
Suara deru mobil terdengar, beberapa mobil dan kendaraan yang terparkir di rumah sakit mulai melaju meninggalkan parkir. Theron dengan sigap menutup telinga Rhea, itu sangat berisik untuk Rhea yang tengah mengandung.
Rhea melirik Theron tak mengerti, kenapa dia menutup telinganya.
Theron membukakan pintu mobil, mempersilahkan Rhea masuk lebih dulu. Setelahnya dia ikut menyusul masuk kedalam mobil.
Theron mencengkeram setir, melaju kanya dengan pelan. Theron merogoh ponsel nya di dalam celananya, menekan sebuah kontak nomor.
"Halo tuan Theron, apa yang bisa saya bantu?" jawab seorang pria dari balik telepon, rasanya mereka sudah kenal cukup dekat.
"aku ingin kau siapkan meja VIP untuk sepasang dan siapkan isinya dan makanannya harus sesuai dengan Ibu hamil tak terlalu pedas, aku tahu kau mengerti akan ucapan ku. Saat aku sampai semua nya telah siap" jelas Theron.
"Saya mengerti" terdengar bising dari balik telepon, terdengar mereka sangat sibuk melayani pembeli lainnya.
Theron menekan tombol merah, sambungan telpon terputus.
Theron kembali fokus menyetir, dia melirik Rhea yang tengah tertidur lelap. Dia tampak sangat lelah. Theron mengusap lembut wajah Rhea yang begitu lesu.
Drt!!!
drt!!
Ponsel Theron bergetar, bergegas Theron mengangkatnya agar Rhea tak terganggu dengan suara getar ponselnya.
"Halo tuanku, sejauh ini apa anda dan nyonya tak akan pulang ke rumah?" tanyanya dari balik telepon terdengar suara cemas.
"ah, maaf kan saya. Saya lupa mengabari, pulang lah dulu bibi, kau tak perlu memasak hari ini kami akan makan di luar" Ucap pelan Theron agar suara nya tak menganggu Rhea.
"ah, baik. Bersenang-senang lah" Terdengar suara semangat bibi sati dari balik telepon, bergegas bibi sati mematikan telepon nya.
Cukup lama Theron menyetir, dia menghentikan mobilnya di parkir Pedestrian Hose.
"Hey bangun" Theron menggoyang pelan bahu Rhea. Berusaha membangunkannya yang tertidur begitu lelap.
Rhea mengernyit membuka mata pelan, dia tersentak melihat keluar jendela kaca. Di luar tampak asing, bukan seperti rumah nya. Rhea bertanya-tanya dalam benak. Ini bukan rumah, kenapa Theron menghentikan mobilnya di tempat itu.
Theron melirik Rhea, dia tersenyum dengan memperlihatkan gigi-gigi rapinya.
"ini bukan di rumah?" tukas Rhea memecah keheningan.
"Apa aku begitu mengekang mu sampai-sampai kau begitu terkejut aku tak menghentikan mobil di rumah?" Theron menatap Rhea dalam.
Rhea membuang muka. Dia ingin berkata bahwa Theron benar-benar mengekang dirinya bak penjara di rumah besar itu. Namun Rhea mengurungkan niat nya, dia lelah terus berdebat dengan Theron. Di tambah berlarian menghindar Theron di rumah sakit membuatnya lelah.
Theron turun dari mobil setelahnya bergegas membuka kan pintu mobil untuk Rhea.
"Tapi aku tak masalah melakukan ini!!" tegas Theron.
Mereka masuk kedalam. Nuansa minimalis nan modern melekat pada bangunan tiga lantai. Ruko satu pintu tersebut hadir bak pilihan baru, bersantai menikmati senja di kota pempek ini.
Tampak kursi-kursi yang di penuhi oleh orang-orang. Baik bersama dengan keluarga, kekasih, teman, dan bahkan orang-orang yang baru berkenalan saling bercengkerama.
Sebentar lagi langit akan memerah indah. Menikmati senja menjadi salah satu momen yang sering ditunggu oleh para pengagumnya. Menantikan langit menjadi jingga kemerahan dengan pemandangan matahari perlahan tenggelam di ufuk timur. Ini salah satu tempat makan yang menjadi spot terbaik sembari menikmati matahari meninggalkan peraduannya.
