Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Stigma


"sungguh aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Apa kau sungguh Theron?" Daniel memukul punggung Theron kencang "setelah menikah kau menjadi pria yang memiliki perasaan, agaknya!!" Daniel sedikit ragu "tapi itu bagus" Daniel memukul punggung Theron semakin kencang, dia tertawa dengan keras.


Sekarang mereka berada di pusat kota, tempat di mana mereka melakukan transaksi senjata api ilegal.Tentu saja organisasinya membutuhkan jenis senjata api lengkap yang mematikan.


>>>


Kaca yang retak dengan cepat di perbaiki.


Hujan turun dengan derasnya, Rhea menatap keluar jendela dengan pilu. Selimut menyelimuti tubuhnya.


Rhea kembali histeris, mencengkeram wajahnya kuat. Tangis nya pecah, tubuhnya bergetar hebat "aku tak salah!! aku bahkan tak mengharapkan ini!!" gumam nya kosong.


Selalu saja terjadi, dalam keheningan Rhea merasa sendiri, tenggelam dalam titik hitam yang menelannya. Tampak ponsel tergeletak di lantai.


Rhea yang tak berani membuka media sosial setelah kejadian buruk menimpanya, tapi tadi dia mulai memberanikan diri membuka ponsel. Namun apa yang dia dapat, stigma bermunculan menyudutkan dirinya. Grup kelas yang sibuk meledeknya dengan stiker, menertawakan dirinya dengan kalimat yang di baluti candaan. Postingan foto yang di unggah temannya, menandai dirinya. Seakan wanita baik-baik pengguna topeng tebal, menutupi sifat aslinya "tak ada yang bersimpati! mereka dengan senang mengolok-olok" rasanya dada Rhea begitu sesak.


"alah!! dia pasti menikmatinya, buktinya dia hamil dan menikah" satu kalimat yang semakin membuat Rhea terpojok, kalimat yang berhasil membuat Rhea merasa tak pantas untuk bangun dari mimpi buruknya. Kalimat yang mengatakan bahwa hal itu terjadi karena keinginannya.


Air mata Rhea kembali menetes "andai malam itu aku mengurungkan niat!! andai aku tak membeli buku sendiri!! mungkin hal ini tak akan pernah ku alami!! Argh!! " Rhea menjerit hebat memukul kuat kepala nya. Dia bagai orang tak berdaya menangisi diri begitu pilu.


Orang-orang dengan stigmanya berucap sembarang tanpa peduli dengan korbannya. Stigma buruk yang beredar di masyarakat sulit dihilangkan membuat Rhea semakin merasa terpuruk dengan rasa malu. Rhea merasa takut, dia cemas, marah, dan kecewa. Stigma buruk itu menjadi sebuah pelatuk yang terus mengingatkan Rhea terhadap peristiwa tersebut, memunculkan kilas balik serta mimpi buruk.


Rhea kehilangan nafsunya, tak memiliki semangat dan niat melakukan apapun. Tatapannya kosong tertunduk memeluk lututnya. Rambutnya terurai panjang, menutupi wajahnya.


Rhea mengusap perutnya, tangannya menutup mulutnya, dia merasa mual begitu hebat. Rhea berlari menuju kamar mandi, dia terus menerus muntah, air mata Rhea memenuhi pelupuk matanya. Rhea duduk di lantai, dia tak kuat lagi. Tak hentinya perutnya terasa tak enak "aku tak kuat lagi!!" Rhea mengusap kasar matanya "kumohon!!" lirihnya pilu, Rhea mencengkeram erat bibir toilet. Pandangannya kabur, dia dengan kasar tergeletak di lantai, sekilas dia melihat bayang seseorang sebelum akhirnya dia terpejam.


>>>


Rhea mengernyit perlahan membuka mata. Rhea tersentak terbangun, sekarang dia berada di kamar pasien rumah sakit ,dengan punggung tangan melekat jarum yang menghubungkan cairan infus.Rhea menghela napas, kepalanya masih terasa sakit.


Rhea menatap sekeliling kamar yang bernuansa putih dengan lekat "asing" Rhea bergidik.


"Pergi!!" pekik lantang Rhea, bantal melayang tepat mengenai wajah Ners tersebut. Rhea merasa terancam, dia merasa awas dan takut pada Ners tersebut.


