
“Tidurnya lelap sekali” ucap pria tua itu memandang Rhea yang tengah tertidur pulas. Yeah pria itu Kartel Yadies pemimpin dari organisasi Vantoni.
Pria yang bersama dengan Kartel menunggu di dekat pintu sembari mengawasi kedatangan Theron.
Kartel mendekat memandang Rhea dekat, wajah cantik nan rupawan di baluti dengan wajah lelahnya membuat Kartel sedikit iba pada gadis itu. Perasaan Iba yang hanya terlintas sesaat, Rhea adalah bidak catur yang sangat berguna nantinya.
"Mari bermain sejenak dengan nya" benak Kartel.
“Kau siapa?” Rhea yang terbangun bergegas menjauh.
Pria yang tampak sangar berada di kamarnya membuatnya terkejut, di tambah sosok yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Jikapun dia orang Theron tak mungkin dia tak memberi tahu Rhea, bukankah tak sopan bagi bawahan masuk ke dalam kamar tuannya?.
“ah, menantu kau sudah bangun rupanya” Kartel tersenyum kecil.
“Menantu?” gumam Rhea, namun hal yang lebih penting bagi Rhea keberadaan suaminya yang tak kunjung dia lihat. Tampak kondisi yang tak baik bagi Rhea, di tambah seseorang dengan senapan tengah menunggu di depan pintu kamar.
“Aku tak melihat suamiku kemana dia?” ucap Rhea memecah keheningan dia berusaha tampak tenang. Takut, tentu saja. Hanya Rhea berharap hari ini tak sama seperti malam mengerikan itu. Pria asing yang membuat bergidik berada di kamarnya di saat Theron tak tahu kemana.
Kartel terkekeh , dia duduk di kasur sembari menatap ke arah Rhea “ah, aku membuatnya sedikit sibuk. Sebagai balasan karena tak mengundangku saat mengambil seorang istri” Seketika ucapan Kartel terdengar serius.
"sifatnya itu sangat buruk, membuatku ingin cepat menghilangkan dirinya di dunia ini" Kartel menyipitkan mata menatap Rhea, candaannya terdengar begitu serius.
Rhea terdiam mencerna ucapan Kartel dari awal dia tak tahu betul mengenai latar belakang Theron maupun keluarga Theron hanya segelintir yang tampak saat hari pernikahan “Jadi mungkinkah kau Ayah dari suamiku?” tukas Rhea.
“Mm, mungkin bisa di katakan seperti itu” Kartel tampak berpikir, dia menjawab dengan ragu.
Rhea termangu, harusnya pria ini tak berani menampakan diri di rumah Theron. Rhea ingat betul cerita Theron Ibunya yang terbunuh oleh Ayahnya sendiri. Rhea tertunduk takut, pria pembunuh sekarang berada didepannya.
“Bukankah aku ini tetap Ayahnya, bukankah begitu menantu?!” dia menatap Rhea lekat-lekat sembari meraih tangan Rhea menggenggamnya dengan kuat.
"Tapi kau tak melakukan peranmu, jadi apakah pantas kau tetap di sebut Ayah?" Tanpa sadar ucapan itu keluar begitu saja.
Kartel terdiam sejenak "Ayah tetap orang tua yang harus di hormati" Kartel menyeringai.
"Jadi sebagai anak dia tak boleh durhaka!!" timpal nya lagi, seakan menyudutkan Theron.
Rhea tak tahu mengenai kasus sebenarnya tentang keluarga ini, jadi siapa yang Salah dan benar disini?!.
"Apa benar kau menganggap Theron anak?" ucap Rhea ragu.
"Tidak!!" Jawabnya tegas.
Rhea mengernyit, apa-apaan pria ini seakan menjadi orang yang paling tersakiti, padahal dia sendiri yang jahat. Rhea menarik tangannya dari genggaman kartel.
Kartel melirik Rhea ekspresinya berubah serius “bahkan dia tak memberitahu mu mengenai silsilah keluarga, apa mungkin dia menganggap dirimu?atau..”
“Yeah, aku sering mendengar ucapan seperti itu. Jadi kali ini aku tak akan lagi termakan hasutan” Tegas Rhea.
