
Awan melajukan mobil meninggalkan rumah setelah memastikan sang istri sudah nyenyak dalam tidurnya. Sambil menyetir, laki-laki itu melirik jam digital pada ponsel. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Awan mendesahkan napas panjang. Jika bukan karena disuruh ibu, ia tidak akan mau menjemput Tania, sepupunya yang pecicilan dan agak menyebalkan itu.
"Zidan lagi di mana ya?"
Tiba-tiba Awan teringat kepada adik iparnya. Mungkin ia dapat meminta ditemani Zidan untuk menjemput Tania. Setidaknya akan ada Zidan di antara mereka, dari pada sepanjang perjalanan hanya berdua dengan si bawel Tania.
Tangan Awan mengulur meraih ponsel miliknya. Jempolnya bergerak naik turun pada layar itu untuk mencari kontak Zidan. Awan menunggu beberapa saat hingga panggilan itu terhubung.
"Assalamu'alaikum, Kak!" sapa Zidan di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, Dek. Kamu lagi di mana?" Tak perlu basa-basi, Awan langsung menanyakan keberadaan pemuda itu. Biasanya, di jam seperti ini Zidan berada di swalayan tempatnya bekerja paruh waktu.
"Aku masih di tempat kerja. Ini baru mau pulang. Kenapa, Kak?"
Layaknya mendapat angin segar, Awan menghela napas lega. Kebetulan sekali Zidan baru akan pulang. Ia dapat meminta tolong ditemani untuk menjemput Tania di bandara.
"Kamu lagi buru-buru pulang, tidak?"
"Tidak juga sih."
"Boleh minta tolong temani kakak ke bandara, tidak?" pintanya penuh harap. "Kakak disuruh ibu ke bandara. Temani kakak, Dan!"
"Boleh sih. Kakak di mana sekarang?"
Ah, adik ipar satu ini memang terbaik bagi Awan. Ia selalu siap membantu tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Dan kerap menjadi tempat untuk mencari pencerahan.
"Masih di jalan. Kakak jemput kamu di situ, ya."
"Iya, Kak. Aku tunggu."
Panggilan terputus. Zidan melirik seorang temannya. Seperti biasa ia berangkat kerja dengan menggunakan sepeda motor bersama seorang temannya Arman. Jadi sepeda motor miliknya bisa dibawa pulang oleh Arman. Kebetulan rumah mereka berdekatan dan selalu pulang bersama.
"Man, aku mau temani kakak ke bandara dulu. Kamu bawa saja motornya."
"Ya udah, hati-hati, Dan! Aku duluan."
"Makasih ya, Dek, sudah mau temani. Maaf, kakak selalu merepotkan kamu," ucap Awan.
"Tidak apa-apa, Kak."
Awan mulai melajukan mobil setelah Zidan melingkarkan sabuk pengaman di tubuhnya. Menerobos jalan yang malam itu masih cukup padat.
"Gimana kejutan untuk Kak Pelangi?" tanya Zidan setelah beberapa saat kemudian.
Sejak beberapa hari lalu, Awan selalu meminta waktunya untuk menanyakan apa saja yang disukai Pelangi.
"Alhamdulillah. Dia suka."
"Alhamdulillah. Jadi bikin kebun minimalisnya, Kak?"
"Sudah jadi. Kakak buatin kebun yang pohonnya sudah berbuah jadi kakak kamu tidak perlu repot lagi ngasih pupuk. Bunganya juga yang mekar semua, jadi tidak perlu repot lagi nyiram air," ucapnya penuh rasa bangga.
Zidan pasti sudah tertawa jika tidak khawatir kakak iparnya akan tersinggung. Padahal beberapa waktu lalu, ia hanya menyarankan untuk membeli bibit, bukan pohon yang sudah berbuah.
"Memang Kak Awan beli pohon apa aja?" tanyanya sambil menahan tawa.
"Lengkeng, apel merah, anggur ... Banyak sih. Pokoknya yang pohonnya pendek tapi sudah berbuah. Biar Pelangi gampang petiknya."
Bibir Zidan kembali terkatup rapat agar tawa tak menyembur.
Itu namanya bucin, Kak.
"Oh ya, memang Kakak mau jemput siapa sih?"
"Jemput saudara, Dan. Cewek, makanya kakak minta tolong ditemani kamu biar tidak berdua di mobil."
Zidan mengulas senyum.
Alhamdulillah, semakin hari Kak Awan semakin banyak perubahan positif.
............