"tenang nona, saya disini hanya ingin memeriksa" ucap Ners tersebut berusaha menenangkan. Dia berjalan pelan kembali mendekati Rhea.


Rhea mengeratkan gigi kuat, melepas paksa jarum yang melekat di punggung tangannya. Dia berlari keluar dengan kencang, dia bergidik hebat "tidak lagi" gumam nya berusaha menahan tangis "tidak lagi!!" air mata Rhea menetes.


Saat membuka pintu, Theron berdiri tepat di depan Rhea. Rhea mendorong Theron kasar. Rhea kembali berlari dengan kencang. Rasanya Rhea ingin bersembunyi, menghilang dari pandangan setiap orang.


Awalnya Theron tak menyangka hal buruk akan terjadi pada Rhea. Bibi meneleponnya dengan suara yang terdengar Panik. Bibi bercerita menemukan Rhea tergelatak di kamar mandinya. Bibi sati bergegas menelepon ambulance dan membawa Rhea ke rumah sakit terdekat. Setelahnya bergegas Bibi menelepon Theron memberi tahu semua detail kejadian yang dia tahu. Theron dengan cepat meninggalkan pekerjannya bergegas menuju rumah sakit. Berhubung Theron telah datang, Bibi pulang lebih dulu karena dia tak mengunci pintu rumah saking Paniknya. Saat hendak ke ruangan Rhea, Theron mendengar pekikan Rhea, seketika pintu terbuka Rhea berlari kencang dengan pikiran kosongnya.


Theron dan Ners tersebut saling menatap, seakan muncul banyak pertanyaan di benak mereka berdua.


"aku yang akan mengejar nya" ucap Theron meminta cukup dia yang mengejar Rhea. Bergegas Theron mengejar Rhea, dengan mudahnya Theron menyusul Rhea mengingat stamina Theron yang baik. Theron menarik lengan Rhea kuat "ada apa? apa ada yang mengganggumu? " Theron berusaha agar tak menyulut amarah Rhea.


Rasanya tubuh Rhea di selimuti dengan hawa dingin. Perutnya kembali terasa mual, Rhea berusaha menahan sekuat tenaga "lepaskan!!" Rhea tak bertenaga lagi. Sungguh penampilannya sedikit kacau.


Pandangan orang-orang tertuju pada mereka berdua.


Pandangan setiap orang seakan menusuk Rhea. Dia merasa orang-orang tersebut tengah menertawakan nya, mencemooh, dan mencacinya. Pikiran buruknya sulit dia tepis, dia tak mampu mengendalikan nya seakan dalam pandangannya semua orang menatapnya jijik "aku takut!! bawa aku pergi dari sini. Terlalu banyak orang!!" lirih Rhea terisak. Rhea menunduk "ku mohon" lagi-lagi Rhea jatuh pingsan.


Theron mendekap tubuh Rhea erat, dengan perasaan kacau menggendongnya. Theron menatap wajah Rhea yang semakin pucat, Theron membawanya kembali ke kamar tempat Rhea di rawat.


Dokter memberi saran agar Rhea di rawat di rumah. Rhea yang tampak memiliki trauma dengan tempat asing dan orang-orang, akan menjadi penghambat bagi kesehatan Rhea. Kondisi Rhea yang tampak memprihatinkan membuat Dokter memberi saran agar Theron tak terus menekan Rhea dan membuatnya frustasi, di tambah Rhea tengah hamil muda yang rentan depresi dengan perubahan mood yang terus berubah. Ibu hamil cenderung sensitive. Dokter juga meminta agar Theron sebagai suami senantiasa berada di samping sang istri. Dokter meresepkan obat untuk kesehatan Rhea dan bayi yang di kandung nya.


Setelah keluar dari ruangan Dokter, pandangan Theron tertuju pada sekumpulan orang yang tengah bersedih. Terdengar mereka tengah berdebat persoalan pelecahan yang terjadi pada anak mereka.


"Pemerkosaan tidak bisa dianggap sepele kerena tidak hanya meninggalkan luka fisik, tapi juga membawa luka batin yang sulit untuk di sembuh kan"


Theron mengepal kuat jemarinya, dia menyibak kasar rambutnya "itu benar" rasa bersalah kembali menyelimuti dirinya.