Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Ini kamarmu juga


Bahkan Rhea tak pernah berpikir akan bertindak seperti ini, namun wajah Theron yang tampak begitu murung membuatnya bergerak memeluknya dari belakang.


Theron menatap Rhea yang tertunduk malu. Bergegas Rhea melepas pelukan nya pada Theron.


"kenapa di lepas?" Theron berbalik membuat mereka saling menatap dekat.


"ah, aku ingin mandi" tukas Rhea bergegas beranjak dari kasur sebelum Theron membuat jantung nya berdetak hebat dengan tindakan nya.


"kenapa kau tak masuk ke kamar mandi, kau malah melangkah keluar kamar?!" Theron beranjak dari duduk menghampiri Rhea, dia tak terima jika Rhea pergi dari kamarnya.


"kamar mandi ku ada di kamarku" jawabnya cepat.


"Sejak kapan itu menjadi kamarmu huh!!" tegas Theron.


Seketika Rhea tertunduk, tangannya mengepal kuat. Ucapan itu berhasil melukai hatinya.


"Kamarmu ada disini" Theron menyentuh pelan dagu Rhea membuatnya mendongak.


Rhea membelalak, dia menatap Theron penuh tanya "bukan ini kamarmu-" ucapnya ragu.


"Mulai hari ini kamarmu dan aku disini, tak ada lagi tidur terpisah. Apa kau tak nyaman tidur denganku" lirih Theron, dia bagai anak kucing yang tengah membual berusaha mendapat kemauannya.


"Jika kau tak nyaman tak apa" Theron tak menghalangi Rhea tuk kembali ke kamarnya.


Rhea tampa menoleh, dia berjalan keluar dari kamar Theron.


Doeng!!


Melihat Rhea tetap keluar kamar membuat Theron kesal, sikap nya yang tampak manis tak membuat Rhea mendengarkan dirinya. Dia bahkan menghilangkan kesan kejam nya agar tak menakuti Rhea namun tetap saja Rhea tak mau tidur bersama nya.


"Ditolak rupanya semenyakitkan ini" Theron menyibak kasar rambutnya, dia tersenyum kecil berusaha tampak baik-baik saja. Sejauh ini Theron sudah beberapa di tolak oleh Rhea, bukankah dia pria yang cukup sabar.


Theron menyibak gorden menatap ke luar jendela, mengamati sekeliling. Rasanya di luar beberapa orang tengah mengamati di sekitaran rumahnya. Rumah Theron tak bertetangga depan maupun samping. Dia sengaja memilih rumah yang tak bertetangga akan sedikit beresiko jika beberapa orang tahu identitas dari Theron. Dua Sniper tak menghubunginya jelas bahwa sniper milik nya terkecoh atau berhasil di jebak.


"Mm" ucap pelan Rhea.


Seketika Theron menoleh cepat. Rhea tengah berdiri di belakang nya dengan malu-malu. Rambut setengah kering dan baju piyama yang melekat di tubuhnya. Sehabis mandi Rhea kembali ke kamar Theron.


Theron terkekeh melihat tingkah Rhea yang lucu "ku pikir kau mengabaikan ku"


"Aku tengah berusaha agar tak menjadi seorang istri yang jahat, mungkin" lirih nya membuang muka.


Theron berjalan melewati Rhea, dia naik ke atas kasur. Tangannya menepuk kasur pelan meminta Rhea mendekat. Rhea engan, namun dia tetap melangkah mendekat.


Mereka berdua berbaring di kasur yang sama untuk pertama kali tanpa drama penolakan atau isak tangis dan perasaan sedih mendalam antar keduanya.


"nah, kau tak boleh lewat dari ini mengerti!!" Rhea membuat pembatas dengan bantal guling.


Theron mengernyit dia melempar bantal yang di jadikan pembatas ke lantai "aku tak suka ini"


"hey, kau harus menghargai itu. Pembatas itu sengaja aku buat agar kau tak melewati batas" Rhea bangun dari posisi tidurnya, dia menopang kedua tangan di pinggang menatap kesal suaminya.


"Sekarang kau yang mengabaikan ucapan ku. Aku kembali ke kamarku" dengus Rhea semakin kesal.


