Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Menggetarkan hati


"Kau, bisakah ambilkan foto kami berdua?" Theron memanggil seorang anak remaja yang berusia sekitar 14 tahun yang baru saja lewat berlarian di dekatnya.


Remaja itu terdiam menatap ke arah Theron sembari menunjuk dirinya. Dia memastikan bahwa Theron memanggil dirinya bukan orang lain.


Theron mengangguk pelan "benar kau" ucapnya menegaskan bahwa benar yang di panggilnya remaja yang tengah menunjuk dirinya itu.


Remaja itu berlari pelan menuju Theron dia dengan senang hati menerima permintaan tolong Theron tuk memotretnya. Pandangan remaja itu tertuju ke arah Rhea yang menyerahkan ponsel pada remaja itu.


"kak, apakah dia istrimu?" tanya remaja lelaki itu sedikit berbisik pada Theron.


Theron melirik ke arah Rhea "benar" jawabnya cepat.


"kau tahu para lelaki di bagian Sana" tunjuk remaja itu ke arah perkumpulan pria-pria yang menatap ke arah mereka.


"Mm.. kenapa dengan mereka?" tanya Theron tak mengerti.


Remaja itu menggeleng tak percaya, dia bahkan memukul pelan kepala nya "kau membawa seorang gadis cantik nan manis yang tampak lebih muda dari mu, tahu mereka berkata apa tentangmu. Mereka bilang kau hanya paman gadis yang bersama mu" Remaja itu menutup mulutnya pelan sembari berbisik.


Theron tampak kesal, dia menatap tajam ke arah perkumpulan pria-pria yang menatap ke arah Rhea. Sontak pria-pria itu mengalihkan pandangan nya. Theron menarik remaja itu dekat kearahnya "katakan pada mereka bahwa istri cantik ku ini akan segera menjadi Ibu. Lalu jagalah selalu mata agar tak sembarang memandang istri orang lain.." Bisik Theron pada remaja itu.


"Mm.. baik" jawab cepat remaja itu "kau tahu sebenarnya aku datang mendekat ke arah sini karena penasaran juga kau suaminya atau penculiknya!!" Remaja itu menggaruk pelan kepala nya yang tak gatal, dia terkekeh sedikit merasa bersalah.


Theron menatap remaja itu sinis, dia mengacak kasar rambut remaja itu "apa tampangku menakutkan?" tanya Theron memastikan.


Remaja itu mengangguk cepat "Wajah kakak tampak tegas namun saat berbicara dengan istrimu kau tampak lembut karena itu aku percaya kau suaminya. Lalu aku taruhan dengan pria-pria itu bahwa kau suaminya dan aku pemenangnya!!" ucap lantang remaja itu senang, rasanya dia akan mendapat rejeki nomplok.


Theron menghela napas, tak di sangka wajahnya tampak menakutkan.


"Tapi jujur saja ucapan itu dilontarkan oleh orang-orang yang iri dengan wajah kakak. Sejatinya kau sangat tampan" bisik Remaja itu lagi.


Theron tersenyum kecil "aku tahu aku ini memang tampan" ucapnya percaya diri.


"nah.. sekarang bagaimana jika kau ambil foto dengan cepat sebelum mentari tenggelam berubah gelap" Theron menyudahi percakapan mereka agar tak terus panjang dan tak jadi berfoto.


Remaja itu dengan sopan meraih ponsel yang di berikan Rhea padanya.


"hey, apa yang kalian bicarakan tadi. Sibuk berbisik?" tukas Rhea yang mulai penasaran.


Remaja itu melirik Theron mereka saling berkedip sembari tersenyum kecil.


"Rahasia!!" ucapnya bersamaan.


Rhea melipat kedua tangan nya, dia memajukan bibirnya kesal. Rhea berpikir dia memotret Theron tak bagus. Sampai-sampai Theron memanggil orang lain tuk memotretnya, entah kenapa rasanya dia kesal sendiri.


Theron merangkul pundak Rhea tatapan nya mengarah pada Rhea yang tersentak kaget menatap ke arah Theron.


Jpret!!!


Remaja itu bergegas berlari meninggalkan Theron dan Rhea usai selesai memotret beberapa kali dia juga tampak senang karena mendapat tip dari Theron.


