Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Mengelak


Rhea membuka mata, buru-buru bangun dari tidur nya. Mentari mulai meninggi. Rhea mengedipkan matanya tak percaya, setelah dia sampai di rumah Theron dia tak pernah tidur dengan baik. Dia selalu saja gelisah, terjaga sepanjang malam, dia hanya tidur sebentar dan terbangun dengan cepat. Rhea tersentak mendapati Theron yang tertidur di kursi, kepala yang tertunduk tertidur lelap di dekatnya sembari menggenggam tangannya. Jantung Rhea berdetak hebat, dia bergidik. Rhea menghela napas pelan, menenangkan dirinya, toh Theron tengah tertidur dia tak melakukan hal buruk padanya.


Dengan tangan yang masih bergetar, Rhea dengan pelan menarik lengannya dari genggaman Theron. Rhea memandang suaminya lekat "mungkinkah bukan aku sendiri yang terluka atas kejadian ini?" lirihnya. Tatapan Rhea begitu kosong, dia terkekeh "itu tak mungkin, dia lah orang yang menghancurkan ku!" Rhea tampak gelisah. Rhea hendak mengusap rambut Theron, namun dia menghentikan niatannya. Rhea beranjak dari kasur, berjalan keluar meninggalkan Theron tanpa menoleh.


Terdengar senandung nyanyian dari bawah. Rhea melihat dari lantai atas, bibi sati tengah sibuk menyapu lantai. Raut wajah bibi tampak gembira. Dia bahkan beberapa kali bergoyang dengan girang.


Bibi sati menyadari Nyonya memperhatikannya. Bibi sati menoleh tak lupa tersenyum lebar pada Rhea. Bibi sati ikut senang melihat perkembangan tuan dan Nyonya yang mulai lebih dekat, bahkan mereka sekarang satu kamar. Rhea membalas tersenyum canggung. Bibi kembali melanjutkan aktivitasnya.


Theron termangu dengan wajah yang masih tertunduk, saat Rhea terbangun saat itu juga Theron terbangun. Takut menjadi canggung Theron pura-pura tertidur, dia juga mendengar semua hal yang Rhea ucapkan. Begitu dalam kebencian Rhea padanya, dia membutuhkan tindakan ekstra agar Rhea memaafkan dirinya. Namun hal yang membuatnya lebih terkejut, dia tak pernah bangun kesiangan tapi sekarang dia terbangun saat mentari tampak dengan terang nya "mungkinkah aku begitu nyaman di samping istriku" ucap Theron dengan wajah tersipu.


Bergegas Theron bersiap, dia buru-buru keluar dari kamar menuruni anak tangga. Hari ini dia memiliki janji temu, mungkin dia akan sedikit terlambat. Theron sibuk membenahi kancing lengannya, dia tak sadar bahwa Rhea berada di depannya.


Satu langkah Theron menuruni anak tangga, tepat menabrak punggung Rhea. Dengan cepat Theron menangkap Rhea kedalam pelukannya. Mereka berdua mematung terkejut.


"hampir saja, aku menghancurkan segalanya" benak Theron menggerutu pada dirinya "aku perlu melatih fokus ku" gumam Theron.


Rhea berdiri dengan tegap, dia melirik Theron sinis, dia kembali berjalan menuruni anak tangga.


"kau tak apa?" ucap canggung Theron.


Rhea menghentikan langkahnya "kau terang-terangan ingin membunuhku?" lirih Rhea "setidaknya tunggu anakmu lahir, apa kau tak mengharapkan anak ini?" Rhea menoleh ke arah Theron sembari mengusap lembut perutnya "dari awal jika kau tak menginginkan anak ini, seharusnya kau pura-pura tak tahu dan mengabaikannya" Rhea membuang muka.


"bukan seperti itu" Theron mendekat "dengar, aku tak sengaja" jelas nya.


Rhea kembali berjalan pelan "tolong Jangan sakiti anak yang belum lahir ini" tegasnya.


"sulit sekali membuatmu percaya dengan ucapanku!!" Suara Theron meninggi.


