
Chris dan Ivan perlahan menuruni anak tangga dengan mengendong seorang pria terikat di pundaknya. Ruangan gelap dengan pencahayaan minim, ruangan itu tempat rahasia milik organisasi Oleander Pria yang terikat tak memberontak lagi karena Ivan membuatnya pingsan. Setidaknya mereka memiliki sebuah alibi untuk membela diri sebelum Theron mengacungkan senapan ke kepala mereka.
"Kau teledor" ketus Ivan, dia tak bisa membayangkan berhadapan dengan Theron nanti.
Chris melirik Ivan tajam "Jangan menyalahkan ku, kau saja tak mampu menangkap pria ini sendiri" tekannya kesal.
Tampak setitik cahaya dari kejauhan, mereka bergegas mendatangi sumber cahaya itu. Mereka mendapati Theron duduk dengan kaki menyilang, tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja. Theron memutar kursinya mengarah pada mereka. Perlahan mendongak menatap mereka yang membuang muka.
Suasana mencekam, tak ada yang mulai percakapan. Sampai beberapa menit, Ivan berucap "Ah, dengarkan dulu tuan!" Ivan gelagapan, dia bagai tau tatapan itu bagai ultimatum untuk mereka.
"Anda lihat pria ini, kami menangkapnya. Pria ini menyelinap di kediaman anda" Tunjuk Ivan pada pria yang pingsan di gendongan Chris.
Theron bangkit dari duduknya, dia berdiri tepat di depan Ivan "Hanya menangkap seorang bocah, sampai-sampai kalian berdua yang bergerak. Apakah kalian selemah itu?" tekannya.
Chris menatap Ivan kesal, jawaban nya bagai asal-asalan dengan begitu bukan kemudahan yang mereka dapat, namun kian mempersulit keadaan.
"Anda benar, kami ceroboh. Awalnya pria yang menyelinap ini di tangani oleh Ivan, tapi pria ini cukup pandai berkelit dan menyembunyikan diri. Staminanya sangat bagus, Ivan tak dapat mengejarnya. Saya memutuskan ikut membantu, Saya pikir itu akan mempersingkat waktu penangkapannya. Namun, pria ini cukup cerdik. Saya minta maaf dan kami akan menerima konsekuensi atas segala kelalaian kami" Jelas Chris sopan, dia tahu betul kesalahan mereka sangat fatal.
Chris meletakan tubuh pria yang di gendong nya ke lantai sedikit kasar.
Theron menatap pria yang berbaring di lantai, dahinya mengkerut. Bergegas dia mendekati pria itu "Aryan Nostra!?" ucapnya spontan. Theron menyentuh wajah anak itu pelan memastikan.
Theron menoleh menatap Chris dan Ivan bagai hendak menerkam, giginya mengerat rapat "Dia adik iparku!! bagaimana bisa kalian sebodoh Itu!!" Pekik lantang Theron.
Chris dan Ivan saling pandang, terdiam kaku. Kesalahan telak bagi mereka berdua yang bahkan tak tahu anggota baru keluarga tuannya sendiri.
"Maaf sungguh kami tak tahu?!" Jawab Ivan cepat. Mereka berdua tertunduk, perasaan takut menyelimuti dirinya.
Theron menyibak kasar rambutnya, kepalanya berdenyut sakit "Bagaimana jika dia tahu identitas Theron yang sebenarnya?" benak Theron.
Aryan Nostra adik satu-satunya Rhea, usianya 17 tahun dan baru saja lulus sekolah Menengah Atas. Aryan menempuh pendidikan nya di SMA Taruna, wajar saja jika dia cekatan.
Theron sendiri tahu mengenai keluarga Rhea, apa yang digemari, pendidikan, kecakapan, dan hal lainya. Masalahnya Aryan pria cerdas, tampak akan sulit di bodohi.
"Kalian Membuatnya babak belur seperti itu!!" Theron menyentuh pistol di mejanya.
Chris dan Ivan hanya terdiam, tak lagi keluar kalimat pembelaan dalam bibir manis. Mereka tahu sebagai sniper, mereka telah melakukan kesalahan fatal, hal yang harus di jaga malah berhasil di bobol musuh.
