
Saat sampai di kediaman Daniel Theron langsung di sambut baik. Bergegas Theron menuju kamar tempat Aryan beristirahat, sekarang masalahnya pria yang tampak ketakutan dengan badan tertekuk tersembunyi di balik selimut Aryan Nostra, adik ipar Theron.
"Kau apakan dia sampai takut gemetar seperti itu?" Theron berdiri tepat di depan pintu, nadanya sedikit menekan, lirikannya begitu tajam.
Daniel menggaruk kepalanya pelan "Aku tak melakukan apapun padanya, hanya setelah bagun dia begitu ketakutan. Dia bahkan tak mau di kunjungi siapapun"
Sebelum Theron datang, Daniel berusaha menjelaskan pada Aryan bahwa dia bukan orang jahat. Dia menjelaskan pada Aryan bahwa dia tak sengaja menemukan Aryan di suatu tempat dengan keadaan yang menyedihkan, karena itu Daniel membawanya ke rumahnya dan memberinya perawatan. Daniel juga menceritakan bahwa rupanya Aryan adik ipar dari rekan kerjanya Theron. Yeah, semua penjelasan itu hanya kebohongan agar tak menimbulkan kecurigaan Aryan. Namun, tetap saja Aryan tak mendengarkannya.
Daniel menyentuh pundak Theron kuat "Sampai berbusa mulutku menjelaskannya, dia tak mau percaya. Selanjutkan aku serahkan adik ipar mu yang keras kepala itu" Daniel meninggalkan Theron, dia tak mau ikut campur dengan masalah yang bahkan dia tak di beri pesangon, dia merasa sejauh ini dia cukup baik sebagai rekan yang tak di bayar di situasi ini.
Theron melangkah mendekati Aryan pelan.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat membuat Aryan sedikit takut. Dia mengingat kejar-kejaran dengan dua orang pria di kediaman kakaknya. Dia nyaris tertembak mati "Menjauh dariku!!" pekiknya bersembunyi dari balik selimut.
Awalnya Aryan datang ingin melihat kakaknya yang lama tak berkabar. Dia rindu, dia pergi ke kediaman kakaknya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya dan datang hanya mengikuti alamat yang pernah kakak iparnya berikan. Tak di sangka sampai di kediaman itu, dia dikejutkan dengan dua pria yang mengejarnya tanpa tahu alasan jelas. Mereka berdua menyerang dirinya secara brutal dan membabi buta, untungnya Aryan pria yang cukup tangkas pandai menghindar, namun tetap dia berakhir tertangkap dan di kalahkan.
Theron duduk jongkok menatap Aryan pilu. Kondisinya tak baik, tentu saja dia berhadapan dengan dua sniper terlatih nya, tapi sejauh ini Aryan pria hebat yang mampu bertahan.
Theron menatap Aryan, dia tak tahu harus melakukan apa padanya "Hey, apa kau ingin bertemu Kakakmu Rhea?" ucapnya yang terdengar berhati-hati, berusaha tak membuatnya kian takut.
Seketika Aryan beranjak bagun dari posisi tidurnya "Siapa kau?-" Ketika matanya bertemu dengan Theron, dia membelalak terkejut "Jadi yang di katakan pria bernama Daniel itu benar, bahwa dia kenal dengan kakak iparku" benak Aryan.
"Kau suami kakakku bukan?" tanyanya memastikan. Walaupun dia masih membenci Theron, namun di kondisi ini melihat Theron membuatnya tenang.
"Benar. Jadi kenapa kau ada di sini, kita berbeda kota?" Theron berdiri tegap, dia menatap Aryan lurus.
Aryan terdiam sejenak serasa berpikir sebuah alasan "Aku ingin bertemu kakakku" lirihnya, dia membuang muka. Suaranya terdengar bergetar, serasa dia takut di salahkan.
Aryan menoleh cepat ke arah Theron "Jadi apa kau memberikanku alamat yang benar kak, sesaat aku tiba di alamat yang kakak berikan aku di kejar dua orang bersenjata. Menakutkan!!" Aryan mengusap-usap lengannya dia kembali bergidik ngeri.
"Ah, setidaknya sekarang kau baik-baik saja" ucapnya, sebenarnya Theron tak pandai menghibur.
