Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
semua milikmu


"Kau tak mengambilnya?" Theron melirik mentimun di tangannya.


Buru-buru Rhea mengambil nya cepat.


Theron berjalan mendekati Rhea. Rhea membelalak berjalan mundur pelan. Rhea menoleh kebelakang dia tak bisa menghindar lagi, di belakang nya meja dapur "bisakah kau menjauh?" lirih Rhea.


Theron tak mendengarkannya, dia semakin dekat. Kedua tangannya menyentuh meja dapur membuat Rhea terkunci di tengahnya "apa yang membuatmu tak fokus?" Theron menatap Rhea lekat.


Rhea menunduk, tak berani menatap Theron "bukan apa-apa-" jawabnya ragu.


"bukankah aku mengatakan padamu, kau bisa menceritakan hal yang membuatmu gusar" Theron menaikan satu alisnya.


Rhea terdiam sejenak "mungkinkah jika aku mengatakannya kau akan memberitahuku? " benak Rhea. Rhea menggeleng "tidak mungkin, dia tak mungkin menceritakannya" pikir Rhea lagi.


"atau kau mendengar sesuatu saat aku tengah berbicara dengan seseorang di balik telepon" tukas Theron tatapan mencekam membuat Rhea takut.


Cepat-cepat Rhea menggeleng "aku tak mendengar apapun saat kau tengah berbicara di telepon, hanya saja-" Rhea terdiam tertunduk.


Theron menatap Rhea penuh tanya "katakan" pintanya.


Rhea mendongak "Rosetta, siapa Rosetta yang kau sanjung?" pekik Rhea.


Theron tak percaya rupanya Rhea penasaran dengan Rosetta, artinya Rhea tak mendengar apapun saat dia berbicara lewat telepon. Theron menghela napas rasanya dia lega.


Theron menyibak rambutnya "Rosetta dia karyawanku" jawab Theron "kerjanya bagus, dia bisa aku andalkan"


Rhea menatap Theron tak percaya, bahkan wajah Rhea tampak jutek.


"kau tak percaya. aku tak bohong memang apa yang kau pikirkan tentang Rosetta?" Theron mengusap pelan pucuk kepala Rhea.


Rhea menepis tangan Theron, dia membuang muka "jelas tidak" ketusnya.


"kau ingin ku pertemukan dengan Rosetta?" tegas Theron.


Rhea tersentak, menggeleng cepat "tak perlu" Rhea mengepal tangannya "toh itu bukan urusan ku" Rhea menyentuh dadanya, rasanya dia sedikit tak terima.


Rhea mengernyit, ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal yang selalu mengusiknya "kau sebenarnya kerja apa?" Rhea benar-benar penasaran.


Theron menyentuh dagunya, sembari berpikir alasan yang tak menyebutkan identitas sebenarnya "bisa di katakan memberi perlindungan" jawabnya sembari tersenyum.


"Perlindungan? polisi atau abdi negara?" gumam Rhea.


"kau tak perlu memikirkannya, kau hanya perlu menikmati hasilnya saja" Theron menyeringai.


Rhea menggeleng "tidak, aku ingin bekerja" ucap nya lantang. Rhea berpikir dia harus memiliki cukup uang ketika nanti dia didepak keluar rumah Theron.


Theron memiringkan wajahnya, dia menyentuh dagu Rhea sembari mengamati wajah Rhea "aku melarang" tegasnya.


"kenapa?" Rhea tak terima.


Theron menatap Rhea serius "aku memiliki segalanya, kau bisa menggunakannya semau mu. Kau tak perlu ragu menghabiskan berapa banyak, gunakan sesuka hatimu. Semua yang ku miliki adalah milikmu juga" Theron menggeluarkan black card dari dompetnya. Dia meraih tangan Rhea menyerahkan kartu itu padanya "jika kurang katakan pada ku" Theron tersenyum lembut.


Rhea mematung, tak percaya. Black Card di tangannya "aku tak mau" Rhea mengembalikan kartu itu ke tangan Theron, dia bergidik memegang black card yang jumlahnya tak main.


"Aku tak menerima barang yang telah ku berikan. Jadi aku menolak kau mengembalikannya. Ambilah!" Bisik Theron penuh penekanan.


Rhea menggeleng, mendorong Theron menjauh.


