
Tangan mungil menyentuh wajah Rhea lembut, mengusap air mata yang menetes.Rhea yang tertunduk mendongak. Sosok anak kecil menatap nya dengan lekat, namun wajah nya tak tampak dengan jelas, terpancar kehangatan dari anak itu, begitu terasa menenangkan "Ibu bangun!!" ucap nya.
Perlahan Rhea membuka mata, dia menatap langit-langit kamar yang tak asing. Rhea kembali mengingat seorang anak kecil yang muncul dalam mimpinya "apa itu kau nak?" Rhea mengusap perutnya, dia tersenyum kecil. Rasanya perasaan hangat memenuhinya. Rhea menatap punggung tangannya yang masih terpasang infus. Rhea mengamati sekitar tak ada seorang pun disini.
Rhea bangun, dia duduk menyender dekat tembok yang menyatu dengan kasur. Di meja terdapat sebatang coklat yang di hiasi sebuah pita, terdapat sebuah kertas terselip dengan tulisan "Maaf!mungkin ketika kamu bangun Aku tak disamping mu" Rhea langsung tahu bahwa itu dari Theron, siapa lagi jika bukan dia.
Rhea menatap bibi sati yang mematung di pintu. Dia begitu terkejut melihat Rhea yang sudah siuman "nyonya?" ucap nya ragu, seakan bibi sati tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Rhea tersenyum manis. Entah kenapa dia merasa sedikit lega.
Buru-buru bibi mendekatinya, wajah bibi tampak lelah "nyonya sudah tiga hari tak bangun, itu menghawatirkan" bibi sati menyentuh tangan Rhea lembut.
Rhea tersentak "selama itu?" benaknya.
"tuan selalu menjaga nyonya sepanjang malam, tuan selalu berdoa agar nyonya bangun. Namun, dengan berat hati tuan harus pergi tadi, hal mendesak menanti untuk di selesaikan" Bibi sati terasa tengah membantu menjelaskan keberadaan Theron yang tak ada di sini.
Rhea memiringkan wajahnya "begitu" Rhea mengusap punggung tangan bibi "Aku rasa bibi juga selalu menjagaku! lihat wajah lelah bibi" Rhea menatap bibi lekat dia tersenyum kecil.
>>>
Rhea menatap bekas tusukan infus yang sudah di lepas di punggung tangannya, masih terasa sedikit nyeri "rupanya Aku tak bermimpi!! Aku kembali dalam kenyataan pahit" Rhea tersenyum getir.
Rhea menggenggam sebatang coklat yang Theron tinggalkan untuk nya. Dia menatap coklat itu lekat "coklat?" gumam Rhea. Rhea menyibak selimut yang menutupinya, dia beranjak dari kamar Theron. Dia kembali ke kamarnya dengan membawa coklat yang di berikan Theron. Rhea membuka lacinya meletakan coklat itu kedalam laci.
Rhea menyentuh pelan ponsel di meja, kepala Rhea kembali terasa sakit. Seketika wajah-wajah orang yang mencemoohnya muncul di pikirannya. Rhea dengan kasar melempar ponsel nya kelantai hingga hancur tak tersisa. Rhea dengan tangan bergetar, memunguti pecahan ponselnya "ada apa denganku? Aku tak mampu mengontrol diri" Rhea mengacak rambutnya kasar.
"Nyonya apa yang terjadi?" bibi sati tampak buru-buru menghampiri Rhea, dia mendengar suara hantaman yang cukup keras.
"Aku menghancurkan ponsel ku" Rhea menunjukan ponsel nya yang hancur.
Bibi sati tampak terkejut "apa nyonya tak apa?" Bibi menghawatirkan Rhea.
Rhea kembali dengan tatapan kosongnya "entahlah Bibi!!" Rhea meletakan pecahan ponsel ke dalam laci.
Bibi tampak mengamati Rhea dengan seksama "nyonya begitu lelah, istirahatlah" Bibi dengan pelan menuntun Rhea ke kasur.
Rasanya Rhea tak berdaya, Bibi yang usianya lebih tua darinya tampak lebih sehat dan bersemangat darinya "terimakasih" ucap Rhea. Dia memeluk Bibi Sati ragu.
Terbesit senyum kecil di bibir Bibi, dia membalas pelukan Rhea sembari mengusap-usap punggung Rhea lembut.
Bibi merawat Rhea dengan baik, tak sekalipun melupakan memberi Rhea obat yang dokter resep kan. Hal itu membuat Rhea lebih baik dari sebelumnya.
