
Theron membuka pintu mobil mempersilahkan Rhea masuk lebih dulu setelah nya dia ikut menyusul. Theron melajukan mobilnya dengan pelan.
Rhea sibuk menatap keluar jendela, tangannya memegang roknya erat, dia merasa cemas. Rumah sakit tempat yang ramai siapa saja bisa ada di sana, dia merasa takut.
Theron melirik Rhea sembari tetap mengemudi, tangan kirinya menggenggam erat tangan Rhea "jika kau tak nyaman katakan" ucap lembut Theron.
Rhea menggeleng, dia tersenyum kecil "aku baik-baik saja" tukasnya.
Theron menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit Charitas. Dengan hati-hati menuntun Rhea ke dalam, dia bahkan tak melepas genggamannya.
Rhea mengernyit entah kenapa dia merasa ada perubahan pada tubuhnya, sering sekali dia merasa payu darah nya terasa nyeri dan ukurannya lebih besar dari sebelum nya, bahkan tak jarang perutnya terasa tak enak.
Rhea duduk di ruang tunggu sembari menunggu Theron mengonfirmasi ke bagian pendaftaran. Rhea berkeringat dingin, dia merasa orang-orang yang berada didekat nya memandangi nya dengan tatapan tajam, dia merasa tak nyaman, perasaan takut akan tanggapan orang-orang menyelimuti dirinya.
"Permisi dek-" ucap seorang Ibu yang tengah hamil besar duduk tepat di samping Rhea.
Rhea tersentak menoleh, dia mengangguk pelan berusaha tampak sopan.
"adek disini dengan siapa? lagi nganter Ibu nya ke dokter kandungan ya? Wah, senangnya mau punya adek!!" Ibu itu tersenyum ramah, dia membenahi posisi duduk nya.
Rhea terdiam sejenak, dia mengigit bibir kuat "ah, tidak!!" jawabnya ragu.
"Huh?!" Ibu itu memastikan bahwa dia tak salah mendengar.
"Bukan saya di sini memeriksa kandungan ku" Rhea mengelus perutnya pelan, berusaha berbaur dengan Ibu itu.
Ibu itu melihat sekitar "kau datang sendiri, tak datang dengan suamimu? kau tak bersuami?!" Ibu itu membelalak mengamati Rhea.
"Heran dengan anak-anak sekarang, pergaulannya begitu bebas kau mengandung anak. Pasti karena tidur dengan pria-pria sembarangan sampai tak tahu siapa Ayah dari anakmu!!" Ibu itu melotot memandang Rhea rendah, bahkan Rhea belum berucap Ibu itu langsung berbicara semaunya.
Rhea menahan amarah nya "Biarkan anjing menggonggong, kau tak perlu menjelaskan apapun" Rhea berusaha tak peduli dengan ucapan Ibu itu.
"kau bahkan tak menyangkal ucapanku" Ibu itu semakin menyudutkan Rhea.
Tak tunggu lama dengan cepat Theron menghampiri Rhea dari jauh dia selalu memantau Rhea, dia melihat sedari tadi Ibu di samping Rhea membuat Rhea tak nyaman. Theron berdiri tepat di depan Rhea sembari tersenyum lembut "apa kau menunggu lama sayang" ucap lembut Theron dia menyentuh pelan pucuk kepala Rhea.
Rhea membelalak, dia bahkan tak berkata sepatah pun.
Theron jongkok, dengan pelan mengelus perut Rhea "hari ini Ayah akan melihat mu nak" Theron menempelkan pelan telinganya di perut Rhea.
"apa yang kau lakukan?!" lirih Rhea.
Theron mendongak dengan terus mengelus perut Rhea "stt" ucap pelan Theron meminta Rhea untuk tak banyak bicara. Theron mendengar percakapan Ibu itu pada Rhea yang membuat Rhea terusik "berani sekali Ibu itu" Benak Theron kesal.
"eh, jadi adek ini sudah menikah dan ke sini datang bersama suaminya?!" Ibu itu terkejut, pasalnya Rhea hanya diam saat di tanya soal suami, rupanya paras suaminya begitu rupawan membuat orang yang melihat nya menjadi iri.
Rhea menoleh pelan ke arah Ibu itu, dia tersenyum canggung.