Theron menggenggam tangan Rhea tak melepas nya sepanjang turun dari mobil, dia membiarkan Rhea berjalan di depannya lebih dulu sembari Theron menjaganya dari belakang. Ramai orang-orang lalu lalang bisa saja tak sengaja menyenggol Rhea dan membuatnya terjatuh, itu akan sangat fatal.
Seseorang menyapa Theron lembut dengan seragam kerja yang melekat "Selamat datang tuan Theron dan nyonya, meja anda di sebelah sana ikuti Saya" ucapnya sopan sembari menuntun mereka berdua menuju mejanya, tak hentinya memberikan senyuman terbaik nya.
Meja nomor 3 meja yang letaknya sedikit jauh dari orang-orang kebanyakan. Di meja di penuhi dengan berbagai santapan tentunya itu akan aman untuk Rhea.
Theron mempersilahkan Rhea duduk lebih dulu, setelahnya Theron duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Rhea.
"aku tak mengerti dalam rangka apa kau melakukan ini?!" tanya Rhea yang sedari tadi sibuk berargumen dengan pikirannya mencari tahu gelagat aneh Theron yang tak biasanya mengajaknya keluar rumah apalagi bersantai menikmati senja seperti ini.
"Makanlah, kau pasti lapar" Theron menggeser piring yang berisi makanan tepat di hadapan Rhea.
Kruk!!
Perut Rhea terdengar bergaduh, sibuk minta tuk di isi. Rhea tertunduk malu sembari mengelus perutnya lembut, di saat kondisi seperti ini dia berbunyi sungguh tak tepat.
Rhea melirik Theron yang sibuk melahap makanannya bagai pura-pura tak mendengar suara berisik perut Rhea yang lapar. Rhea tersenyum malu, terkadang sikap Theron yang seperti ini membuatnya salah tingkah sendiri. Rhea menggeleng cepat menepis, dia tak ingin mudah percaya lagi. Rhea dengan pelan menyantap makanannya.
"Wah..." Rhea terkesima memandangi Fana merah jambu di langit, sangat menakjubkan rasanya tengah berada di dunia fantasi saking indahnya.
Rhea yang menikmati santapan nya sembari menikmati tenggelam nya matahari tak sadar Theron sibuk mengambil fotonya yang tersenyum dengan indahnya.
"kau lebih indah sampai mataku tak mampu ku alihkan bahkan saat kau berkata ada yang lebih indah, namun di mataku kau tak kalah indahnya membuat ku terkesima dikala kau tersenyum dengan manis. Tanpa ku sadari hatiku telah jatuh pada pesona indah mu..." gumam Theron sibuk menikmati keindahan sang istri yang jarang tersenyum menampakan wajah gembiranya.
"Hey, tolong ambil fotoku, langit sedang indahnya" Rhea berpose dengan manis nya.
Tentu saja Theron dengan senang hati memotretnya.
"apakah hasilnya bagus?!" tanya Rhea beranjak dari duduk mendekati Theron untuk melihat hasil gambarnya.
Theron memberikan ponsel nya pada Rhea. Rhea sibuk menatap fotonya mengamatinya beberapa kali.
"nah.. " Rhea mengembalikan ponsel nya pada Theron. namun Theron tak kunjung mengambil ponsel nya dari genggaman Rhea. Rhea menatap Theron cukup lama, matanya berkedip beberapa kali dia baru sadar di sini dia tengah bersama sang suami bukan bersama temannya. Bagaimana mungkin dia melupakan bahwa dia bersama suaminya dan seenak jidat memintanya mengambil foto diri.
"ah, biarkan aku mengambil foto untuk mu!!" Rhea kembali duduk ke kursi nya dengan panik. Dia mengarahkan ponsel ke arah Theron. Theron tersenyum berpose dengan gagahnya "Kenapa dia tampan sekali?!" gumam Rhea tersadar bahwa pria di hadapan nya begitu tampan, pantas saja orang-orang sibuk memandang ke arah mereka.