Theron terdiam sejenak, jemarinya sibuk memainkan pistol, tampak dia sedang berpikir.
"Pergilah temui Charles, katakan bahwa aku yang menyuruh kalian kesana. Minta agar kalian dilatih oleh nya dan selesaikan tugas-tugas yang di berikan Charles pada kalian. Tugas kalian disini telah usai!!" Suruh Theron, ucapannya terdengar tegas.
"Tunggu apa lagi, jangan membuatku mengulang!!" ucap lantang Theron.
Bergegas mereka berdua meninggalkan ruangan rahasia Oleander. Setidaknya mereka keluar dengan hidup-hidup, mereka bergidik hebat tak menyangka di berikan waktu untuk merenung dan mengembangkan kemampuan.
Theron membawa Aryan ke kediaman Daniel, sementara dia akan meminta Daniel mengurus Aryan hingga membaik dan pulih. Satu lagi yang membuat Theron berpikir keras, keluarga Rhea berada di kota berbeda dengannya. Tapi sekarang adik Rhea ada padanya, bahkan dua sniper berkata Aryan menyelinap di kediamannya "Dia ingin berjumpa dengan Rhea?" pikir Theron.
Belum sempat Theron menutup mata barang sekejap, mentari mulai menampakan dirinya. Theron memarkirkan mobil ke bagasi, dia sedikit lelah hari ini. Memutuskan untuk beristirahat penuh di rumah, sembari menunggu kabar dari Daniel akan keadaan Aryan.
Theron masuk ke dalam kamarnya, rupanya Rhea sudah terbangun tengah terduduk di atas kasur tatapannya tertuju ke luar jendela. Rhea menoleh menatap Theron, matanya berkedip beberapa kali, setelah nya dia tersenyum kecil.
"Rasanya semalam aku bermimpi buruk!" ucap Rhea memecah keheningan.
"Banyak hal di luar dugaanku, aneh, dan aku sedikit tak percaya. Sungguh!" lirih nya.
Theron melangkah mendekati Rhea, dia memeluk nya tanpa berkata. Tak melepas dekapannya pada Rhea, kepalanya tertunduk di pundak Rhea.
Rhea menatap suaminya yang bertingkah manja, tangan kananya mengusap lembut rambut suaminya. Jemari-jemari lentik Rhea yang bermain di kepala Theron membuatnya jauh lebih tenang. Theron memejamkan matanya perlahan.
Rhea menatap suaminya lekat, entah apa yang ada di pikirannya. Pandangan nya kembali tertuju pada abu dimana lukisan Maria Sandra terbakar "Ah, rupanya semalam sungguhan" benaknya.
Saat terbangun tadi Rhea sudah tak mendapati Theron di samping nya. Dia tak marah, kesal, atau bertingkah kekanakan seperti sebelumnya. Dia sadar bahwa masalah Theron bukan main-main. Masalah Theron sungguh serius, dia tak boleh merengek dan kian membuat Theron kesulitan.
Wajah lelah yang terukir jelas di wajah suaminya menjelaskan segala kesulitannya. Wajah garang yang Theron tunjukan selama ini padanya atau bawahan hanya topeng untuk menutup rapat lukanya. Rasanya Theron berusaha tampak kuat membuat nyali bawahan atau musuh ciut akan sikap dingin Theron. Nyatanya, Theron tetap pria biasa yang bisa lelah dan butuh perhatian.
"Kau tambah lelah karena mengurusi aku, seorang yang kekanak-kanakan maaf kan aku" Rhea menyibak rambut Theron yang menutupi matanya. Dengan pelan Rhea mengecup kening Theron.
Tok!!
Tok!!
Pintu di ketuk, Rhea agak mendongak melirik ke arah pintu. Dia tahu itu pasti Bibi Sati yang meminta nya untuk segera sarapan pagi.
"Tunggu di luar Bibi, sebentar lagi aku akan keluar" Tegas Rhea.
Rhea menatap kearah suaminya yang tampak tertidur dengan pulas "Istirahatlah sejenak" Rhea membenahi posisi Theron, merebahkannya ke kasur.
Rhea beranjak dari kasur hati-hati dengan perlahan membuka pintu keluar dari kamar, sebisa mungkin tak bersuara dan membangunkan Theron.