"Aku akan membawa mu menemui Rhea setelah keadaanmu lebih baik. Selama itu kau akan tinggal di sini!!" Suara Theron terdengar tegas.
"Aku tak masalah. Aku ingin segera berjumpa kakakku" Aryan beranjak dari kasur namun tubuhnya yang di gerakan terasa begitu sakit.
Mau tak mau Aryan mengikuti ucapan Theron. Kondisi nya saat ini tak memungkinkan, dia hanya akan membuat kakaknya khawatir nantinya.
"Kau tak perlu khawatir. Dia baik-baik saja, seperti janji ku pada keluarga mu. Aku akan menjaganya, selepas dari kesalahanku dulu. Dia kan ku ratu-kan" Jelasnya, senyum kecil terbesit di bibir Theron.
"Yeah, saat ini aku akan mencoba percaya" Aryan merebahkan tubuhnya ke kasur, dia menatap langit-langit kamar yang asing. Dia tampak berserah dengan takdir.
"Lalu bagaimana dengan kandungannya?!" Aryan memecah keheningan.
"Sejauh ini tak ada yang perlu di khawatir kan baik Ibu atau anak yang ada di kandungannya" Jelasnya, entah kenapa suasana menjadi canggung antar mereka berdua.
Theron hendak melangkah keluar, melihat Aryan yang cepat beradaptasi dan mengerti situasi membuatnya tak perlu berlama-lama disini. Setidaknya sampai Aryan membaik dia akan membawanya bertemu dengan Rhea.
"Jujur aku masih membencimu. Harusnya aku dan kakakku saling mengejek, bercanda riang sekarang. Suasana rumah yang ramai sekarang sepi. Kau mengambilnya dari kami dengan cara tak terpuji!!" tekan Aryan dia benar-benar mengucapkannya penuh tekanan.
"Aku tak berharap kau memaafkan ku dalam waktu cepat dan kau pantas mengatakan itu karena ucapanmu tak salah sepenuhnya" Theron menatap Aryan lekat.
Theron berbalik, rasanya perasan bersalah kembali mencuat "Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan aku tahu kesalahanku tak termaafkan. Jadi jika kau tak memaafkan ku aku tak mempersalahkan nya itu hakmu. Aku senang kau datang kemari untuk Rhea, artinya kau tak ikut membenci Rhea"
Aryan mengepal kuat jemarinya, ucapan Aryan tampak tulus bahkan dia tak melihat kebohongan di mata pria itu "Pria itu cukup baik. Mungkin aku aku memperbaiki sedikit pandanganku padanya. Tapi setelah aku melihat kondisi kakak ku sebenarnya, siapa tahu ucapannya memperlakukan kakakku dengan baik hanya bohong" Aryan sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri.
Setelah berbincang dengan Aryan. Theron merasa begitu merindukan Rhea, rasanya dia takut jika Aryan datang untuk mengambil kembali Rhea, membawanya pulang bersamanya. Theron memutuskan kembali ke rumah dan sedikit menunda bertemu dengan Charles untuk membicarakan masalah Vantoni.
"Aku pulang" Theron langsung mendekap Rhea erat-erat.
Rhea yang tengah bersantai di kamar di kejutkan dengan kedatangan Theron.
"Kamu pulang sangat cepat" Rhea melirik Theron yang bersikap manja.
Theron mendongak "Kamu tak suka?!" tangannya sibuk mengusap perut Rhea.
"Mm, tidak juga. Hanya ini sedikit aneh" tukas Rhea bingung.
"Ini tak aneh sama sekali. Aku ingin kamu mengusap kepalaku, ketika jemari ini menyentuh kepalaku rasanya menenangkan" Theron menarik tangan Rhea meletakkannya di kepalanya.
Rhea menatap lekat wajah Theron, setelahnya mengusap-usap kepala Theron lembut. Dia tak menanyakan apapun lagi, dia hanya merasa Theron tengah gusar entah apa yang membuatnya khawatir sampai seperti ini. Tapi masalahnya kenapa dia malah senang Theron mencari dirinya disaat dia gusar.
Tak terasa hari mulai petang dan Theron enggan beranjak dari posisi memeluk Rhea erat.