“mm.. kau boleh juga” Jawab Kartel.
Pandangan Kartel tertuju pada lukisan yang terpanjang di dinding “Wah.. Wah apa ini” Kartel beranjak dari duduk, dia menghampiri lukisan Maria Sandra yang terpajang indah di dinding kamar.
"Kau senang atau merasa lebih buruk? anak yang kau tinggalkan tak jauh beda dengan mu, dia bahkan menghamili seorang gadis" Kartel menahan tawa.
Kartel dengan hati-hati menurunkan lukisan itu.
BRAKK!!!
Dia melempar lukisan itu kencang ke lantai.
Rhea tersentak, bergegas beranjak dari kasurnya. Bagaimanapun lukisan itu penting bagi Theron, dari awal datang sepertinya Kartel berniat mengacau nya.
“Kau adalah tamu tak seharusnya merusak barang milik tuan rumah!!” Rhea ikut kesal atas tindakan pria yang mengaku Ayah dari Theron, namun bersikap layaknya bukan seorang Ayah. Rhea mengambil lukisan di lantai namun Kartel menginjak lukisan itu.
“Menantu kau kembali tidurlah, aku datang kemari hanya ingin mengambil lukisan ini itu saja!!” Tegasnya.
“Lukisan ini milik suamiku, harusnya kau izin padanya jika memang kau ingin lukisan Ibu Mertuaku!!” Rhea tak mau kalah.
“huh lucu sekali" Kartel menarik paksa lukisan itu dari tangan Rhea.
Rhea berusaha mengambil paksa lukisan itu dari tangan Kartel. Namun pria yang membawa senapan menahan Rhea tak lupa senapan itu di todongkan ke arahnya, membuat Rhea tak berani bergerak.
Kartel mengeluarkan korek api yang dia bawa, di depan Rhea dia membakar lukisan Maria Sandra. Api membesar melahap lukisan hingga tersisa abu yang memenuhi lantai.
Dia tersenyum jahat "aku sangat senang" ucap nya menatap Rhea puas.
"Benar-benar bukan sosok Ayah, bagaimana mungkin kau melakukan hal yang melukai putramu itu. Lukisan itu sangat berharga untuk Theron" Rhea menahan air matanya, baru kali ini dia melihat seorang Ayah yang begitu kejam.
Kartel tak bergeming, dia hanya menggerakkan tangannya meminta pria yang menahan Rhea melepaskan Rhea. Pria itu menuruti perintah Kartel dengan cepat.
"Kau gadis malang, entah ucapan apa yang di janjikan Theron padamu. Aku beri saran padamu, Aku akan menerimamu dan cucuku jika kamu memilih ikut denganku" Ajak Kartel.
"Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu!!" Rhea semakin kesal. Rhea tak habis pikir sosok Ayah Theron yang seperti ini, bagaimana kehidupan Theron selama ini pasti hari-harinya tak mudah.
"Aku akan menunggu" tuturnya sembari berjalan keluar, dia bahkan menginjak abu lukisan itu begitu saja.
"kita akan bertemu lagi, Menantu!!" ucap nya seraya meninggalkan Rhea yang masih menangisi lukisan Maria Sandra.
Pria yang membawa senapan berjalan mengikuti tuannya.
```
Theron tersentak mendapati pintu rumah yang di bobol. Dia bergegas berlari ke dalam rumah, menyusuri anak tangga.Dia terhenti melihat Rhea yang menangisi abu di lantai.
Rhea menoleh ke arah Theron "Lukisan Ibumu di bakar oleh Ayah mu" ucap Rhea merasa bersalah.
Theron mengepal kuat jemarinya, dia mendekati Rhea "Tak masalah, yang terpenting dia tak melukai dirimu" Theron memeluk Rhea erat, terdengar suara napas Theron yang berat, napas yang tak beraturan.
Tatapan Theron tajam, sejak awal dia mengincar lukisan Ibundanya. Jika memang yang dia incar Rhea maka dia sudah melakukan nya dari tadi. Beruntung Rhea tak kenapa-napa.