Rhea menatap surya yang mulai tenggelam membuat lampu-lampu sekitar menampakan cahaya nya. Hari ini begitu menenangkan tak seperti hari-hari lalu.


Theron mendehem pelan mengeluarkan kotak kecil yang dia bawa. Dia meletakkannya dimeja menggesernya pelan hingga menyentuh lengan Rhea yang terlipat di meja.


Rhea yang masih sibuk menikmati langit yang mulai tampak bintang bertebaran menunduk melihat sesuatu yang menyentuh lengannya. Dia mendongak menatap Theron penuh tanya.


"buka lah" ujar Theron mempersilahkan Rhea membuka kotak itu.


Rhea mengernyit, menatap ragu kotak itu. Sekali lagi Rhea melirik Theron. Theron memberinya anggukan pelan.


Rhea membuka kotak itu dengan hati-hati, terdapat sepasang anting berlian, sebuah kalung, dan gelang yang cantik di dalamnya.


"ini-" bibir Rhea kalut dia menatap Theron lekat-lekat. Pasalnya ini tampak sangat mahal "ini untukku?" Rhea tak percaya dia kembali menutup kotak itu dia menyerahkan pada Theron.


Theron beranjak dari duduk nya, dia membuka kotak itu mengambil kalung. Theron berdiri di belakang Rhea yang terduduk. Theron memasangkan kalung itu di leher cantik milik Rhea.


"kalung ini milik Ibundaku dulu, dia sangat menyukainya. Aku ingat perkataanya sebelum beliau pergi, aku harus memberikan kalung ini kelak pada istriku sebagai bentuk bahwa Ibuku menyertai pernikahanku" Theron sibuk mengaitkan kalung itu.


"ucapan nya saat itu bagai tahu bahwa hidup nya tak akan lama, sayangnya aku tak mengerti saat itu" Theron sedikit menunduk mendekat ke leher Rhea, dia dengan lembut mengecup leher Rhea.


"Aku baru memberikan nya padamu karena setelah sekian lama aku baru berhasil menemukan nya" bisik Theron di belakang daun telinga Rhea.


Rhea menaiki bahunya yang terasa geli "terimakasih-" ujarnya.


Rhea menoleh ke belakang menatap suaminya, tak mudah berbicara mengenai orang yang telah tiada apalagi orang yang sangat bermakna dalam hidup. Sakit yang tertutup dengan rapinya di wajah kaku nan tegas yang Theron ciptakan.


"Ini barang berharga, bukankah begitu?!" Rhea berdiri tepat di hadapan Theron sembari menggerakkan tangannya meminta agar Theron sedikit menunduk.


Theron sedikit menunduk mengikuti arahan Rhea "Ini hanya symbol nyatanya ini bisa rusak kapanpun. Namun kau lebih berharga" tukasnya.


Rhea memiringkan wajahnya, sadar atau tidak Theron sangat pandai berbicara manis. Membuat pendengar tersipu malu dengan ucapan nya itu.


"aku pun sama bisa hancur jika kau mencoba menghancurkan hatiku aku lebih rapuh dari kalung ini" Rhea menyentuh kalung yang melingkar indah di lehernya.


Theron menyentuh belakang kepala Rhea pelan mendorong mendekatkan ke wajahnya. Dahinya dan dahi Rhea menempel "Maka dari itu kau ku jaga bak berlian dari sentuhan tangan nakal" Theron tersenyum dengan manisnya.


Angin similar dengan rembulan yang terang membuat suasana menjadi lebih indah. Jantung Rhea berdetak dengan hebat nya, senyum Theron begitu tulus berhasil menggetarkan hati Rhea yang hampir mati.


Pelupuk mata Rhea di penuhi dengan air matanya, dia mendekap suaminya lembut. Mungkin di luaran Sana banyak orang yang memiliki kisah seperti dirinya namun tak ayal seberuntung dirinya. Selalu saja Theron bersikap baik di saat Rhea ragu akan hadirnya dia di hidup nya, selalu saja dia menepati janji yang terucap.


Theron membalas dekapan lembut Rhea, dia mencium kening Rhea. Tanpa sadar dia sudah jatuh terlalu dalam pada gadis yang berstatus sebagai istrinya itu.