Emosi Rhea ikut tersulut "Setelah apa yang kau lakukan padaku, mungkinkah aku akan percaya dengan mudah!!. Dari awal kau memaksaku dengan kejam. Apa kau peduli dengan isak tangis ku malam itu? aku memohon bagai orang yang tak memiliki harga diri padamu tapi kau seakan tak memiliki telinga!!" Rhea mengeratkan gigi kuat "Rupanya semua ucapan mu kemarin bohong belaka, kau meminta ku mempercayaimu agar aku tak awas dan kau dengan mudah kembali menghancurkan ku" Rhea tersenyum getir, dia berusaha kuat menahan agar tak menangis.


Theron mengepal kuat jemarinya "maaf" Theron bergegas meninggalkan Rhea.


Rhea tertunduk "harus nya aku tak berkata seperti itu!"


Bibi sati masuk, dia baru saja membuang sampah. Dia bingung dengan situasi sekarang, di luar tuannya begitu buru-buru tampak jelas emosinya buruk. Di sini Nyonya nya tampak murung. Bibi tak menanyakan apapun, dia kembali sibuk dengan aktivitasnya.


Rhea duduk di kursi dapur termenung.


"Nyonya, apa ada hal yang mengganjal hati?. Jangan ragu untuk mengutarakannya, mungkin saja saya bisa memberi masukan" tutur lembut Bibi, sembari sibuk menata barang di kulkas.


"Bibi, aku ingin menerima kenyataan. lalu bagaimana caranya agar aku tak terus menerus mengingat masa lalu buruk yang terus menghantui?" lirih Rhea "setiap kali selingan hal buruk itu muncul, berhasil membuatku membenci dia" Rhea berkaca-kaca. Bagaimana pun sekarang dia menjadi istri seseorang, harusnya dia mampu bersikap baik pada suaminya, namun bagi Rhea melakukan hal itu begitu sulit.


Bibi menutup pintu kulkas, dia menghampiri Rhea. Bibi menatap Rhea yang begitu menyedihkan "ini hal wajar nyonya" Bibi mengusap lembut punggung lengan Rhea "melupakan hal kelam yang menyakiti itu tak mudah, semua membutuhkan waktu. Seiring berjalan nya waktu dengan kehidupan yang jauh lebih baik saya yakin Nyonya perlahan akan sembuh dari perasaan bersalah dan berdamai pada diri sendiri"


Rhea menoleh, menatap Bibi lekat. Wajah yang mulai menua, namun Bibi tetap hidup dengan semangat.


"Lantas bagaimana saya bisa berdamai, jika penyebab rasa ketakutan berada di sekitar bibi?" Rhea menatap Bibi kosong.


Bibi tersenyum kecil "itu kembali pada nyonya. Selama penyebab luka bersama dengan nyonya apa nyonya merasa lebih terpuruk?" Bibi mengusap punggung Rhea "Setiap orang akan menjauhi sumber sakitnya, namun nyonya sulit melakukannya karena tak mampu. Tapi jika mampu sumber sakit itu akan menjadi sumber untuk hidup, terkadang luka membuat orang kuat"


"tapi aku tak mampu" air mata Rhea perlahan menetes "melihat nya aku semakin terluka!! aku merasa buruk! dan tak pantas untuk hidup!!" Rhea terisak "pada kenyataan ucapan tak sesuai dengan realita yang terjadi, ucapan itu hanya penyemangat Bibi" Rhea menyeka air mata yang semakin menetes deras.


Bibi menyipitkan matanya, rasanya Nyonya begitu terpuruk dengan hal yang di alami "anda wanita kuat yang mampu melewatinya, di sini saya mendukung mu nyonya. Jangan khawatir merasa semua orang menjauhi atau mencemooh mu, aku bersamamu" Bibi memegang erat tangan Rhea.


Rhea mengusap air matanya, membalas memegang erat tangan bibi, Rhea mengangguk "terimakasih" ucapnya.


Disisi lain Rhea merindukan keluarganya. Ibu, Ayah, dan adiknya. Dia berharap ini hanya bunga tidur yang akan hancur, dia ingin mengelak bahwa ini tak nyata "kapan aku akan terbangun dari mimpi buruk ini?" gumam Rhea pilu.