
"Duh jam segini masih belum bangun juga?!" Rhea menatap jam dinding menunjukan pukul 01:12 pm. Tangannya sibuk memencet remote menganti Chanel. Bising televisi menemaninya. Cukup lama dia terduduk menatap televisi namun Theron tak kunjung turun. Bahkan sampai Bibi Sati pulang Theron masih mendekam di kamarnya. Rhea tak sabar lagi, dia beranjak dari duduknya menaiki anak tangga, menuju kamar.
Gorden disibak membuat cahaya mentari memenuhi ruangan. Theron mengernyit sedikit menggeliat sembari menarik selimut menutup matanya kembali.
Rhea menatap suaminya yang masih tertidur. Mentari sudah meninggi, hari semakin siang dan Theron masih tak kunjung bangun.
"Bangun! kamu belum sarapan!!" Rhea menarik selimut dia sedikit memekik.
"Mm" deham Theron terdengar lirih, matanya masih tertutup rapat.
Dahi Rhea mengernyit, rasanya sedikit kesal. Rhea mendekat ke kasur, kedua tangan menopang pinggangnya, tampak perutnya yang mulai menonjol.
Rhea sedikit menunduk, wajahnya mendekat pada Theron, dia berbisik "Bangun!!" jemarinya bermain di wajah suaminya, menggesek-gesek wajah Theron sedikit kasar. Hal itu tak kunjung membuat Theron terbangun. Tidurnya kian lelap.
"Duh, anakmu mau papanya bangun!!" Bisik Rhea lagi. Walaupun dia agak malu mengucapkan kata itu.
"Sungguh?" Tangannya menggenggam jemari Rhea kuat "ada apa?" tanyanya. Matanya yang tadi tampak sayup, sekarang terbuka dengan lebar. Yeah meski kesadarannya belum sepenuhnya.
"Aku tahu kamu mengantuk, tapi jangan lewatkan sarapan!!" Rhea menarik kencang selimut yang menutupi Theron.
Theron tersentak. Dia menatap heran Rhea yang berdiri dengan ekspresi wajah marah, namun tampak sangat lucu.
Theron mengacak pelan rambutnya, senyum kecil terukir di bibirnya "Hehe.." ucapnya terkekeh sembari memeluk Rhea.
"Jadi mana anak kita ku dengar dia ingin aku bangun?" Theron menatap sekitar namun tak melihat apapun.
Rhea tertawa menatap suaminya, rupanya Theron sepenuhnya belum sadar dari alam kesadaran.
"Nih" tunjuknya ke perutnya.
Theron menatap perut buncit Rhea, dia tersadar "Eh?! iya belum lahir ya anak kita hehe.."
"Ugh!!" Sikap Theron hari ini sangat lucu, benar-benar mengesalkan bagi Rhea. Di tambah dia bermanja padanya dengan wajah tampannya itu "Tak ada yang lucu, lepaskan dan cepat turun!" Rhea melepas dekapan Theron. Berusaha biasa saja.
Rhea melipat kedua tangannya di dada, tampak dia merajuk. Begitu saja Rhea turun tanpa menoleh lagi pada Theron. Sebenarnya Rhea melarikan diri dari situasi yang membuatnya terpesona pada Theron, dia tak mau mengakuinya.
"Aku akan turun!!" Pekik Theron. Melihat Rhea yang kian marah membuatnya buru-buru bangun dari kasurnya, dia mengejar Rhea dengan cepat.
Di bawah Rhea menyiapkan makanan untuk di santap, dia sibuk mengisi piring. Sekarang dia tampak sebagai seorang istri yang tengah mengurus suaminya.
"Apa yang kamu buat?" Theron tampak bersemangat wajahnya berseri cerah.
"Ah, tumisan sayur. Bukan Aku yang masak bibi yang masak" Jawab Rhea.
"Aku tahu" ucapnya.
Sedetik tiba-tiba suasana menjadi canggung. Theron berdiri didekat Rhea, dia menatap tangan Rhea yang sibuk memindahkan nasi dan lauk ke piring.
"Rindu keluarga?" tukasnya memecah keheningan.
Rhea terdiam sejenak, setelahnya kembali menyibukkan diri.
"Apa kamu rindu keluarga?" tanyanya lagi.
"Jika kamu mau, aku akan mengajak mu bertemu keluargamu. Itu bukan hal yang sulit" tuturnya lagi. Theron berdiri tegap menatap Rhea lekat.
