Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Perut six pack


"Hey, kau sedikit berlebihan padanya" Rhea menatap ke luar pintu, ke arah Daniel yang sudah tak nampak.


"sudah kau jangan pedulikan dia!!" tegas Theron. Theron menyender pelan di pundak Rhea "Sebentar saja" pintanya pelan "kau tahu aku masih tak percaya, apa ini hanya khayalanku?" tukasnya.


"apa aku tampak tak nyata?" Rhea dengan ragu menyentuh rambut Theron.


Theron mengangguk pelan "kau tahu aku begitu takut jika kau memilih tak pulang!!"


Rhea terdiam sejenak "yeah, awalnya aku berniat begitu!!" Rhea mengigit erat bibir nya.


Theron tersentak "jangan berani berkata seperti itu lagi" tegas nya sembari menatap Rhea.


"kenapa? kau takut tak akan pernah melihat anak mu?!" Rhea membuang muka.


"Benar. Aku takut kau dan anak ini meninggalkan ku!!" Theron melirik ke arah perut Rhea.


Rhea tersenyum getir "tenang saja aku tak sejahat itu. anak ini perlu mendapat kan haknya" Rhea mengelus perutnya. Benar yang di tunggu hanya anak ini, Rhea mengepal kan jemarinya.


"apa hubungan mu dengan pria itu?" tanya Theron.


"pria?" Rhea tak mengerti.


Theron menyentuh pelan pundak Rhea "pria yang bersinggungan denganku dan seenaknya ikut campur?" jelasnya.


Rhea teringat "ah, eza. Dia kawan lama. Dia tak bermaksud ikut campur. Dia hanya sedikit khawatir padaku" jawab Rhea berusaha agar Theron tak membenci Eza, bagaimana pun eza kawan baik nya. Saat dia di gang oleh segerombolan pria besar Eza membantunya.


Theron mencengkeram erat pundak Rhea tanpa dia sadari "sekarang kau membelanya di depanku. kenapa kau tak ikut dengan nya saja!!" ucap Theron kesal.


Rhea mengacak rambutnya kasar "sebenarnya apa yang kau mau. jika kau tak ingin aku pulang aku akan pergi. jadi itu yang kau mau?" Rhea ikut kesal di buatnya "benar. Rupanya dia hanya menghawatirkan anak ini bukan aku!!" gumam nya. Rhea berkaca-kaca sekuat tenaga dia berusaha menahan tangis nya.


Theron tersentak, dia melepas cengkeramannya pada Rhea "aku-. aku tak bermaksud" Theron menyibak kasar wajahnya. Selalu saja dia tak bisa mengontrol diri.


Theron mengernyit, lengannya yang tertusuk belati terasa nyeri "ah, kau istirahatlah" ucap Theron dia berjalan menuju kamarnya.


"hey?-" Rhea hendak menghentikan Theron namun dia menghentikan niat nya "jangan berlebih Rhea" gumam nya.


Theron menghentikan langkah nya "kau yang selalu merasa bak penjara di rumah ini. sekarang kau bebas keluar hanya di sekitar rumah. namun, semua atas izin ku jika kau ingin pergi lebih jauh" tekan Theron, dia menahan sakit.


Rhea tertunduk, dia kecewa. Dia tak berhasil memahami Theron, sikap nya selalu berubah terkadang hangat terkadang menekan "sebenarnya kenapa?" benak Rhea.


Rhea melirik pintu yang terbuka, dengan pelan dia melangkah keluar. Di luar terdapat sesuatu yang cukup besar tertutup kain, Rhea memiringkan wajahnya penasaran apa yang ada di balik Kain itu. Rhea mengintip kedalam, memastikan bahwa Theron berada di kamarnya dengan pelan Rhea menyibak Kain itu. Dia tertegun menatap lukisan cantik itu "siapa sebenarnya dia?" ucapnya spontan. Lukisan itu sama dengan foto wanita mengendong anak di ponsel Theron. Rhea membuka ponsel yang di berikan Theron, beberapa kali dia menatap foto di ponselnya dan lukisan di hadapannya "sama tak ada bedanya" gumam Rhea "sebenarnya siapa kau? apa kau masa lalu nya atau apa?" Rhea mengeratkan giginya.


