
Wajah Pelangi langsung pucat pasi melihat deretan foto yang berserakan di lantai. Tak hanya ayah dan ibu saja yang melihat, beberapa tetangga termasuk Bu Rina pun melihat foto tersebut. Pelangi langsung berjongkok memunguti lembar demi lembar foto. Khimar panjangnya ia gunakan untuk menutup sebagian yang berserakan di lantai agar tak terlihat oleh orang lain lagi.
“Astaghfirullahaladzim,” lirih Ayah Ahmad dengan tarikan napas yang berat. Wajah keriputnya terlihat mulai memucat. Pikirannya pun menduga-duga, mungkinkah hijrah Awan hanya sebatas topeng demi mendapatkan Pelangi dan maaf dari mereka?
Ia tak tahu. Karena selama keluar dari rumah sakit, Awan menunjukkan sangat banyak perubahan.
“Siapa yang kirim foto itu?” tanya Bu Humairah yang tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia melirik beberapa tetangganya dan tertunduk dengan wajah memerah.
Padahal baru beberapa saat lalu ia begitu memuji sang menantu di hadapan para ibu-ibu tetangga.
“Tidak ada keterangan pengirimnya, Bu,” jawab Ayah Ahmad. Pria paruh baya itu melirik putrinya yang masih memunguti foto yang kemudian ia masukkan kembali ke dalam kotak. “Pelangi, bisa ikut ayah sebentar? Ada yang mau ayah tanyakan kepada kamu.”
Pelangi hanya menjawab dengan anggukan kepala. Berdiri dari posisi berjongkoknya dengan memeluk kotak yang disembunyikan di balik khimar panjangnya. Ia melirik beberapa ibu-ibu yang menatapnya penuh tanya.
“Maaf, Bu. Saya tinggal sebentar ke dalam,” ucap Pelangi diikuti anggukan kepala oleh para tetangganya itu.
“Silahkan, Nak Pelangi,” jawab mereka bersamaan.
Setelahnya, Pelangi beranjak menyusul Ayah yang sudah masuk ke sebuah kamar lebih dulu, bersama ibu. Sementara para tetangga tampak saling berbisik satu sama lain setelah sempat melihat foto-foto Awan.
"Itu mantu foto Bu Mai tadi kayaknya lagi di diskotik. Ada juga yang lagi berantem. Tadi aku juga sempat lihat ada fotonya Awan lagi sama perempuan," ucap salah seorang di antara mereka.
"Iya, Bu. Aku juga sempat lihat. Kasihan Pelangi, ya. Suaminya begitu," tambah salah seorang diantaranya lagi.
"Padahal Pelangi anaknya baik dan shalihah. Coba kemarin sama anaknya Pak Demir, si Guntur itu loh. Pasti hidupnya Pelangi enak."
"Benar, Ibu-Ibu. Aku juga sempat dengar kabar kalau Guntur mau melamar Pelangi. Tapi sayang dia telat."
Mereka tampak menghela napas panjang, sebelum melanjutkan pekerjaannya.
.............
Pelangi memasukkan kotak yang dibawanya ke dalam sebuah laci. Tak dapat dipungkiri, ia pun merasa terkejut dengan foto-foto tersebut. Karena ia tahu Foto Awan yang sedang duduk di sebuah tempat hiburan malam adalah foto yang baru di ambil. Pakaian yang digunakan Awan dalam foto itu sama seperti yang digunakannya semalam saat keluar rumah. Kecuali foto kebersamaannya dengan Priska. Pelangi yakin itu foto lama. Dilihat dari potongan rambutnya.
Duduk di tepi tempat tidur, Ayah Ahmad menarik napas dalam-dalam demi melegakan sesak dalam dadanya. Ibu segera menuang segelas air putih dan memberikan kepada ayah.
Sementara Pelangi langsung berjongkok dengan memegangi kedua lutut sang ayah. “Ayah tidak apa-apa?”
“Kenapa malah tanyakan ayah, Nak. Kamu sendiri bagaimana?” Tangan ayah terulur membelai puncak kepala putrinya. “Foto-foto itu—”
Ayah tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Hanya satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya sekarang.
Sedih ....
Pelangi adalah putri satu-satunya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang. Dan baginya, Pelangi tetaplah seorang gadis kecil yang harus dilindungi.
“Bagaimana dengan foto-foto itu? Apakah suami kamu masih menjalani kebiasaan lamanya?” tanya ibu.
Pelangi tersenyum diiringi gelengan kepala. Semalam Awan memang meminta izinnya untuk keluar menemui teman. Namun, ia yakin suaminya sama sekali tidak melakukan perbuatan maksiat.
“Insyaa Allah Mas Awan istiqamah untuk hijrah, Ayah. Hanya dengan melihat foto yang belum jelas, kita tidak bisa menghakimi dia dengan penilaian buruk. Aku huznudzon bahwa suamiku semalam keluar hanya untuk bertemu dengan seorang teman, tidak lebih!”
“Dan foto perkelahian itu?”
“Tidak tahu, Ayah. Mas Awan belum bilang apa-apa. Tapi kalau foto kebersamaannya dengan wanita lain, itu hanya lembaran masa lalu yang sudah Mas Awan tinggalkan.”
"Kamu yakin, Nak?" Mata Ibu Humairah sudah menganak sungai.
"Insyaa Allah, Bu. Lagi pula, pengirim foto itu tidak jelas dari mana. Kita tidak tahu apa niat orang mengirimkan foto itu kemari.”
...........