Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Extra Part - Zidan Itu Judes


Beberapa jam dihabiskan dua pasang suami istri itu di pusat perbelanjaan. Setelah selesai, mereka saling berpamitan.


Awan pun mengajak Pelangi mengunjungi rumah Ibu Sofie. Selain Pelangi yang akan memasak bersama sang mertua, Awan juga sekalian ingin mengenalkan Tania. Ia berharap Tania bisa belajar banyak pada Pelangi, tentang cara berpakaian serta adab-adab lain.


"Assalamualaikum."


Sapaan itu membuat Tania yang sedang asyik dengan gadget mendongak, lalu membalas salam. Sambil berjalan ia mendekati Awan dan Pelangi. Di belakangnya ada Ibu Sofie yang juga datang menghampiri.


"Apa kabar, Bu?" tanya pelangi. Mereka cipika-cipiki dan membuat Tania yang memang baru pertama kali bertemu Pelangi agak speechless.


"Ini istrinya Kak Awan?" tanya Tania dengan mata berbinar.


"Iya, dong. Cantik, 'kan?" goda Awan yang membuat Tania makin cemberut.


Pelangi memang sangat cantik, sebagai sesama wanita saja ia iri akan kecantikan Pelangi yang seakan terpancar di balik penampilan tertutupnya. Tatapannya teduh, wajahnya berseri dan Tania yakin itu bukanlah dari make up.


"Assalamu'alaikum, Dek."


Tania semakin terperangah. Tidak hanya cantik, Pelangi juga sangat lembut. Pantas saja kakak sepupunya itu bertekuk lutut hingga melupakan mantan kekasihnya, Priska.


Dulu, Tania juga cukup dekat dengan Priska. Mantan kekasih Awan itu kerap mengajaknya berbelanja, nonton di bioskop atau ke salon bersama saat sedang berkunjung ke rumah.


"Wa-walaikumsalam, Kak."


"Tumben mau jawab salam!" goda Awan melirik Tania sekilas.


"Awan!" tegur Ibu Sofie.


Tania yang memang manja langsung menyalami Pelangi, lalu memeluknya. "Kakak kenapa mau sih nikah sama dia? Dia kan biang rusuh. Nggak nyesel nikah sama dia?"


"Tania." Kini Ibu Sofie melotot padanya.


"Habisnya Kak Awan nyebelin, Bu. Masa sekarang nggak mau peluk aku. Jangankan peluk, mandang aja kayak jijik. Tuh lihat matanya, melotot. Hati-hati, copot itu mata," dengkus Tania sembari memandang galak Awan.


Pelangi yang mendengar ocehan itu tak bisa untuk tidak tertawa. Tania terlalu lucu menurutnya, dan menggemaskan.


"Jangan dengar Mas Awan. Dia memang jahil."


"Tuh, Kak Pelangi aja bilang Kak Awan jahil." Tania menatap Pelangi. "Memang Kak Pelangi sering dijahilin sama Kak Awan?" bisiknya ke telinga Pelangi.


Sementara itu Ibu Sofie cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Tania dan Awan yang sama saja. Sama-sama kekanakan.


"Senang bisa bertemu dengan kamu, Dek." Pelangi mengelus lembut puncak kepala Tania.


"Kalau Kak Pelangi senang ketemu aku, kok Kak Zidan enggak?" Ucapan polos Tania menciptakan kerutan tipis di kening Pelangi.


"Memangnya Zidan kenapa, Dek?"


"Tadi aku ketemu di swalayan, Kak. Katanya kerja di situ dianya. Tapi Kak Zidan itu sombong, jutekly, judesly bin sinisly. Mukanya kaku kayak kanebo kering. Nggak ramah kayak Kak Pelangi, padahal kan satu cetakan!"


Pelangi mengulas senyum mendengar gerutuan panjang Tania.


"Walaupun satu cetakan tapi kan jenisnya beda, Tania," sambar Awan. "Tapi syukur deh kalau Zidan jutek sama kamu. Artinya Zidan masih waras."


"Mas ...," tegur Pelangi.


"Iya, Sayang. Bercanda."


Bibir Tania lagi-lagi berkerucut. "Aku doain Kak Awan anaknya nanti mirip aku!" pekik Tania.


"Astaghfirullah." Awan bergidik sambil mengusap dadanya berulang-ulang.


"Assalamu'alaikum." Salam yang tiba-tiba terdengar dari ambang pintu membuat Awan menoleh.


"Wa'alaikumsalam, Dek!"


Tania tersentak. Mendadak tubuh bagian belakangnya seperti meremang. Dengan sedikit ragu ia menolehkan kepala.


Zidan berada di ambang pintu dengan bibir saling mengatup. Seperti sedang menahan tawa.


Mampus gue. Jangan-jangan dia dengar gue ngatain dia.


.


.