Bibi tak memberi Rhea izin untuk beranjak dari kamarnya, ucapan dari Bibi berarti mutlak pesan dari Theron. Rhea tampak jenuh, sedari tadi dia sibuk membolak-balik halaman buku dengan tatapan kosong. Rhea menyentuh pelan dadanya "kosong" Rhea merasa kosong, sendiri maupun ketika seseorang menemaninya rasanya dia kesepian.
Rupanya rasa tenang dan lega hanya sementara, nyatanya Rhea masih sulit melupakan stigma yang menekannya. Perlu dipahami jika perasaan kesepian adalah hal yang manusiawi. Namun, terlalu sering pun bisa memberi dampak pada kesehatan. Bahkan ada yang menyebut bahwa merasa kesepian bisa memperpendek usia seseorang.
Suara langkah kaki terdengar terburu-buru. Rhea menatap ke arah pintu Theron berdiri menatap nya dengan wajah lega.
Bibi dengan sopan keluar dari kamar Rhea. Kembali mengurusi pekerjaannya meninggalkan tuan dan nyonya nya.
Theron dan Rhea saling menatap. Theron begitu terengah-engah, jelas sekali dia terburu-buru, napas berat nya terdengar dengan jelas.
"apa yang membawamu kemari, kau tampak tergesa?" Rhea memulai percakapan.
Theron dengan pelan berjalan mendekati Rhea. Tangan Theron ragu ingin memeluk Rhea.
Rhea membuang muka "jika tak ada hal yang ingin kau katakan tolong keluar. Aku ingin membersihkan diri" lirihnya. tangannya mengusap lengannya pelan.
Rhea termangu mematung dengan statement nya. Dia menghargai niat baik Theron pada nya. Namun, di saat Rhea hendak mengulurkan tangan dan menerima Theron rasanya dia tertahan dan tak mampu bergerak. Rhea mendongak menatap wajah Theron, Rhea tersenyum manis "kau menghawatirkan ku? terimakasih" Theron tampak benar-benar menghawatirkan nya, bukankah dia pantas untuk sedikit di hargai atas tindakan nya.
Theron membelalak, dia merasa tergelitik. Theron mengepal kuat tangannya menyingkirkan perasaan yang membuatnya merasa senang. Senyum manis Rhea yang tak pernah di tunjukan, sekarang dia melihat senyum ceria itu. Bukankah itu sebuah kemajuan dan keajaiban.
Theron tanpa sadar bergerak menarik Rhea ke dalam pelukan nya.
Hening!!
Rhea tak bergeming membuat Theron tersadar akan tindakan nya itu. Dengan hati-hati Theron melepas pelukan nya. Theron melirik Rhea yang masih tak bergeming.
"apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" Rhea berusaha menahan diri, menahan agar tak mendorong Theron.
Rhea dengan suara yang bergetar, kepalan tangan kuat. Berusaha untuk tak membawa perasaan dan menepis rasa takutnya pada Theron.
Theron merasa lagi-lagi dia bertindak ceroboh "apa perutmu terasa lebih enakan? jika kau merasa sakit katakan padaku jangan ragu" ucapnya pelan sembari mengalihkan ketakutan Rhea padanya.
"Baik" jawab ragu Rhea.
Theron membelalak melihat jari telunjuk Rhea yang berdarah. Theron menyentuh jemari Rhea yang terluka "ini kenapa bisa terjadi?" suara Theron terdengar menekan. Perhatiannya tertuju pada lantai yang di penuhi oleh tetesan darah Rhea.
Rhea tersentak dia baru menyadari goresan di jemarinya, mungkin itu terkena bagian tajam dari pecahan ponselnya "ini hanya tergores kecil" Rhea menepis tangan Theron "jadi tolong abaikan" Rhea menyembunyikan tangannya ke belakang.
"bagaimana bisa kau meminta mengabaikannya?" Sorot mata tajam yang Theron perlihatkan, membuat Rhea sedikit melangkah mundur.
"aku tak apa" lirih Rhea "jadi pergi lah" Rhea kembali awas.
Theron yang hendak mendekati Rhea, membatalkan niat nya "aku akan meminta bibi sati membawakan kotak obat" Theron berbalik.
"sebentar!" Panggil Rhea canggung "aku bisa melakukannya, bibi sudah banyak membantu ku. jangan lagi menyulitkannya" tukas Rhea memberanikan diri.
Theron acuh "itu tugasnya, jangan pernah merasa terbebani!!" Theron melangkah meninggalkan Rhea.
Rhea menatap punggung Theron yang mulai tak nampak. Rasanya hatinya kembali terasa sakit "aku baru saja ingin berdamai, tapi kau sulit ku tebak" Rhea tertunduk.