Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Kamu Siap-Siap, Ya?


"Saya rasa Pak Awan benar, Pak! Harga bahan yang direkomendasikan Pak Awan memang sedikit lebih tinggi, tapi kualitasnya jauh lebih baik. Lagi pula kita masih tetap meraup untung." Ucapan Pak Muis tak membuat Guntur berpuas diri, terlihat dari raut wajah datarnya.


Namun, sebagai pimpinan perusahaan, ia tak dapat mengambil keputusan sendiri. Apa lagi sebagian besar anggota rapat tampak mendukung Awan.


"Baiklah, kalau menurut Pak Muis dan lainnya seperti itu. Semoga proyek ini membawa berkah untuk semua."


"Aamiin!" sahut beberapa orang.


Rapat pun berlanjut masih dengan ide-ide luar biasa dari Awan yang membuat semua orang terpukau, termasuk Guntur.


Selepas rapat, Guntur masuk ke ruang kerja dengan menyembunyikan kekesalan di wajahnya. Awan berhasil membuatnya malu di hadapan semua bawahannya di ruang rapat.


Ia mengendurkan dasi yang melilit kerah kemejanya, lalu melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjuk angka empat. Guntur bergegas menuju mushola kantor untuk mengerjakan shalat ashar.


Saat memasuki pintu kaca itu, pandangannya langsung tertuju pada Awan yang sedang khusuk dengan shalatnya.


Apa hijrahnya dia benar-benar Lillahi Ta'ala, atau hanya untuk menunjukkan kepada Pelangi kalau dia sudah berubah?


............


Senyum mengembang di bibir Pelangi saat mendengar suara mobil terhenti di depan rumah. Ia beranjak membukakan pintu dan menyambut kedatangan sang suami tercinta.


"Assalamu'alaikum, Hunny!"


"Wa'alaikumsalam, Hubby!"


Pelangi mencium punggung tangan Awan, lalu disambut Awan dengan menciumnya di kening. Rasa hangat terasa merambat ke hati kala menatap Pelangi yang sore itu tampak begitu cantik.


"Sudah shalat ashar?"


Awan mengangguk seraya tersenyum. Pelangi tidak pernah bosan mengingatkannya untuk beribadah. "Sudah tadi di kantor."


"Bagaimana pekerjaannya hari ini, lancar?" tanya Pelangi.


Lumayan nyebelin! Bekas tetanggamu nyerang aku terus! Namun, tak ingin perseteruan dengan Guntur di kantor tadi menjadi beban pikiran Pelangi, Awan memilih untuk tidak mengatakannya.


Pelangi membantu Awan melepas pakaiannya, lalu mengambilkan handuk. "Kakinya bagaimana? Apa masih sering kram kalau berjalan lama?"


"Sedikit. Tapi sudah mending sejak dokter menyarankan untuk sering dilatih tanpa tongkat."


"Alhamdulillah."


Pelangi menatap intens wajah Awan seperti memendam sesuatu. Dan Awan dapat membaca raut wajah istrinya. "Kamu kenapa, Sayang?"


"Apa di kantor Hubby baik-baik saja? Maksudku, dengan Kak Guntur." Pelangi benar-benar khawatir jika Guntur menggunakan kekuasaannya untuk menekan Awan. Ia juga takut suaminya masih kurang mampu mengontrol emosinya dengan baik.


Enggak baik, Hunny. Kalau gue bogem mukanya dosa nggak, sih?


"Tidak ada masalah." Sekali lagi Awan tersenyum demi menenangkan hati istrinya. "Aku mandi dulu, ya. Habis itu kamu harus siap-siap," bisiknya dengan menggoda seraya menautkan kening.


Kelopak mata Pelangi langsung melebar mendengar ucapan suaminya. Entah mengapa pikirannya secara alami mengarah kepada aktivitas ranjang. "Ini kan masih sore, Hubby."


"Memang kenapa? Apa ada waktu terlarang?" tanya Awan dengan kerutan tipis di kedua alis tebalnya.


"Bukan begitu, Hubby. Satu jam lagi kan sudah masuk waktu maghrib. Kenapa tidak nanti malam saja menjelang tidur?"


"Kan mau tidur lain lagi ibadahnya." Awan mengedipkan sebelah matanya.


"Hah?" Mulut Pelangi terbuka, dengan kerutan di alis yang semakin dalam. Jantungnya berdetak dengan cepat. Apa mungkin karena baru menikmati masa pengantin baru, sehingga Awan terus menginginkannya? "Apa tidak lelah melakukannya terus?" gumam Pelangi dengan suara nyaris tak terdengar.


Tetapi Awan dapat membaca dengan melihat gerakan bibirnya.


"Aku minta kamu siap-siap untuk ajarin aku ngaji, sambil nunggu waktu Maghrib. Kalau ibadah yang itu nanti malam aja."


Layaknya tanaman putri malu yang menyembunyikan daunnya kala disentuh dengan jari, rasanya Pelangi ingin menyembunyikan wajahnya di mana saja.


...........