Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Extra Part - Memuji kamu


Mungkin masa lalu seorang Awan Wisnu Dewanto cukup buruk di mata sebagian orang. Laki-laki itu hanyalah anak yang terlahir dari keluarga kaya raya dan modern. Terbiasa dimanjakan dengan fasilitas mewah tanpa didikan yang tepat membuatnya menjadi seorang pemuda yang liar. 


Bagi Awan, tak ada hal istimewa dalam hidupnya sebelum Pelangi datang bagai sebuah lentera yang menuntunnya keluar dari kegelapan. Kini hidupnya terasa penuh arti.


Sedangkan bagi Pelangi, masa lalu suaminya hanyalah kepingan kenangan yang sudah ditinggalkan. Awan yang sekarang adalah seseorang yang baru, dengan pola hidup dan pemikiran yang baru.


Setelah melewati hari yang menyenangkan dengan kejutan-kejutan yang membahagiakan, Awan mengarahkan mobil menuju sebuah pusat perbelanjaan. Hari ini tubuhnya adalah milik Pelangi seorang, begitu kalimat gombal yang tadi terucap dari bibir manisnya. 


“Kamu boleh beli apa saja yang kamu suka.” Sambil menggandeng tangan istrinya, mereka berjalan melewati beberapa toko tas, sepatu dan pakaian wanita. Sepertinya Awan benar-benar ingin memanjakan Pelangi hari ini. 


Senyum mengembang semakin manis di bibir Pelangi sambil melirik beberapa toko yang dilewatinya, seperti sedang mencari sesuatu. 


“Aku mau beli sesuatu untuk ibu. Boleh, kan?” pintanya kepada sang suami dengan tatapan penuh harap.


“Boleh, Sayang! Apapun itu terserah kamu.” 


Pelangi pun menjatuhkan pilihan pada sebuah toko pakaian muslimah. Dua karyawan toko menyambutnya dengan ramah sambil menawarkan beberapa koleksi terbaru.


"Hubby mau ikut atau menunggu di sini saja?" tanyanya.


"Aku tunggu di sini saja." Awan memilih duduk di sofa. Ia akan menunggu sambil memainkan ponselnya. 


"Ya sudah, aku tinggal sebentar, ya."


Kata orang menunggu wanita berbelanja itu butuh kesabaran ekstra. Awan benar-benar membuktikannya sekarang. Hampir satu jam Pelangi berkeliling di dalam sana, namun tak kunjung kembali.


Awan mendesahkan napas panjang ketika menatap dari kejauhan Pelangi masih sibuk memilih bersama dua orang karyawan toko.


Susul aja deh, biar cepat.


Akhirnya, Awan memilih mendekat dan berdiri tepat di belakang sang istri. Ia menunggu sebentar saat mendengar Pelangi sedang menanyakan sesuatu kepada karyawan toko.


“Beli apa sih?” 


Pelangi menoleh sejenak. Melalui raut wajah suaminya, ia tahu bahwa saat ini Awan sedang merasa bosan. “Maaf, Hubby. Menunggunya lama, ya?” 


Tidak salah lagi maksudnya. tambahnya dalam hati. 


 “Sebentar lagi kan ramadhan, aku beli mukena untuk ibu.” Ia menunjukkan beberapa shopping bag di tangannya. Satu untuk mertua, satu untuk ibunya dan satu lagi untuknya. Semua memiliki motif yang sama, hanya beda warna. 


Sebenarnya Pelangi bisa saja mengambil dari koleksi di butik miliknya sendiri. Tetapi mukena Dubai nan indah yang ditawarkan karyawan toko membuatnya jatuh hati. Lagi pula, di butik miliknya tidak ada yang seperti itu.


“Belinya mukena doang?” tanya Awan membuat Pelangi tersenyum.


Kamu memang beda, Hunny. Diajak belanja, belinya cuma mukena. Padahal tadi aku bilang kamu boleh beli apapun yang kamu mau.


“Tidak, Hubby!" jawab Pelangi cepat. "Sebelumnya aku sudah memilih yang lain. Itu sudah ada di kasir.” Pelangi menunjuk meja kasir tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Pandangan Awan mengikuti ke mana arah yang ditunjuk Pelangi. Di sana sudah penuh dengan belanjaan milik wanita itu.  


Ya ampun, padahal barusan gue muji loh.


...........


Ada yang belum pernah baca kisah Dokter pebinor yang aibnya selalu terbongkar di meja makan, belum?


Ini dia


Judulnya, "BUKAN SALAHKU MEREBUT ISTRIMU."


Klik profil aku, atau di kolom pencarian ketik judul Bukan Salahku Merebut Istrimu.


Katanya jangan menilai sebuah cerita berdasarkan cover. 🤭🤭


Yes,, judulnya memang serem dan aneh bin ajaib. Tapi percayalah Readerlicious cantikly akan dibikin ngakak sama kelakuan dokter pebinor satu ini.


Udah tamat kok. Jadi bisa lari maraton. 🥰🥰



Terima kasih.