Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Mau Ajak Kamu ....


Tidak mudah merelakan seseorang yang dicintai untuk dimiliki orang lain. Beberapa orang sanggup menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sama seperti Guntur yang melupakan segala batasannya karena dibutakan cinta untuk Pelangi. Namun, harapannya justru berbanding terbalik dengan dengan yang didapatkan. Pelangi memilih Awan dengan segala kekurangannya. 


Bahkan secara terang-terangan wanita itu menunjukkan betapa berharga sang suami baginya. 


Langkah Guntur tampak lesu meninggalkan ruko butik Pelangi. Seorang sopir dengan cepat membuka pintu mobil saat majikannya mendekat. Guntur duduk di kursi belakang dan menyandarkan punggungnya. Hela napasnya berat seakan langit roboh menimpanya. 


Apa yang Pelangi harapkan dari laki-laki seperti itu? Dengan semua kekurangan itu apa yang membuat mereka bahagia?  Pertanyaan itu terus menggerogoti pikirannya.


“Kita mau ke mana setelah ini, Pak?” tanya sang sopir setelah beberapa saat melihat majikannya terdiam dengan tatapan kosong.


Guntur menarik napas dalam dan menatap wajah pria yang duduk di depan melalui pantulan kaca spion.


“Pulang ke apartemen saja,” jawabnya tanpa semangat. 


"Baik, Pak!"


Sementara di dalam sana, beberapa perempuan yang menghuni butik masih tampak penasaran setelah suasana tegang yang sempat tercipta antara Awan dan Guntur. Ada yang mengintip sebuah mobil mewah yang baru saja melaju, ada pula yang sesekali melirik Awan yang sedang duduk di ruang tamu.


April bernapas lega karena ketakutannya tak terjadi. Awan mampu mengendalikan emosinya dengan baik meskipun Guntur telah berusaha mencari celah untuk meretakkan rumah tangganya.


"April, sebenarnya ada apa sih?" bisik seorang karyawati.


Tadi secara tak sengaja, April mendengar semua pembicaraan Pelangi dan Guntur saat akan membawakan minuman. Ia pun sangat terkejut mendengar seperti apa suami sang bos yang sebenarnya. "Sudah, jangan ghibah terus. Ingat dosa!"


"Tapi aku penasaran. Bule ganteng tadi kayaknya suka sama Kak Pelangi, ya."


"Kayaknya sih. Kalau aku jadi Kak Pelangi ...." Ucapannya menggantung setelah mendapat hadiah pelototan dari April.


"Eh, tapi suami Kak Pelangi juga keren. Tatapannya dingin, tapi lembut kalau sama Kak Pelangi."


April berdecak. "Dosa tahu mengagumi suami orang. Lebih baik beres-beres sana."


Bisik-bisik itu pun terhenti saat terdengar langkah kaki dari arah tangga. Mereka membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing.


Pelangi turun dari lantai atas setelah shalat ashar dilanjutkan dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tadi tertunda. Lega akhirnya, semua pesanan sudah bisa dikirim besok. Ia melihat suaminya duduk di ruang tamu seorang diri dengan memainkan ponselnya, sementara Guntur tak lagi terlihat. 


“Sudah siap?” Awan menatap pelangi yang berdiri tak jauh darinya dengan sebuah tas yang tersemat di bahunya. “Kita pulang sekarang?” 


"Iya. Tapi aku mau pamit sama anak-anak dulu."


Ini hari yang membahagiakan. Setelah tiga bulan meninggalkan rumah, akhirnya mereka kembali. Sepanjang jalan menuju pulang, mereka membicarakan banyak hal, termasuk hari pertama Awan bekerja dan mendapati bos barunya yang ternyata adalah Guntur. 


Pelangi mengangguk dengan senyum yang mengembang sempurna. "Boleh, Mas."


Awan memarkir mobil di halaman masjid.


Pandangan Pelangi pun mengikuti kemana langkah sang suami, hingga Awan terlihat sedang mengantri dengan sabar di belakang beberapa pria yang sedang berwudhu.


Setiap perubahan yang ditunjukkan Awan membuatnya jatuh hati. 


...........


“Maaf menunggu lama,” ucap Awan sesaat setelah masuk ke mobil. Ia memasang sabuk pengaman sambil sesekali melirik Pelangi. "Kamu kenapa senyum terus?"


“Tidak apa-apa.” 


“Tahu nggak, tadi aku ngobrol dengan seorang jamaah, dan aku sempat iri dengannya.” 


“Iri kenapa?” tanya Pelangi penasaran.


“Dia cacat. Tapi shalatnya selalu di masjid. Sementara aku ....” ucapan Awan menggantung. Raut wajahnya tampak sedih. “Percaya atau tidak, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di masjid,” lirihnya dengan suara nyaris tak terdengar. “Aku benar-benar malu, padahal aku dalam keadaan sehat.” 


“Tidak apa-apa, Mas. Tidak ada kata terlambat, kita tidak tahu kapan Allah memberi seseorang hidayah.” 


Ingatan pun Awan tertuju pada saat pertama kali menjalankan shalat di rumah Ayah Ahmad. Ucapan Zidan tentang seseorang yang tidak pernah ke masjid hingga akhirnya dishalatkan telah membuka pintu hatinya. 


Awan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan kurang dari dua puluh menit menuju angka tujuh. 


“Sebelum pulang, kita mampir makan dulu, ya. Di depan ada restoran yang makanannya enak.” 


“Kenapa tidak makan di rumah saja?” 


“Kasihan kamu capek. Seharian di butik, sampai rumah masak lagi. Lagi pula malam ini aku mau mengajakmu ibadah bersama.” 


“Ibadah bersama?” 


Awan tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya. 


............