Theron melirik ke arah Ibu itu, dia tersenyum manis "benar, kami kesini untuk melihat perkembangan anak kami. Yeah, istri saya memang cantik jadi wajar saja anda mengira dia masih di bawah umur" Jawab Theron.
"apa-apaan sekarang dia memuji ku" benak Rhea, dia membuang muka tak mau memandang Theron yang terus berbicara manis tentang nya pada Ibu itu.
"wah, kau pria manis, sudah tampan, tinggi, dan mau menemani istrimu. Tapi kau tampak lebih dewasa dari istrimu?!" Ibu itu tampak penasaran.
Theron bangkit dari duduk nya "benar kami terpaut delapan tahun, itu bukan masalah bukan" tekan Theron memandang tajam ke arah Ibu itu.
"ah, begitu-. apa kalian menikah karena kecelakaan?" Ibu itu tersenyum kecil melirik ke arah Rhea yang dari tadi tampak menutupi sesuatu "kau tau anak sekarang memang seperti itu dan itu menjadi hal wajar di kalangan muda, sungguh ironis sekali" Ibu itu menggeleng kecil.
Rhea mengeratkan giginya kuat, dia bergetar hebat, ucapan Ibu itu tepat.
Ibu itu tersenyum kecil sembari menutup mulutnya dengan tangannya, dia sok terkejut melihat reaksi Rhea "rupanya benar ya?!" ucapnya pelan.
Theron tampak kesal Ibu itu terus mengusik Rhea "Ucapanmu tak sepenuhnya salah, namun dia adalah korban bukan karena keinginan nya. Cari tahu lebih dulu sebelum kau menyakiti perasaanya. Kau seorang wanita namun ucapanmu begitu pedas harusnya kau memberi dukungan sebagai sesama wanita yang tengah mengandung!!" tekan Theron.
"Jadi kau menikahi wanita korban pelecehan?!" Ibu itu menatap Theron tak percaya "untuk apa kau menikahi wanita yang tidur dengan banyak pria, kau sangat tampan wanita manapun pasti kecantol denganmu, kenapa malah memilih wanita rusak itu!!" Ibu itu tak mengerti pada Theron.
Air mata Rhea luruh, dia mengalihkan pandangannya sembari mengusap pelan air matanya.
"aku pelaku nya!!" Theron mengepal kuat jemarinya, rasanya dia ingin menutup mulut Ibu itu "Istriku bukan wanita murah kau tahu!!" Theron menyibak kasar rambutnya, wajahnya tampak merah dia menahan marah.
"Ow, bilang saja sama-sama mau. Tak perlu malu!!" Ibu itu bagai tak berperasaan.
Theron menatap wanita itu datar "kau tahu kau tak layak disebut sebagai seorang Ibu. Aku harap kau tak mengalami hal seperti ini kelak, apapun jenis kelamin anakmu nanti" Theron melirik Rhea yang semakin terisak.
Theron menatap Ibu itu tajam, dia mendekat berbisik pelan "aku tak berniat mengusik Ibu yang tengah mengandung seperti diri mu, ku sarankan kedepannya jaga mulutmu. Ku harap setelah kau melahirkan tak bertemu denganku lagi, karena saat itu juga aku tak akan berbelas kasih!!"
Ibu itu membelalak dia bergetar hebat, dia salah mengusik orang. Ibu itu mengangguk cepat, tak berniat bertanya lagi.
Theron menyentuh pelan pundak Rhea "Mari" ajaknya.
Rhea mendongak dengan cepat berdiri, dia memeluk erat Theron. Dia takut bertemu dengan orang-orang seperti Ibu itu yang main hakim dengan opininya sendiri. Theron menatap Rhea pilu, dia mengusap pelan air mata Rhea yang masih menetes "tak apa aku disini" Theron mengepal kuat jemarinya "dia bahkan tak tahu bagaimana cara mengembalikan perasaan hancur Rhea yang di sebabkan oleh nya"
Theron melirik tajam Ibu itu, buru-buru Ibu itu menunduk takut.
"Nah, kita sudah di tunggu dokter" ajak Theron sembari dia berusaha menenangkan Rhea.
Rhea mengangguk, tangannya sibuk mengusap kasar air matanya. Rhea memeluk erat lengan Theron, dia merasa lebih aman dekat dengannya sekarang ini.