
Mobil yang dikemudikan Awan memasuki gedung kantor tempatnya bekerja. Setelah memarkir, ia berjalan dengan tergesa-gesa memasuki lobi.
Ia ada briefing dengan tim-nya pagi ini.
Baru akan memasuki lift, langkahnya mendadak terhenti saat menyadari keberadaan Guntur yang juga baru tiba. Untuk beberapa saat, keduanya tampak kaku dan saling diam.
Sejak kecelakaan yang menimpa Maryam, Guntur memang lebih banyak diam dan jarang ke kantor.
"Assalamu'alaikum." Awan lebih dulu memberi salam. Kali ini dengan melempar senyum. Dan hal itu mampu mencairkan kebekuan di antaranya.
"Wa'alaikumsalam," balas Guntur balas tersenyum. Walaupun tampak malu-malu.
Keduanya menaiki lift yang sama. Kebetulan ruang kerja Awan dan Guntur berada di lantai yang sama, sejak adanya peraturan ruang kerja laki-laki dan wanita dipisahkan.
"Kamu sedang buru-buru?" tanya Guntur.
"Saya ada briefing dengan team saya pagi ini," jawab Awan. "Memang kenapa, Pak?"
"Tidak usah panggil saya Bapak. Di sini kita cuma berdua. Panggil nama saja, biar tidak terlalu formal."
Awan cukup terkejut mendengar ucapan Guntur. Ia menyadari Guntur sangat banyak berubah.
Beneran tobat ni orang.
"Baik," jawab Awan singkat.
"Kalau ada waktu, siang ini saya mau membicarakan sesuatu dengan kamu. Sekalian makan siang," ujar Guntur.
Awan menjawab dengan anggukan kepala. "Boleh. Kebetulan siang ini saya tidak begitu sibuk."
.
.
Siang harinya ....
Kini Awan dan Guntur sudah berada di kafe kantor. Tadinya Awan ingin makan siang dengan sang istri, tetapi karena Guntur mengajak bicara, akhirnya ia batalkan rencana makan siang dengan Pelangi. Kebetulan tadi Pelangi memberi kabar sedang bersama Maryam di butik.
"Saya mau minta maaf untuk semua kesalahan saya selama ini. Saya paham itu bukan sebuah kesalahan lagi, tapi sudah menjurus pada kejahatan."
Awan mendengarkan Guntur tanpa sanggahan.
Awan menganggukkan kepala. Ia paham kondisi kejiwaan Guntur. "Saya sudah ikhlas memaafkan. Lagi pula saya dan istri saya tidak apa-apa."
Guntur masih menunduk. Seolah tak memiliki nyali untuk menatap Awan.
"Saya sekarang sadar dan malu sekali. Kalau orang lain, mungkin akan membenci bahkan sampai merasa mau menghabisi saya."
Dia kayak cenayang. Tahu aja apa yang pernah gue pikirin.
Gue pernah pengen bogem muka lo, tapi sekarang udah enggak, karena lo udah jinak.
Awan hanya menarik sebelah sudut bibirnya. "Tidak apa-apa. Semua orang pernah khilaf. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua."
Sekarang giliran Guntur yang menghela napas panjang. Keheningan pun tercipta, baik Awan mau pun Guntur termenung sendiri. Mereka terlalu asyik dengan jalan pikiran masing-masing.
"Oh ya, beberapa hari lagi, saya akan menggelar resepsi pernikahan dengan Maryam."
Tentu saja kabar itu membuat Awan cukup senang. Ia tiba-tiba memikirkan Pelangi yang sudah pasti bahagia jika mengetahui niat baik Guntur untuk menikah ulang dengan Maryam.
"Dan mungkin setelah menikah, saya dan Maryam akan kembali ke Malaysia."
"Kembali ke Malaysia?" Kening Awan berkerut dalam. "Lalu, bagaimana dengan proyek pembangunan hotel?"
"Untuk itu saya akan menyerahkan proyek ini sepenuhnya ke tangan kamu. Lagi pula Pak Muis juga sudah mempercayakan sepenuhnya kepada kamu."
"Insyaa Allah."
"Oh ya, saya juga mau mengucapkan selamat atas kehamilan Pelangi. Semoga menjadi anak yang shalih dan shalihah."
"Aamiin. Terima kasih, Ban ..." Ucapan Awan tiba-tiba terpotong. Hampir saja ia menyebutkan nama panggilan khusus yang ia sematkan untuk Guntur.
"Maksud saya, terima kasih, Guntur."
Hampir gue keceplosan.
.
.