
Rhea pergi hanya membawa diri nya, tak membawa uang atau telepon "aku pergi tanpa rencana" gumam Rhea.
Rhea terus berjalan tanpa arah, tak tahu tujuan, dan hendak pergi kemana. Dia tak memiliki siapa pun untuk di tuju. Rhea mengingat sahabatnya Yolan yang sama-sama menempuh Pendidikan di kota ini, namun Rhea mengurungkan niat untuk menjumpai sahabatnya. Dia takut jika nanti Yolan menatapnya sama seperti orang-orang yang menghakiminya. Mentari semakin terik, Rhea tampak lelah.
Jalanan tampak sepi, tak ada satupun kendaraan yang melintas "ini tempat apa?" benak Rhea mengamati sekitar, terdapat banyak pepohonan menjulang tinggi tak nampak satupun rumah yang berdiri. Tepat di bibir jalan terdapat segerombolan pria besar yang menakutkan, Rhea menghentikan langkahnya, hendak berbalik menghindari segerombolan pria asing itu.
"eh, ada cewek!!" tunjuk pria itu kearahnya.
Rhea terdiam mematung, dia bergidik hebat.
Segerombolan pria itu menghampiri Rhea "Mau kemana?" ucap salah satu pria itu sembari tersenyum genit ke arah Rhea.
"Siang-siang gini jalan-jalan, ikut kita aja yuk!!" timpal temannya menarik lengan Rhea kencang.
Rhea menepis tangan pria itu "menjauh!!" tukas Rhea, berusaha menahan ketakutan yang menyelimuti diri nya.
"uh, suka nih sama yang galak-galak" Ucap pria itu menyeringai.
"Wajahnya cantik, hari ini kita beruntung!!" tukas yang lainnya tak sabaran.
"Kau lewat di sarang kami nona!!" Bisiknya di telinga Rhea.
Rhea membelalak, jantungnya berdebar hebat.
Segerombolan pria itu melingkari Rhea membuat nya tak bisa melarikan diri, mereka memenuhi jalanan.
"aku takut!!" gumam Rhea bergidik hebat, air mata memenuhi pelupuk matanya.
Chris yang mengamati Rhea dari jauh mengarahkan senapannya ke arah segerombolan yang berniat jahat pada Rhea.
Ckit...
Mobil silver terhenti mendadak. Terdengar suara klakson yang di pencet beberapa kali, namun segerombolan orang-orang yang menghalangi Rhea tak Mau menyingkir. Seorang pria dengan rambut pirangnya turun dari mobil, tampak dia sangat kesal.
"Hey, apa yang kalian lakukan bergerombol di tengah jalan?" tanyanya kesal.
Seorang pria berbadan paling besar dari kelompoknya membelah gerombolan, dia berjalan dengan percaya diri mendekati pria pirang itu "Kau berisik, ini wilayah kami" tekannya.
"Jalan bukan milik perseorangan, jangan bercanda!!" Pria pirang terkekeh.
Rhea merasa ini pertolongan yang di berikan untuknya "Tolong aku!!" Pekik Rhea lantang. Rhea tak akan menyiakan kesempatan.
Pria pirang memiringkan wajahnya, melihat ke dalam gerombolan terdapat seorang wanita yang tampak takut di sana. Pria itu tersentak "Wah, kalian tengah asyik menakuti seorang wanita cantik rupanya" Pria itu tampak serius.
"Itu bukan urusan mu, pergilah jangan menganggu jika tak ingin kami melukai mu. Kami tengah bersenang-senang jarang sekali kami beruntung!!" Pria itu menunjuk-nunjuk ke arah pria itu.
Pria pirang menarik kerah pria besar kuat, tangan satunya mencekik leher pria besar itu "aku ingin kau lepaskan gadis itu" bisiknya dengan tekanan.
Pria besar memberontak, namun dia tak bisa melakukan apapun, dia tak berdaya.
Teman-teman pria besar tampak panik "Hey, lepaskan dia. Kau tahu wanita ini ada pada kami!!" Pria itu menyandera Rhea dengan menodongkan pisau tajam tepat di leher Rhea.
Dezing!!
Suara peluru terdengar jelas, mengenai pria yang menodongkan pisau di leher Rhea. Rhea menatap pria yang tergeletak dengan darah segar muncrat mengenainya. Pria itu tak bernapas lagi, peluru itu tepat mengenai kepala pria itu. Rhea semakin tak karuan, dia semakin takut.