"ah, nyonya!!" sapa pengurus taman yang terkejut mendapati Rhea di luar.


"ah, pengurus taman?!" ucap Rhea spontan.


"panggil saja Yuda nyonya" ucapnya sopan.


"ah, baik. Paman Yuda" ucap Rhea.


"apa yang membuat paman kemari?" tanya nya.


"saya diminta membawa lukisan itu masuk kedalam rumah nyonya" jawabnya. Paman menatap Rhea lekat-lekat "kapan anda pulang nyonya?" tanyanya penasaran.


"syukurlah" Paman tampak lega.


Rhea tersenyum canggung, dia kembali menatap lukisan itu. Paman yang melihat Rhea begitu serius menatap lukisan ikut memandang lukisan itu.


"Paman, apa anda tahu siapa orang yang ada di lukisan itu dan apa hubungannya dengan Theron?!" lirih Rhea.


Paman terdiam, dia tampak gelisah "mm.itu lukisan Maria Sandra, dia orang yang paling Theron sayangi, namun dia telah berpulang" jawab Paman, dia tak tahu ucapan nya sudah benar atau tidak.


Rhea menghela napas pelan, dia tak mau bersedih untuk hal tak penting "aku kembali hanya karena anak ku" Rhea menekan dirinya dengan kalimat itu yang berhasil membuatnya sedikit tenang.


"begitu, jadi dia siapa Theron?!" tanya Rhea lagi.


"Nyonya lebih baik tanya kan saja pada tuan" ucap paman, dia tak mau berucap yang malah membuat buruk keadaan nanti nya.


Paman dengan sopan membawa lukisan itu ke dalam rumah, dia membawanya ke kamar Theron.


"letakan di sana!!" Theron menunjuk dekat dengan tembok kasur.


Paman bergegas melakukan nya.


"tuan nyonya menanyakan persoalan lukisan itu!!" tukas paman.


Theron melepas jasnya "lalu, apa yang kau katakan padanya?"


"Saya hanya mengatakan itu lukisan Maria Sandra orang yang anda sayangi" ucapnya pelan.


"lalu, apa masalahnya?" Theron melirik Paman tajam.


"Saya merasa nyonya terusik mengenai siapa lukisan ini" jawabnya.


Theron melepas kancing kemeja putih nya "pergi lah" suruh Theron.


Paman bergegas keluar.


Theron mendesis, kemeja putih nya di penuhi dengan darah. Dia melepas kemeja nya pelan, perban yang terikat di lengannya juga di penuhi darah. Theron beranjak dari duduknya, dia hendak keluar mengambil perlengkapan p3k yang ada di dalam mobilnya.


Rhea tampak ragu, dia mondar-mandir di kamarnya, dia hendak menemui Theron dan langsung menanyakan nya. namun, dia takut mendengar jawaban langsung dari mulut Theron. Rhea mengintip pelan ke luar pintu, dia melirik kamar Theron yang berada tepat di sampingnya.


Pas sekali Theron muncul, bergegas Rhea menarik diri masuk ke kamarnya. Theron mengernyit "ada apa dengannya?" benak Theron.


Rhea kembali mengintip pelan, perut six pack di depannya. Rhea terdiam sejenak, dia memiringkan wajahnya dia menyentuh perut kotak kotak itu pelan "wah" Rhea terkesima "apa ini?" ucapnya heran.


"jadi kau suka?" suara berat Theron terdengar.


"ya, ini mirip seperti gambar di komik yang sering ku baca" Rhea masih sibuk mengagumi perut six pack.


"oh. Jadi apa punya ku lebih bagus?" tanyanya suara nya semakin berat.


Rhea mengangguk pelan. Rhea mengedipkan mata beberapa kali. Dia tersentak menutup wajahnya dengan pelan dia mendongak.


Theron menatap nya dengan tajam, sembari memiringkan wajahnya "kau berselingkuh dengan gambar-gambar itu. kau tahu Rhea aku tak suka di duakan dengan gambar sekalipun" Theron menyentuh dagu Rhea. Theron mendekat kan wajahnya hingga nyaris bibir mereka saling menyentuh.