
“Sayang, kamu di mana?” Suara panggilan Awan yang berasal dari luar membuat Pelangi menolehkan kepala. Wanita itu pun langsung berdiri dari duduknya.
“Aku lihat suamiku dulu, ya. Nanti kita bicara lagi.”
Pelangi segera beranjak keluar memenuhi panggilan suaminya. Dari pintu kamar, ia menatap tubuh jangkung suaminya yang sudah terbalut rapi oleh kemeja dan celana bahan.
“Iya, Hubby,” sahut Pelangi berjalan mendekat. “Aku habis ngobrol di kamar Maryam.”
Awan merangkul pinggang Pelangi sedikit menjauh dari kamar Maryam. Kemudian duduk bersama di sebuah sofa. “Aku sudah dapat rumah yang nyaman untuknya.”
“Benarkah? Di mana lokasinya?” tanya Pelangi antusias.
“Kamu bilang dia akan bekerja di butikmu, jadi aku carikan rumah yang cukup dekat dengan butikmu. Dari sana bisa jalan kaki, kok.”
“Alhamdulillah. Terima kasih, Hubby. Aku juga sudah bicara dengannya tadi dan Maryam setuju.”
“Dia tidak tersinggung, kan?”
“Sama sekali tidak. Maryam juga sangat tidak enak tinggal di sini dan merasa merepotkan kita.”
Seulas senyum tipis terbit di sudut bibir Awan. Tangannya terangkat mengelus puncak kepala istrinya. “Alhamdulillah kalau begitu. Jadi kita bisa mengantarnya ke rumah barunya pagi ini. Kamu juga sekalian ke butik, kan?”
“Iya, aku akan siap-siap dulu. Kamu mau sarapan di kamar saja?” tawar Pelangi membuat Awan menggeleng pelan.
“Tidak usah, Sayang. Aku masih kenyang. Nanti sekalian makan di kantor saja.”
...........
Sebelum berangkat ke kantor, Awan meluangkan waktu untuk mengantar Maryam ke rumah kontrakan yang baru. Ia sengaja memilih rumah tak jauh dari butik Pelangi agar memudahkan wanita itu untuk urusan pekerjaan.
“Kamu suka rumahnya?” tanya Pelangi dengan pandangan berkeliling di rumah minimalis itu. Awan sengaja menyewa sebuah rumah dengan perabotan lengkap, agar Maryam tidak repot lagi.
“Tidak apa-apa. Yang penting kamu nyaman di sini.” Pelangi tersenyum tulus. Melirik Awan yang memilih menunggu di luar rumah. Bersandar di mobil sambil memainkan ponselnya. “Kalau sudah, ayo kita berangkat ke butik. Akan aku kenalkan dengan April dan anak-anak lain.”
Selepas melihat rumah dan melakukan pembayaran, mereka kemudian beranjak meninggalkan rumah minimalis itu menuju butik. Sepanjang hari ini, Pelangi turut membantu pekerjaan dan menjelaskan bagian apa saja yang akan dikerjakan oleh Maryam.
Hari pertama dilewati Maryam dengan penuh semangat. Wanita itu lumayan cepat belajar dan mampu melakukan pekerjaan apapun yang diberikan kepadanya.
“Pelangi, apa boleh aku izin pulang dulu? Aku agak pusing,” ucap Maryam meraya memijat pelipisnya.
“Kamu sakit?”
“Tidak, kok. Hanya pusing sedikit. Aku cuma butuh istirahat.”
Pelangi melirik arah jam di dinding. Sudah hampir pukul tiga. “Tapi apa kamu bisa pulang sendiri?”
“Insyaa Allah bisa.”
“Baiklah, kamu hati-hati. Kalau butuh sesuatu hubungi aku saja. Aku masih akan di sini menunggu Mas Awan jemput.”
Ia mengangguk.
Setelah berpamitan dengan Pelangi dan lainnya, Maryam bergegas pulang ke rumah.
Sepanjang jalan ia merasa kepalanya seperti berputar. Wanita itu sampai harus berhenti beberapa kali untuk menetralkan perasaannya. Sensasi mual di perut membuatnya tak tahan.
Hingga tatapannya tertuju ke suatu arah, membuat langkahnya terhenti.
"Bukankah itu suaminya Pelangi?" gumamnya ketika melihat mobil milik Awan memasuki parkiran sebuah kafe.
....... ...