
Bergegas Theron melepas Rhea mengambil handuk yang terjatuh ke lantai kembali menggenakan nya.
Rhea menutup matanya dengan kedua tangannya tak berani menoleh, dia berlari kecil menaiki kasur menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Wajah Theron begitu merah padam, dia malu sendiri. Dia memang berniat menganggu Rhea agar terbiasa dengan dirinya, namun hal seperti ini malah terjadi. Memang mereka berstatus sebagai suami istri sah, bahkan mereka berdua sudah tahu milik masing-masing karena hal yang tak sengaja terjadi. Tetap saja itu memalukan bagi dua orang yang sama-sama tak berpengalaman.
Theron bergegas membuka lemari bajunya, memilih piyama yang akan dia kenakan. Kamar Theron tak memiliki sekat jadi apa yang Theron lakukan tampak jelas.
Rhea sedikit mengintip, tampak punggung Theron yang begitu lebar. Cepat-cepat Rhea mengalihkan pandangannya. Rhea agak terkejut, namun kali ini dia tak begitu merasa terancam seperti saat pertama berjumpa dengan Theron.
Theron bergegas mengenakan piyama tidur nya. Dia melirik ke arah Rhea yang masih menggulung dirinya dengan selimut, dia merasa canggung. Dia sibuk memikirkan kata untuk memulai percakapan dan menghilangkan kecanggungan antar kedua nya.
Theron mengepal kedua tangannya, dia merasa seperti anak kecil yang banyak pertimbangan hanya karena masalah perasaan. Dia merasa seperti bukan dirinya, sejak kapan dia menjadi pria yang peduli akan perasaan orang lain.
Theron mendekati Rhea, duduk di samping Rhea "kau tak perlu menggulung diri seperti ini" Theron berusaha melepas selimut yang menyelimuti Rhea.
"aku tak akan macam-macam. ku rasa.." Theron membuang muka.
Rhea menatap suaminya lekat, tanpa berbicara sepatah kata hanya memandang dalam diam.
Wajah tampan dengan badan yang diidam-idamkan banyak wanita. Bahkan yang ada pada tubuh Theron dari atas sampai bawah sesuai dengan khayalan banyak wanita mengenai kesempurnaan lelaki. Terbesit begitu banyak pertanyaan dalam diri Rhea, kenapa dirinya yang harus di seret. Dia sangat tampan tak mungkin dia tak memiliki kekasih, rasanya model seperti Theron akan memiliki banyak wanita di sekelilingnya. Memikirkan itu saja membuat Rhea kesal, dia mengalihkan pandangannya.
Sikap Rhea yang aneh menimbulkan pertanyaan pada Theron. Rhea yang menatap nya lalu dia juga yang tampak marah.
"kau kenapa?" ucap Theron pelan berusaha tak menyinggung, selama tinggal bersama Rhea, dia mencoba tuk memahaminya.
Rhea tak bergeming, dia merebahkan dirinya ke kasur, tidur membelakangi Theron sembari memeluk bantal dalam dekapan nya.
Theron menyentuh pelan punggung Rhea "jika kau tak mengatakannya, aku tak akan tahu" tukasnya.
"Siapa kekasih mu?" suara Rhea terdengar menekan.
Theron tersentak, rasanya dia mendengar sesuatu yang jika salah menjawab maka berakhir fatal "Kenapa kau bertanya hal semacam itu?!"
"jawab saja" ketus Rhea.
"kekasih aku tak memiliki hal seperti itu!!" jawab cepat Theron.
Rhea terkejut, tapi bersamaan mendengarnya dia lega "Bohong!!" gerutunya. Rhea tak ingin mudah percaya hanya karena beberapa kalimat yang di lontarkan itu.
"untuk apa aku berbohong, aku mengatakan hal yang benar-" Theron terdiam, Rhea menoleh ke arahnya memberi tatapan tajam. Wajah Rhea tampak masam, dia bagai kucing yang cemburu tuannya dekat dengan orang lain.
Theron ikut merebahkan tubuhnya di samping Rhea, melipat lengannya tuk di jadikan bantalan tidur.