Segerombolan pria yang mengelilingi Rhea mengeluarkan benda tajam mereka. Mereka memperhatikan sekitar, mencari titik sembunyi orang yang menembakan peluru yang tak bersuara.
Dezing!!
Dezing!!
"Sungguh kau tak beruntung, di tinggalkan begitu saja" Pria pirang memprovokasi, dia melepaskan pria besar itu.
Pria besar itu bergegas menjauh, tak berniat mengacau lagi.
Chris bersiap menembak lagi "dia pria yang sombong tadi" gumam Chris mengarahkan senapannya ke arah pria besar.
Ivan menyentuh punggung Chris yang tengah serius "lepaskan dia Chris, kau sudah membunuh cukup banyak" tukas Ivan. Ivan baru saja sampai di lokasi Chris, tak disangka Chris melepaskan tembakannya dan membunuh beberapa orang.
"Kau tahu Ivan, tangan besar menjijikan itu menyentuh lengan Nyonya dan dia mengancamnya!!" ucap Chris penuh tekanan.
Ivan ke mode serius "tembak saja Chris" ucap Ivan.
Dezing!!
Pria besar tergeletak dengan darah yang memenuhi tubuhnya.
Pria pirang menyipit, dia mendapati lokasi penembak itu "ku rasa mereka tengah membantu" gumam pria pirang itu.
Pria pirang menghampiri Rhea yang tertunduk, dia bergetar ketakutan "anda tak apa?" tanyanya.
Rhea mengangguk pelan "terima kasih" ucapnya mendongak.
"Bukan kah kau Rhea Evadne?" ucap pria itu spontan.
Rhea menatap pria itu penuh tanya "kau siapa?" tanyanya.
Pria itu tersenyum kecil "akhirnya aku menemukan mu" lirih nya.
"Eza George, teman kecil mu dulu. Kita duduk di bangku sekolah dasar yang sama, di bali" ucapnya semangat.
"Eza?" Rhea tampak berpikir "ah, benar aku ingat" jawab Rhea.
Eza George dia seumuran dengan Rhea, teman kecil Rhea dulu. Dia keturunan Amerika-Indonesia, namun wajah Eza mengikuti Ayah nya yang keturunan Amerika. Lulus Sd Eza ikut dengan keluarganya yang pindah ke Amerika.
"Kau tumbuh menjadi gadis cantik, sama seperti yang aku bayang kan" Eza tersenyum manis.
Rhea mengusap lengannya, tak berani menatap Eza "kau berlebihan, sekarang kau lebih tinggi dari perkiraanku" ucap Rhea canggung.
"lalu, kenapa kau berjalan di tempat seperti ini sendirian tanpa menggunakan alas kaki?" Eza tampak mengamati Rhea seksama.
"Bukan apa-apa. Ah, Eza kenapa kamu kembali ke Indonesia?" Rhea mengalihkan percakapan.
"Aku ingin menemui wanita yang Aku cintai?" tukasnya malu-malu.
Rhea berusaha tampak biasa "wanita itu sangat beruntung" Rhea tersenyum kecil.
"Tapi Aku khawatir mungkinkah dia akan menerimaku, atau mungkin dia memiliki pria yang dia sukai?" Eza mengepal kedua tangannya, dia tertunduk.
"Hey, semangat lah wajah mu sekarang sangat tampan dan Aku yakin tak akan ada wanita yang menolakmu" Rhea menyemangati.
Eza mendongak "Apa kau termasuk orang yang akan menerimaku jika wajah ku setampan ini?" tanya Eza memastikan.
Rhea tampak berpikir sejenak "sepertinya tak akan, kau pria nakal yang selalu menggangguku ku dulu" Rhea mengucapkan tanpa rasa bersalah.
Eza tampak murung "Hey, Aku bukan Eza yang dulu!!" pekik Eza.
"Sungguh percakapan yang menarik dengan kawan lama!!" Ucap Theron membuat Rhea dan Eza tersentak.
Rhea menoleh kebelakang mendapati Theron dengan jendela Mobil yang terbuka. Theron perlahan turun dari mobilnya, sembari menatap Rhea tajam, kedua tangannya terlipat.