Rhea membuang muka. Jemarinya mengepal roknya kuat. Jujur saja dia tak memiliki muka untuk berjumpa dengan keluarganya. Terutama Ayahnya, dia sangat takut bertemu dengannya, mengingat terakhir kali Ayahnya begitu murka atas kesalahan yang Rhea lakukan. Tapi di lubuk hatinya dia merindukan kedua orang tua dan adik kecilnya. Rhea duduk di kursinya pelan, dia melirik Theron.
Theron mengerti dengan sikap Rhea. Rhea belum siap bertemu kembali dengan keluarganya. Tapi di sini bukan Rhea yang salah melainkan dirinya, berulang kali Theron menjelaskan semuanya pada Ayah mertua namun tetap saja penolakan tetap di pegang teguh oleh Ayah mertuanya itu.
Theron tak mengungkit lagi. Dia duduk di bangku samping Rhea. Menikmati makanan yang di siapkan Rhea untuknya.
Setelahnya Theron bersiap untuk menjumpai Daniel. Dia mendapat pesan bahwa adik iparnya telah siuman dan Aryan sekarang ketakutan berada di tempat asing. Kejadian ini menyulitkannya, banyak alasan yang harus dia siapkan baik untuk Aryan maupun Rhea.
Theron menuruni anak tangga mendapati Rhea yang sibuk membaca sebuah buku.
Rhea mengalihkan pandangannya dari halaman buku yang dia baca setelah mendengar suara decitan sepatu Theron "Mau kemana?" tanyanya pelan.
"Ada hal yang harus aku urus sebentar tak akan lama" Jelasnya sembari meraih kunci mobil di meja.
Rhea berusaha tenang, kejadian semalam masih mengejutkannya. Kejadian menakutkan yang tak akan pernah dia lupakan, tapi dia tak boleh melarang suaminya keluar hanya untuk menemaninya di rumah. Suaminya pria yang sibuk memiliki banyak urusan mungkin saja itu urusan yang urgent.
Pandangan Rhea kembali ke halaman bukunya tadi "Pergilah" Lirihnya.
"Jangan pulang larut!" ucapnya sedikit ragu.
"Huh?" Theron terdiam sejenak. Seketika wajahnya bersemu merah, dia senang mendengar ucapan itu dari Rhea. Kekhawatiran dan ucapan bahwa Rhea menunggu kepulangannya.
Theron berdiri di depan Rhea "Tentu aku tak akan membuatmu menunggu" ucapnya dengan ekspresi senang.
Rhea mengernyit, dia mendongak pelan "Jadi kenapa belum pergi juga?!"
Theron tersenyum kecil, dia menyentuh pipi kananya. Rhea terdiam tampak berpikir sejenak, dia bangun dari duduknya mengecup pelan pipi Theron. Theron membelalak, mematung tampak terkejut.
Seketika Rhea ikut mematung "Bukankah dia menginginkan sebuah kecupan?" benaknya bingung.
"Ekhm!!" Theron berusaha memecah suasana kaku diantar mereka.
"Ada potongan kertas yang menempel dekat pipimu" Theron meraih potongan kertas itu, dia memperlihatkannya pada Rhea.
"Ah, benar. Terimakasih" Seketika rasa malu memenuhi sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam saking malunya. Ingin rasanya dia sembunyi dan menghilang dari pandangan Theron sekarang juga.
Theron kian terkekeh melihat tingkah manis Rhea "Aku akan pulang cepat" jemarinya mengusap pelan pucuk kepala Rhea sembari mengecup keningnya lembut, sebisa mungkin mereda rasa malu yang memenuhi Rhea "dan tunggu Ayah!" tak lupa Theron mengusap lembut perut Rhea.
Rhea tertunduk kian malu "hati-hati" ucapnya.
Theron mengangguk bergegas keluar. Rhea menatap punggung lebar suaminya, dia tersipu malu "Huh kenapa hawanya terasa panas?!" Rhea sibuk mengibaskan jemarinya berusaha menciptakan angin.
Rhea menghela napas berusaha menenangkan dirinya yang tampak salah tingkah. Kedua tangan menyeka wajahnya yang masih merah padam "aneh?!" benaknya bingung dengan perasaanya, terasa Ada sesuatu yang meluap-luap tapi dia tak mengerti apa itu.
"Apa kau tahu nak?! Hari ini Ibu merasa sedikit aneh tapi jauh lebih baik dari hari sebelumnya" Rhea menatap perutnya yang tampak mulai membesar jemarinya mengusapnya dengan lembut.
"Mungkin ini bawaan hamil" pikir Rhea.