"aku tak sempat mencintai, di cintai atau apapun hal menyangkut seperti itu" Theron menatap langit-langit kamar.
"Memang tak menutup kemungkinan banyak wanita yang mendekati ku. Tapi hati ini selalu menolaknya tegas" Theron mengeratkan gigi nya kuat. Bagi Theron kebencian atas tindakan Ayahnya pada mendiang Ibu nya begitu dalam sampai dia tak sempat untuk mencoba mencintai atau membalas cinta yang di tunjukan padanya. Dia takut berlaku sama seperti Ayahnya yang berakhir menghancurkan hati wanita karena keegoisan bahkan dengan teganya membunuh wanita yang menjadi istri dan Ibu dari anak nya sendiri. Tapi asumsi yang selalu dia tekannya pada dirinya rupanya tak sepenuhnya benar, memiliki seseorang di samping rasanya begitu menyenangkan. Perasaan untuk melindungi seseorang yang berharga semakin kuat, tak rela jika orang berharga itu tergores sekecil apapun. Dia tak akan sama seperti Ayahnya jika dari awal tak memiliki niat bertingkah seperti Ayahnya, semua karena kehendak diri. Bagaimana dia memandang dunia dan berlaku baik, maka dari itu dia akan memperlakukan Rhea lebih baik, membuatnya merasa aman agar tak bernasib seperti mendiang Ibundanya. Theron tahu Rhea ada disini di samping nya karena kesalahan, tak ada cinta di antar keduanya akan lebih baik jika saling menghargai itu saja cukup bagi Theron.
Rhea tampak semakin kesal mendengar jawaban Theron. Jawaban yang terkesan menyombongkan dirinya.
"Tak mungkin kau tak mengencani satu wanita?!" Rhea memastikan.
Theron berpikir sejenak, dia menggeleng cepat "tak pernah" tuturnya.
Maria Sandra Ibunda Theron, tak jauh berbeda dari anaknya. Dia dulunya seorang pemimpin organisasi Vantoni sebelum Kartel Yadies menguasai Vantoni. Pasca kematian Maria, Kartel terus memburu Theron yang menjadi bayang ketakutannya dan Theron terus menyembunyikan diri dari Kartel. Sejak kecil Theron hanya sibuk memikirkan tuk bertahan hidup dari kejaran musuh yang di tinggalkan Ibundanya itu. Dia yang selalu berpindah-pindah dan sibuk melatih diri tak sempat memikirkan sejauh itu. Jujur saja kesalahan ini suatu hal yang cukup bagus bagi Theron, karena jika tidak mungkin saja dia tak akan pernah menikah sebelum dia membalaskan dendamnya.
Theron menoleh ke arah Rhea yang juga tengah menatap nya sembari mendengar celotehnya dari tadi "Kau tak perlu memikirkan hal semacam itu. Aku memang bukan orang baik, tapi tak pernah sekalipun aku sibuk bermain wanita"
"namun, kau tak mungkin tak pernah mencintai wanita. Munafik jika kau berkata tidak" Rhea menarik piyama Theron kesal.
Theron tampak murung "Entah lah.. aku tak memiliki kesempatan itu" Theron tersenyum kecut.
"Lalu, bagaimana dengan mu Rhea ku. Mungkinkah pria kemarin yang kau cintai?!" Theron menyentuh dagu lancip Rhea lembut, tatapan nya begitu tajam.
Rhea tersenyum kecil "Dia teman ku, sebatas itu. Yeah, aku terlalu sibuk belajar dan belajar untuk menyenangkan Ayah. Tapi rupanya aku berakhir menjadi putri yang melukai hati Ayah sampai membekas tak tersembuhkan karena kecewa" Rhea memalingkan wajahnya, tangannya menyeka air mata yang hendak menetes.
"Kau langsung mengucapkannya padaku, si pelaku hancur nya hidupmu. Maafkan aku.." Theron bangun dari tidurnya, dia tampak gelisah.
"Lupakan saja, kita tak perlu terus menoleh ke belakang. Ehe.." Rhea tersenyum manis memeluk Theron dari belakang.