Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Cari Informasi Tentang Awan!


Awan masih belum mampu mengurai rasa terkejut setelah mendapati kenyataan bahwa ternyata pemilik perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan milik keluarga Guntur. Sang bos ternyata adalah rivalnya sendiri. 


“Ini siapa, saya kok baru lihat.” Sorot mata penuh tanya Guntur terarah kepada seorang pria yang berdiri tepat di sampingnya.  


“Ini Pak Awan, Pak. Pimpinan proyek untuk pembangunan Hotel Grand Arion. Pak Awan baru bergambung kembali dengan perusahaan kita setelah tiga bulan cuti karena sakit,” jelas pria itu. 


“Oh, ternyata ini pimpinan proyeknya.” Guntur mengangguk mengerti, lalu kemudian mengulurkan tangan ke hadapan Awan. “Selamat bergabung kembali.” 


“Terima kasih.” 


Senyum tipis terlihat di sudut bibirnya lalu kembali menatap pria yang merupakan asistennya. “Pak Muis, bisa ikut ke ruangan saya.” 


“Bisa, Pak!” jawabnya cepat. “Pak Awan, selamat bekerja kembali. Saya mau ikut Pak Guntur sebentar.”


Awan membuang napas panjang menatap punggung Guntur yang kemudian beranjak menuju sebuah ruangan. Sebuah kejutan pagi yang kurang menyenangkan. 


“Kamu sudah kenal sebelumnya dengan Pak Guntur?” Pertanyaan Gery berhasil mengalihkan perhatian Awan. 


“Tidak!” 


“Tapi kenapa seperti sudah kenal lama?” 


Bahu Awan terangkat sebagai jawaban, lalu kemudian memilih kembali ke ruangannya sendiri. 


Hari ini Awan akan cukup disibukkan dengan pekerjaan. Tiga bulan istirahat membuatnya cukup repot dengan pekerjaan yang menumpuk. Pembangunan hotel mewah tersebut sepenuhnya merupakan tanggung jawabnya, dan tidak lama lagi akan mulai proses pembangunan. 


Pagi pun bergerak menuju siang, namun Awan masih duduk dengan tatapan lurus ke layar komputer. Beruntung tadi Pelangi sempat membuatkannya bekal makan siang, sehingga tidak perlu keluar kantor untuk makan siang


....... ...


“Pak Muis, apa Pak Awan itu sudah lama bekerja di sini?” tanya Guntur sesaat setelah memeriksa beberapa berkas penting. 


“Lumayan lama, Pak! Sekitar enam tahunan,” jawabnya.


“Bagaimana kinerjanya?” 


“Kalau menurut saya, Pak Awan bekerja cukup baik dan sangat profesional. Loyalitasnya terhadap perusahaan tidak diragukan lagi. Selain itu dia cukup bertanggungjawab. Walaupun kemarin dalam keadaan sakit, tapi tetap menyelesaikan perencanaan desain bangunan. Walaupun sebelumnya sempat terjadi beberapa masalah.” 


“Masalah apa?” Guntur tampak semakin penasaran.


“Pihak PT. Imco sempat ingin membatalkan kerjasama dengan kita dan memberikan proyek pembangunan hotel ke perusahaan lain.” 


“Loh, memangnya kenapa? Apa ada masalah?” 


Raut wajah pria itu pun berubah serius. “Menurut kabar yang beredar, Pak Awan menjalin hubungan dengan anak tunggal pemilik Imco, Bu Priska, yang sekarang menduduki salah satu posisi manager di perusahaan itu.” 


“Dia menjalin hubungan dengan Priska?” 


“Benar, Pak. Bahkan sebelum kecelakaan, Pak Awan sempat terlibat adu mulut dengan Bu Priska di lobi.” 


Alis Guntur berkerut. Semakin penasaran, namun berusaha disembunyikannya. “Baik, terima kasih infonya, Pak. Jangan sampai ada yang tahu kalau saya bertanya ke Pak Muis, ya.” 


“Pak Muis boleh kembali bekerja.” 


"Kalau begitu saya permisi."


Sesaat setelah Pak Muis keluar dari ruangan pribadinya, Guntur segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan kemudian menghubungi seseorang. 


“Bim, saya mau kamu cari info selengkapnya tentang seseorang. Siang ini saya akan kirimkan datanya ke kamu."


"Baik, terima kasih," lanjutnya.


...........


Sore harinya ....


Pelangi sedaang sibuk mengemas dan merapikan beberapa pakaian ketika pintu ruangan pribadinya diketuk, disusul oleh kemunculan seorang gadis dari balik pintu. 


Ia tersenyum dengan wajah memerah.


"Kamu kenapa, Pril? Pipinya merah begitu?" tanya Pelangi menyadari rona merah di wajah karyawannya.


“Tidak apa-apa, Kak. Itu di bawah ada tamu. Katanya mau ketemu Kak Pelangi.” 


Pelangi tampak heran, sebab setahunya tidak memiliki janji apapun dengan seseorang. “Siapa?” 


“Yang pesan mukenah sama baju koko, Kak.” Ia meletakkan telapak tangan di pipi. "Gemes deh, Kak. Sudah ganteng, bule lagi!"


Pelangi menggelengkan kepalanya pelan. Gadis yang sudah lama bekerja di butiknya itu memang kadang sangat centil. "Hati-hati zina mata."


Gadis itu pun tersenyum dengan malu-malu. "Astaghfirullahalazim. Maaf, Kak."


Pelangi segera mengenakan khimarnya, lalu beranjak menuju lantai bawah. Saat  sudah berada di anak tangga terakhir, ia melirik ke arah ruang tamu. “Pril, itu orangnya?” 


“Iya, Kak.” 


“Memang kenapa harus ketemu dengan saya? Bukannya bisa dengan kamu saja, ya?” 


“Tidak tahu, dia cuma bilang mau ketemu dengan Kak Pelangi. Memang kenal ya, Kak? Dia tahu nama Kakak.” 


Pelangi mengangguk, lalu menatap gadis itu. “Tidak tahu. Kamu temani saya, ya.” 


“Baik, Kak.” 


Kaki Pelangi pun melangkah ke ruang  tamu, namun saat akan melewati sebuah tirai pembatas, ia baru tersadar siapa yang sedang duduk di sana.


“Kak Guntur? Jadi yang memesan semua mukenah dan baju koko itu adalah Kak Guntur?” 


...........