"Aku pria pemaksa" Theron mengusap lembut wajah Rhea "ku rasa kau tahu itu" tukasnya.


Bola mata Rhea membesar, Pria didepannya bersungguh atas apa yang dia ucapkan "akan sulit lepas dari cengkeraman serigala" benak Rhea. Rasanya ketakutan menyelimuti diri nya "kau hanya menginginkan anak ini, maka setelah anak ini lahir. lepaskan Aku" Rhea membuang muka.


Theron menggeleng "anak yang lahir membutuhkan ibunya, jadi kau harus tetap di posisi mu" Theron mencengkeram pelan pundak Rhea "jangan pernah bermimpi pergi dari ku Rhea!!" tekannya.


Rhea tak bisa berkata-kata, dia merasa sesak.


"wajah mu tampak pucat" Theron mengusap lembut rambut Rhea.


Rhea dengan pelan menepis tangan Theron "Aku ingin ke kamar" ucapnya, sembari bergegas meninggalkan Theron.


Theron menarik tangan Rhea "kenapa cepat-cepat" Theron tersenyum kecil.


Sungguh sifat Theron yang berubah menambah kesan menyeramkan untuk Rhea.


"Aku lelah, jadi lepaskan" Rhea meronta, memaksa Theron melepaskan pegangannya.


Suasana menjadi sunyi. Theron menatap Rhea yang sibuk meronta berusaha melepaskan pegangannya.


"kau masih takut dengan ku?" ucap Theron memecah keheningan.


Rhea berusaha terus melepas pegangan Theron "jelas kau sudah tahu"


Theron semakin mencengkeram kuat tangan Rhea. Dia menarik nya membuat Rhea jatuh ke dalam pelukannya "Lantas? bagaimana cara agar kau tak terus takut. Beri tahu aku!" Theron menyentuh pelan wajah Rhea.


Rhea bergidik "apa kau sadar sikapmu menakuti ku" pekik Rhea dengan pelupuk mata di penuhi air mata "sikapmu itu aneh" lirih Rhea.


Theron semakin memeluk Rhea erat "ini terjadi karena kau terus menolak. Aku pria yang tak sabaran" Theron mendekatkan wajahnya, hingga hidungnya menempel dengan Rhea "kau tahu Rhea, aku tak pandai bersikap baik. Namun aku mencobanya, tapi kau selalu menolaknya. Aku memutuskan kembali, menjadi diri ku" Theron memiringkan wajahnya.


Mereka saling menatap cukup lama.


"Jadi Aku akan sedikit memaksa" Theron mengecup pelan kening Rhea sembari melepaskan pegangannya.


Rhea bergegas berlari ke kamarnya, tangannya menyentuh kening yang baru di kecup Theron "dia menakutkan" gumam Rhea.


Theron tersenyum kecil, menatap ke arah Rhea yang tengah berlari "Ini mungkin lebih baik, daripada kau terus menangis" Theron menyibak kasar rambutnya.


Theron menaiki anak tangga, berjalan pelan menuju kamar Rhea. Theron masuk tanpa permisi ke kamar Rhea.


Rhea baru saja bernapas lega, sekarang di kejutkan dengan Theron yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk "harus nya Aku mengunci pintu" benak Rhea.


Theron meletakan Black card di meja "ini milikmu sekarang" tegas nya.


Theron mengamati kamar Rhea cukup lama, dia berjalan mendekati jendela, dia menyentuh kaca retak yang telah di perbaiki "kerjanya bagus" gumam Theron. Theron membuka laci yang dekat dengannya, dia mengernyit melihat pecahan ponsel di dalam nya "ini ponselmu?" ucap nya yang tampak marah.


"benar, Aku menghancurkannya" ucap pelan Rhea.


"kenapa kau tak memberi tahu ku" Theron menoleh menatap Rhea marah.


"kenapa harus memberi tahumu? kau tak sopan sembarang membuka laci ku" ketus Rhea.


"Aku memiliki hak melakukan apapun di rumah ini, Aku pemiliknya" jawab Theron.


Rhea menunduk "benar semua nya milikmu" Rhea tersenyum getir "dan Aku bukan siapa-siapa disini. Aku akan menjaga anak ini kau tenang saja, kau anggap saja Aku tak pernah ada, sembari menunggu anak mu lahir" Rhea mengigit bibirnya kuat, dia berusaha keras menahan tangis.