sofa dalam keadaan mabuk.
Pelangi mengulas senyum tipis. Awan yang sekarang telah mengalami banyak perubahan. Mengganti rasa takut dengan rasa nyaman dan bahagia.
"Aku mau mandi dulu, ya. Gerah!" ucap Awan.
“Iya, Hubby. Mau aku siapkan air hangat?”
"Tidak usah, Sayang." Awan mengeluarkan handuk dari lemari dan segera masuk ke kamar mandi. Sementara Pelangi berganti pakaian.
Karena tidak memiliki pakaian ganti, ia akhirnya menggunakan piyama milik Awan. Setelahnya, ia mengeluarkan piyama lain untuk sang suami.
Didorong oleh rasa penasaran, ia membuka kotak tersebut. Sebuah kalung berlian yang sangat indah dan berkilau.
"Wah, cantik sekali." Mata Pelangi pun berbinar saat menyadari ada inisial PF pada kalung tersebut, yang kemudian dipikirnya mewakili nama Pelangi Faranisa.
“Kapan Hubby memesannya? Dan kenapa kalungnya malah disimpan di sini, bukan di rumah?”
Pelangi langsung memposisikan dirinya di depan cermin dan meletakkan kalung berlian di antara leher dan dada. Sangat cantik dan elegan.
Pelangi masih terpaku memandangi pantulan dirinya di depan cermin ketika Awan keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk melilit di pinggangnya.
Bibirnya menyeringai ketika tatapannya tertuju pada Pelangi yang sangat menggemaskan dengan piyama kedodoran di tubuh kecilnya.
Namun, senyum itu mendadak menghilang menyadari benda apa yang sedang digenggam istrinya. Tubuhnya seperti terpaku di tempat.
Sementara Pelangi yang masih tak menyadari reaksi terkejut suaminya, masih terfokus dengan kejutan yang baru ditemukannya.
"Sayang, kamu ...."
"Kenapa, Hubby?" tanya Pelangi tanpa menoleh.
"I-tu ka-lungnya." Suara Awan mulai terdengar gemetar.
Spontan Pelangi menoleh ke arah Awan. Senyum cerahnya perlahan meredup seiring dengan raut ketegangan di wajah Awan.
“Kenapa dengan kalungnya?” tanya Pelangi, membuat Awan menundukkan kepala seakan tak berani lagi menatapnya.
Kebisuan pun tercipta selama beberapa detik, Pelangi terdiam menunggu jawaban dari Awan.
“Maafin aku, Sayang. Aku lupa kalau kalung itu masih ada di rumah ini. Aku pikir sudah—”
Pelangi kembali tersenyum. “Tidak apa-apa, Hubby. Aku sangat suka kalungnya.” Pelangi kembali menatap kalung berlian di tangannya. "Kamu sengaja mau ngasih aku kejutan, ya?"
Rasa bersalah yang besar tiba-tiba menjalar ke hati Awan. Jangankan memikirkan sebuah kejutan, ia bahkan belum pernah menanyakan apa yang disukai istrinya itu. Sebaliknya, diam-diam Pelangi selalu menanyakan apa yang disukai Awan melalui Bik Minah ataupun ibu.
“Hu-Hunny, kalau kamu suka perhiasan seperti itu, nanti aku akan memesan khusus untuk kamu.”
Napas Pelangi mendadak seperti tertahan.
Memesan khusus untukku?
Ia menatap Awan dengan kerutan tipis di kening. “Memangnya kalung ini ....”
Awan semakin dihimpit rasa bersalah.
"Itu ... sebenarnya ... aku memesan perhiasan itu sudah sangat lama sampai lupa."
"Sudah lama, memangnya ini untuk siapa?" Suara Pelangi gemetar ketika menanyakan itu.
"Maaf, Sayang. Sejujurnya waktu itu aku memesannya untuk ... Priska.”
Mendadak seluruh tubuh Pelangi seperti tersengat aliran listrik. Kalung berlian di tangannya terjatuh ke lantai begitu saja.
...........