Theron menyipitkan matanya, melirik Rhea, dia menarik pelan Rhea ke dalam pelukan nya "jika kau memberi pembatas, aku tak akan bisa memelukmu" bisiknya.


"Aku sengaja agar kau tak melakukan hal seperti ini" gerutunya "Jadi lepaskan aku" Rhea memberontak.


Theron bagai tak mendengar celoteh Rhea yang terus meminta nya untuk melepaskannya. Rhea terdiam sendiri, lelah berceloteh panjang dan memberontak namun tak kunjung Theron melepaskannya.


"sudah?!" ledek Theron.


"huh!!" Rhea memukul kencang dada bidang Theron dia semakin kesal.


Theron melepas dekapannya. Rhea dengan cepat bangkit, merebahkan tubuhnya dekat dengan bibir kasur menjauh dari jangkauan Theron.


Theron menahan tawa, rupanya istri kecil nya bisa bertingkah lucu, kekanakan, dan terkadang agresif.


"kau pikir lucu, tidak sama sekali. Diam lah aku ingin tidur" tegas nya, kali ini Rhea tampak begitu kesal.


Theron terkekeh, bahkan nada dan ucapannya mengikuti dirinya "kau Mengikuti" Theron benar-benar tak bisa menahan tawanya.


Rhea tak menggubrisnya, dia memejamkan matanya cepat. Hari ini dia ingin tertidur cepat itu saja.


Theron tak hentinya menatap Rhea. Rhea yang berusaha tidur selalu gagal karena tatapan tajam Theron yang tak henti.


Rhea membuka matanya pelan "Bisakah kau berhenti menatap ku!!" ucapnya kesal.


Theron menggeleng "kenapa kau tidur dengan cepat, kau tak ingin bercerita atau apa?!" Theron terus memancing agar Rhea menemaninya malam ini dan tak meninggalkannya tidur lebih dulu.


"Tidak!!" tekannya.


"Sungguh?!" Theron menyangga wajahnya dengan bantal tak henti menganggu Rhea.


Rhea menoleh, tangannya mengepal kuat, dia greget "Rupanya kau banyak bicara tak seperti suami Dingin nan kaku saat pertama kita menikah, terkadang aku menyukai dirimu yang tak banyak bicara"


Theron terdiam sejenak, dahinya mengkerut dia tersenyum kecil "Sungguh kau lebih menyukai diriku yang dingin, kau tak akan takut jika aku bertingkah seperti itu?"


Rhea tampak berpikir sejenak "Argh!! intinya kau harus menempatkan dirimu di situasi yang tepat. Jangan berisik saat tidur, mengerti Theron..." Tekan Rhea dia tampak frustasi.


"stt" Theron mendekat menarik Rhea kedalam pelukan nya "kau tak peka yang ku mau ini, tertidur sembari memeluk dirimu" Theron mengusap pelan rambut Rhea.


Rhea tak bergeming, mungkin sesekali dia tak harus terus menolak Theron dengan kasar. Perlahan Rhea tertidur dalam pelukan Theron.


Theron mengecup pelan dahi Rhea, hati-hati melepas dekapan Rhea, hati-hati beranjak dari kasur agar Rhea tak terbangun.


Theron menganti pakaiannya dengan setelan hitam, tak tertinggal sarung tangan hitam yang melekat. Dia menarik laci kecil di lemari pakaiannya, dia mengambil pistol yang ada di dalam laci itu.


Theron melirik ke arah Rhea berjalan pelan mendekatinya, dia mengusap pelan rambut Rhea mengecup rambut panjang milik Rhea "tidur lah yang nyenyak" Theron berjalan keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga.


Baru saja Theron membuka pintu belakang dia sudah di sambut dengan peluru yang mengarah ke arahnya. Theron menghindar dengan cepat, dia menatap tajam ke arah peluru itu, tampak beberapa orang yang berpindah-pindah tempat berlarian di luaran pagar Rasanya mereka memancing Theron agar menjauh dari rumah nya. Sesekali peluru di tembakkan ke arah Theron. Theron semakin kesal di buatnya, dia bergegas berlarian mencari sumber orang-orang yang tengah bermain-main dengannya.